spot_img
BerandaHumanioraSetiap Dentang Bel Adalah Panggilan Jiwa: Kisah Sunyi di Lorong Pengabdian

Setiap Dentang Bel Adalah Panggilan Jiwa: Kisah Sunyi di Lorong Pengabdian

Saat tangannya menyentuh gagang pintu kelas, ia kembali menghela napas. Bukan karena ragu, tetapi karena sadar: di balik pintu itu, ada takdir-takdir kecil yang sedang menunggu untuk disentuh.

LESINDO.COM – Bel sekolah berdentang sekali lagi.
Suara logamnya menggema, memantul di dinding yang mulai kusam, lalu menyusup ke ruang hati seorang guru yang berdiri di ujung lorong. Ia menarik napas perlahan. Di tangannya bukan hanya buku dan spidol, tetapi juga beban harapan yang tak pernah ringan.

Lorong itu sempit, lantainya dingin, dan jendelanya berdebu. Namun di sanalah sebuah perjalanan sunyi selalu dimulai. Bukan sekadar menuju ruang kelas, melainkan menapak ke ruang pengabdian—tempat lelah disimpan, dan doa dititipkan.

Setiap langkah terasa seperti irama dalam simfoni panjang bernama pengabdian.
Ubin-ubin menjadi saksi, bahwa di antara ribuan tapak kaki yang pernah melintas, ada satu langkah yang memilih untuk terus datang—meski gaji tak selalu setimpal, meski beban administrasi kerap menyesakkan, meski dunia di luar kerap lupa bahwa di sinilah masa depan dibentuk.

Di balik pintu kelas yang tertutup, puluhan pasang mata menunggu.
Ada yang datang membawa mimpi, ada yang memikul luka, ada pula yang belum tahu apa yang ingin ia menjadi. Mereka duduk rapi, tapi jiwa mereka berkelana, mencari arah. Dan sang guru—dengan segala keterbatasannya—datang bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai penuntun.

“Di sini aku tidak hanya mengajar,” gumamnya dalam hati.
“Aku sedang memahat peradaban.”

Ia sadar, satu kalimat bisa menjadi jembatan, tetapi juga bisa menjadi jurang. Maka ia memilih kata dengan hati-hati, seperti menanam benih di tanah yang rapuh. Ia tahu, mungkin tak semua akan tumbuh. Namun ia tetap menanam, karena harapan adalah tugas yang tak boleh ditinggalkan.

Lorong itu pun menjadi ruang antara.
Tempat ia menanggalkan lelah pribadi, dan mengenakan jubah keikhlasan.
Tempat ia mengubah kegelisahan menjadi kesabaran, dan keterbatasan menjadi kekuatan.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu kelas, ia kembali menghela napas.
Bukan karena ragu, tetapi karena sadar: di balik pintu itu, ada takdir-takdir kecil yang sedang menunggu untuk disentuh.

Dan ketika pintu terbuka, ia masuk bukan sebagai manusia biasa—
melainkan sebagai pelita kecil di tengah gelap yang panjang.

Karena mendidik bukan sekadar pekerjaan.
Ia adalah ibadah yang berjalan pelan di lorong sunyi,
menuju masa depan yang belum bernama. (Fik)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments