Oleh : Lembah Manah
Potret Sunyi di Balik Penyamaran Pramugari Gadungan
LESINDO.COM- Di bandara, seragam bukan sekadar kain. Ia adalah tanda pengenal, simbol disiplin, dan kepercayaan. Maka ketika seorang perempuan muda melangkah mantap mengenakan seragam pramugari Batik Air—lengkap dengan atribut dan koper maskapai—tak ada yang curiga. Hingga akhirnya, seragam itu berbicara lebih jujur daripada pemakainya.
Khairun Nisya, 23 tahun, asal Palembang, diamankan petugas Aviation Security (Avsec) Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (6/1/2026). Ia diduga menyamar sebagai pramugari dalam penerbangan Palembang–Jakarta. Bukan penyusup gelap, bukan pula pelaku sabotase. Ia penumpang sah, memegang tiket resmi, duduk di kabin dengan tenang—namun mengenakan identitas yang bukan miliknya.
Penyamaran itu runtuh bukan karena alat deteksi canggih, melainkan oleh pertanyaan sederhana dari pramugari asli: “Tugas Anda hari ini apa?”
Di sanalah detail kecil menjadi besar. Corak seragam berbeda. ID card tak sesuai standar. Dan mimpi yang dijahit rapi mulai terurai benangnya.
Antara Malu dan Pengakuan
Menurut keterangan kepolisian, Nisya tidak memiliki niat jahat. Ia mengaku terdesak oleh rasa malu. Sebelumnya, ia gagal lolos seleksi pramugari. Namun kepada keluarga, ia telah terlanjur berkata sebaliknya—bahwa dirinya diterima. Kebohongan kecil yang dibiarkan tumbuh, hingga akhirnya menuntut pembuktian.
Dalam psikologi sosial, kondisi ini dikenal sebagai self-presentation pressure—tekanan untuk mempertahankan citra diri di hadapan orang-orang terdekat. Pada usia dewasa awal, identitas personal sering kali rapuh, mudah goyah oleh standar keberhasilan sosial: pekerjaan bergengsi, seragam yang membanggakan, status yang diakui.
Seragam pramugari, bagi Nisya, bukan sekadar profesi. Ia adalah jawaban atas ekspektasi. Penawar rasa gagal. Penutup luka harga diri.
Ketika Pikiran Mencari Jalan Pintas
Dari sudut pandang kesehatan mental, tindakan Nisya mencerminkan konflik batin antara realitas dan ideal diri. Ia tidak melawan hukum dengan niat kriminal, melainkan terjebak dalam mekanisme pertahanan psikologis: denial (penyangkalan) dan compensation (kompensasi).
Ia memilih jalan pintas yang secara logika keliru, tetapi secara emosional terasa “menyelamatkan”. Dalam kondisi tertekan, manusia kerap lebih takut pada penilaian sosial dibanding konsekuensi hukum. Rasa malu—emosi yang sunyi namun kuat—dapat mendorong seseorang bertindak di luar nalar sehat.
Bandara, Cermin yang Retak
Kasus ini memang menimbulkan pertanyaan serius soal keamanan dan pengawasan. Namun di balik itu, ada potret generasi muda yang bergulat dengan ekspektasi, kegagalan, dan ketakutan untuk jujur tentang kalah.
Nisya telah meminta maaf kepada Batik Air dan Lion Group. Ia menangis, menurut petugas, saat dimintai keterangan. Tangis yang bukan hanya karena tertangkap, tetapi karena beban yang akhirnya runtuh.
Seragam itu kini disita. Tapi yang lebih penting: pelajaran yang tertinggal.
Epilog: Kejujuran yang Datang Terlambat
Tak semua kebohongan lahir dari niat jahat. Sebagian tumbuh dari ketidakmampuan menerima diri sendiri apa adanya. Di ruang tunggu bandara, di antara koper dan pengumuman keberangkatan, seorang anak muda belajar bahwa menjadi diri sendiri—meski gagal—lebih aman daripada meminjam identitas orang lain.
Karena pada akhirnya, seragam bisa dilepas.
Namun kejujuran adalah pakaian batin yang tak bisa dipalsukan.

