LESINDO.COM – Di pagi hari Idulfitri, ketika udara masih menyimpan sisa dingin malam dan gema takbir perlahan mereda, meja-meja di rumah-rumah Jawa mulai dipenuhi hidangan yang tak sekadar menggugah selera. Di antara uap hangat yang mengepul, tampak anyaman janur berbentuk segi empat dan semangkuk kuah santan kekuningan—ketupat dan opor ayam. Keduanya hadir bukan hanya sebagai menu Lebaran, melainkan sebagai jejak panjang perjumpaan budaya, keyakinan, dan kebijaksanaan lokal.
Konon, pada abad ke-15, seorang wali yang dikenal lentur dalam berdakwah, Sunan Kalijaga, membaca dengan jeli kebiasaan masyarakat Jawa yang telah akrab dengan simbol-simbol alam dan ritual agraris. Anyaman janur yang sebelumnya digunakan dalam tradisi pemujaan kesuburan tidak serta-merta dihapus, melainkan diberi makna baru. Dari sanalah lahir ketupat—atau kupat—yang kemudian diperkenalkan dalam momentum Bakda Lebaran dan Bakda Kupat, sepekan setelah hari raya.
Di tangan Sunan Kalijaga, ketupat menjelma lebih dari sekadar makanan. Ia menjadi bahasa simbolik yang halus. Dalam tradisi tutur Jawa, “kupat” dimaknai sebagai “ngaku lepat”—mengakui kesalahan. Sebuah ajakan untuk menundukkan ego dan membuka pintu maaf. Tak berhenti di situ, kupat juga menyimpan ajaran “laku papat”: lebaran, luberan, leburan, dan laburan. Empat laku ini bukan sekadar rangkaian kata, melainkan siklus batin manusia—dari menahan diri, berbagi, melebur dosa, hingga kembali bersih seperti awal.
Bentuk anyamannya yang rumit seakan mencerminkan liku-liku kesalahan manusia. Namun ketika dibelah, isi ketupat berwarna putih bersih—sebuah metafora sederhana tentang harapan: bahwa di balik kerumitan hidup, selalu ada kemungkinan untuk kembali jernih.
Di samping ketupat, opor ayam hadir melengkapi. Kuahnya yang gurih dan lembut bukan hanya hasil racikan dapur, melainkan jejak panjang akulturasi. Dari jalur perdagangan dan perjumpaan budaya, teknik memasak berbumbu dan bersantan dari India dan Arab bertemu dengan kebiasaan kuliner masyarakat Tionghoa yang akrab dengan olahan ayam. Di tangan masyarakat Jawa, semua pengaruh itu dilebur, disesuaikan, lalu dilahirkan kembali dalam bentuk yang lebih halus dan bersahaja: opor ayam.
Perpaduan ketupat dan opor ayam, pada akhirnya, bukan hanya soal rasa yang saling melengkapi—yang satu tawar, yang lain gurih—melainkan juga pertemuan makna. Dalam ungkapan Jawa yang kerap terdengar lirih di antara senyum dan jabat tangan, “kupat santen, sedoyo lepat nyuwun ngapunten,” tersimpan inti dari seluruh perayaan: pengakuan, kerendahan hati, dan keinginan untuk kembali merajut hubungan yang sempat renggang.
Lebaran, dengan segala hidangannya, menjadi ruang di mana manusia tidak hanya merayakan kemenangan spiritual, tetapi juga meneguhkan kembali jalinan kemanusiaan. Dan di antara piring-piring yang tersaji, ketupat dan opor ayam terus bercerita—tentang masa lalu yang bernegosiasi, tentang budaya yang saling menyapa, dan tentang hati manusia yang selalu mencari jalan pulang. (Ade)

