spot_img
BerandaHumanioraSeoraksan: Di Antara Batu, Salju, dan Keheningan yang Berbicara

Seoraksan: Di Antara Batu, Salju, dan Keheningan yang Berbicara

Seoraksan bukan sekadar objek wisata. Ia adalah guru yang diam. Mengajarkan kesabaran melalui tanjakan, kerendahan hati melalui ketinggian, dan keheningan sebagai bentuk kebijaksanaan. Datanglah lebih awal, kenakan sepatu yang tepat, dan periksa cuaca—bukan semata demi kenyamanan, melainkan sebagai wujud etika terhadap alam.

LESINDO.COM – Di timur laut Korea Selatan, ketika fajar masih ragu memecah kabut, Pegunungan Taebaek berdiri seperti barisan penjaga zaman. Di sanalah Taman Nasional Seoraksan membentangkan wajahnya—keras oleh batu granit, namun lembut oleh keheningan. Banyak orang menyebutnya gunung tercantik di Negeri Ginseng, bukan semata karena ketinggian atau lanskapnya, melainkan karena Seoraksan memiliki cara sendiri untuk berbicara kepada siapa pun yang bersedia berjalan perlahan dan mendengarkan.

Nama Seorak—Gunung Salju Besar—lahir dari tebing-tebing pucat yang tampak seperti diselimuti salju bahkan ketika musim telah berganti. Puncak tertingginya, Daecheongbong (1.708 mdpl), menjadi mahkota sunyi yang memandang lembah, hutan, dan jejak manusia dengan jarak yang bijaksana. Di sinilah alam dan sejarah saling bersinggungan, membentuk ruang kontemplasi yang tak lekang oleh waktu.

Jejak Spiritual di Gerbang Gunung

Langkah pertama di Seoraksan sering kali dimulai bukan dengan tanjakan terjal, melainkan dengan kesenyapan. Di dekat pintu masuk taman, berdiri Kuil Sinheungsa, saksi bisu perjalanan panjang Buddhisme Korea. Di depannya, patung Buddha perunggu setinggi 18 meter berdiri tegak, wajahnya tenang memandang arah utara—simbol harapan akan perdamaian dan penyatuan Korea.

Tak sedikit pengunjung yang berhenti sejenak, bukan untuk berdoa, melainkan sekadar mengatur napas. Di sini, gunung seakan mengingatkan: perjalanan ke atas selalu diawali dengan merendah.

Ulsanbawi: Tangga Menuju Kekaguman

Jika Seoraksan memiliki wajah dramatis, maka Ulsanbawi Rock adalah ekspresi paling berani. Enam puncak granit raksasa menjulang seperti pahatan dewa, menantang siapa pun yang ingin mendekat. Perjalanan ke sana bukan perkara ringan—sekitar 800 anak tangga besi harus dilalui, satu demi satu, dengan napas yang semakin berat dan kaki yang mulai berkompromi.

Namun, di setiap hentakan langkah, pemandangan kian terbuka. Ketika akhirnya tiba di atas, angin berembus lebih dingin, dan dunia di bawah tampak mengecil. Di titik ini, kelelahan berubah menjadi takzim. Seoraksan tidak menawarkan kemudahan, tetapi menghadiahi mereka yang bertahan dengan panorama yang nyaris tak bisa dijelaskan oleh kata.

Benteng, Kabel, dan Waktu yang Berlapis

Bagi mereka yang ingin menikmati ketinggian tanpa peluh panjang, Gwongeumseong Fortress menawarkan jalan lain. Kereta gantung meluncur perlahan, hanya lima menit, membawa pengunjung menembus lereng curam menuju reruntuhan benteng kuno. Dari atas, garis-garis pegunungan tampak berlapis-lapis, seolah waktu menumpuk di hadapan mata.

Benteng ini bukan sekadar sisa batu. Ia adalah pengingat bahwa Seoraksan pernah menjadi bagian dari sejarah pertahanan, tempat manusia berusaha melindungi diri di tengah alam yang tak pernah benar-benar bisa ditaklukkan.

Air, Hutan, dan Jalan yang Lebih Ramah

Tak semua sudut Seoraksan menuntut keberanian ekstrem. Jalur menuju Air Terjun Biryong mengalir santai, mengikuti ritme sungai dan jembatan gantung. Suara air jatuh berpadu dengan dedaunan, menciptakan irama alam yang menenangkan. Di jalur ini, keluarga, pejalan santai, dan pencari ketenangan menemukan ruangnya masing-masing.

Seoraksan memahami bahwa setiap orang datang dengan niat berbeda: ada yang mengejar puncak, ada pula yang sekadar ingin pulang dengan hati yang lebih ringan.

Empat Musim, Empat Wajah

Keistimewaan Seoraksan terletak pada kemampuannya berganti wajah tanpa kehilangan jati diri. Musim gugur adalah puncak pesonanya—merah, oranye, dan kuning menyala di setiap lereng, menjadikan gunung seperti kanvas hidup yang terus berubah. Musim dingin membawa kesunyian lain: salju membekukan waktu, dan tebing granit tampak semakin agung. Musim semi menghadirkan bunga azalea, sementara musim panas menawarkan hijau yang pekat dan udara pegunungan yang menyegarkan.

Tak ada musim yang benar-benar salah. Yang ada hanyalah kesiapan pengunjung untuk menerima apa yang disuguhkan alam.

Menuju Seoraksan: Perjalanan yang Menjadi Bagian Cerita

Dari Seoul, perjalanan sekitar tiga jam menuju Sokcho terasa seperti peralihan dunia—dari hiruk-pikuk metropolitan ke ritme pesisir dan pegunungan. Bus antarkota membawa pelancong ke kaki Seoraksan, lalu bus lokal mengantar hingga gerbang taman nasional. Sisanya, kaki dan waktu yang berbicara.

Kini, akses menuju kawasan kuil telah digratiskan, sebuah kebijakan yang membuat Seoraksan semakin terbuka bagi siapa saja. Namun, seperti alam pada umumnya, gunung ini tetap meminta satu hal: penghormatan.

Pelajaran dari Gunung

Seoraksan bukan sekadar objek wisata. Ia adalah guru yang diam. Mengajarkan kesabaran melalui tanjakan, kerendahan hati melalui ketinggian, dan keheningan sebagai bentuk kebijaksanaan. Datanglah lebih awal, kenakan sepatu yang tepat, dan periksa cuaca—bukan semata demi kenyamanan, melainkan sebagai wujud etika terhadap alam.

Sebab pada akhirnya, Seoraksan tidak hanya menawarkan pemandangan indah untuk dibawa pulang dalam foto. Ia meninggalkan jejak yang lebih halus: rasa kecil di hadapan semesta, dan kesadaran bahwa keindahan sejati sering kali menuntut kita untuk berjalan perlahan, dengan hati yang terbuka.(Ros)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments