LESINDO.COM – Pagi selalu datang tepat waktu. Tetapi bagi sebagian orang, pagi tak pernah benar-benar hadir. Ia hanya lewat sebagai latar belakang kesibukan: dering ponsel, notifikasi perbankan, laporan yang belum selesai. Di meja makan, secangkir kopi mendingin tanpa sempat diseruput perlahan. Bukan karena tak ada waktu, melainkan karena pikiran sudah lebih dulu berlari ke angka-angka.
Dalam peradaban yang mengukur keberhasilan lewat kepemilikan, menimbun harta kerap dianggap sebagai tanda kedewasaan hidup. Rumah bertambah, aset melebar, rekening menebal. Namun di balik grafik pertumbuhan itu, ada sesuatu yang menyusut pelan-pelan: kemampuan merasakan hidup itu sendiri.
Ia—sebut saja namanya tidak penting—menjalani hari dengan ritme yang nyaris mekanis. Makan siang bukan jeda untuk bernapas, melainkan agenda yang harus segera dituntaskan. Piring boleh berganti menu, tapi rasanya seragam: hambar oleh kecemasan. Lidah bekerja, tetapi kesadaran tak ikut makan. Semua terasa sekadar “masuk”, lalu selesai.
“Kerja keras sekarang, menikmati nanti,” begitu mantra yang sering diulang. Sayangnya, kata “nanti” tak pernah jelas penanggalannya. Ketika target tercapai, target baru segera dipasang. Ketika satu kecemasan reda, kecemasan lain sudah menunggu. Harta yang awalnya dijanjikan sebagai penopang rasa aman, perlahan berubah menjadi beban pengawasan—harus dijaga, dihitung, ditambah, dan ditakuti kehilangannya.
Di ruang-ruang publik—restoran mahal, ruang rapat berpendingin udara, atau kursi kelas bisnis—ia duduk dengan wajah tenang, tetapi batinnya gelisah. Percakapan berlangsung, tetapi perhatian tercecer. Ia hadir secara fisik, absen secara batin. Senja mungkin jatuh indah di balik jendela, tetapi tak pernah benar-benar disadari. Pemandangan itu kalah penting dibanding fluktuasi nilai dan proyeksi keuntungan.
Tidur pun tak sepenuhnya menjadi tempat pulang. Tubuh beristirahat, pikiran berjaga. Kekhawatiran tentang “belum cukup” terus berulang, seperti iklan yang tak bisa dilewati. Dalam kondisi seperti itu, harta bukan lagi alat, melainkan identitas. Dan identitas itu rapuh: sedikit goyah, seluruh rasa aman ikut runtuh.
Baru ketika usia merambat pelan, ketika tubuh mulai meminta perhatian yang dulu diabaikan, kesadaran itu datang—terlambat dan sunyi. Waktu yang selama ini dianggap bisa dikejar atau dibeli, ternyata hanya bisa dijalani. Tawa yang ditunda tak bisa dipanggil ulang. Percakapan hangat yang dilewatkan tak bisa diarsipkan seperti laporan keuangan.
Pada titik itu, harta yang terkumpul berdiri sebagai saksi bisu. Ia tak sepenuhnya salah, tetapi juga tak pernah cukup untuk menggantikan hidup yang terlewat. Yang tersisa adalah pertanyaan sederhana, nyaris naif, namun menghantam: kapan terakhir kali hidup benar-benar dinikmati, bukan sekadar dijalani?
Feature ini bukan tentang mengutuk kekayaan, melainkan tentang mengingatkan. Bahwa hidup bukan sekadar proyek akumulasi. Ia adalah rangkaian momen kecil—suapan yang disyukuri, waktu yang dihadiri, rasa yang dirasakan penuh. Dan ketika semua itu dilewati demi “nanti”, bisa jadi yang datang justru kesunyian panjang bernama penyesalan. (Hib)

