LESINDO.COM – Sendiri bukanlah kekurangan. Ia bukan tanda ditinggalkan, bukan pula kegagalan dalam mencintai dunia. Sendiri adalah ruang—tempat paling jujur bagi manusia untuk duduk berhadapan dengan dirinya sendiri tanpa topeng, tanpa penonton, tanpa keharusan menjadi siapa pun selain dirinya.
Di saat sendiri, tidak ada tuntutan untuk menjelaskan siapa kita kepada orang lain. Tidak ada beban untuk menyenangkan. Tidak ada kecemasan untuk diterima. Yang tersisa hanyalah dialog paling sunyi, namun paling bermakna: percakapan antara hati dan kesadaran.
Di sanalah kita mulai mendengar hal-hal yang selama ini tertimbun oleh hiruk pikuk. Tentang luka yang belum sembuh, tentang mimpi yang hampir dilupakan, tentang nilai yang perlahan bergeser karena terlalu lama ingin dimengerti orang lain. Sendiri mengembalikan kita pada pertanyaan-pertanyaan mendasar: siapa aku, ke mana aku pergi, dan untuk apa aku bertahan?
Banyak orang takut sendiri karena mengira sunyi akan membuka pintu kesedihan. Padahal yang sebenarnya terjadi, sunyi justru membuka pintu kejujuran. Ia memaksa kita jujur pada rasa lelah, kecewa, ragu, dan takut—hal-hal yang sering kita sembunyikan di balik senyum dan rutinitas.
Sendiri adalah tempat perenungan, sekaligus tempat berdiskusi dengan diri sendiri. Di sanalah kita menimbang ulang keputusan, menyaring kembali arah, dan meneguhkan kembali alasan kita melangkah. Bukan untuk mengasingkan diri dari dunia, melainkan untuk kembali ke dunia dengan jiwa yang lebih utuh.
Sebab manusia yang tidak pernah sendiri, perlahan akan kehilangan dirinya. Ia terlalu sibuk mendengar suara luar hingga lupa suara batinnya sendiri. Ia hidup sesuai tuntutan, bukan sesuai kesadaran.
Maka, jangan terburu-buru melarikan diri dari sunyi. Duduklah sejenak di dalamnya. Biarkan ia membersihkan, bukan menghakimi. Karena di dalam sendiri, kita tidak menjadi lebih kecil—kita justru sedang tumbuh. (Cha)

