spot_img
BerandaJelajahSelama Napas Belum Pamit, Laporan Hidup Belum Ditutup

Selama Napas Belum Pamit, Laporan Hidup Belum Ditutup

Ada satir sunyi yang bekerja di sini. Manusia kerap mengumumkan hidupnya “sudah selesai” dengan nada resmi, padahal napas belum pernah mengonfirmasi pengumuman itu. Tubuh tetap bangun setiap pagi, paru-paru tetap menjalankan tugasnya, darah tetap berkeliling tanpa banyak protes

LESINDO.COM – Di negeri yang gemar tergesa-gesa menyimpulkan nasib, manusia mudah sekali memberi cap pada hidupnya sendiri. Gagal sedikit, disebut tamat. Tersandung sebentar, langsung merasa kisahnya telah usai. Napas pun direduksi menjadi rutinitas biologis—datang tanpa diminta, pergi tanpa pamit—seakan ia tak membawa pesan apa pun selain urusan medis. Padahal, di balik kesederhanaannya, setiap tarikan dan hembusan adalah bentuk kesetiaan paling purba yang masih dipraktikkan tubuh, bahkan ketika pikiran sudah lebih dulu menyerah dan hati sibuk mengajukan surat pengunduran diri dari harapan.

Kita hidup di zaman yang menyukai kepastian instan. Maka Tuhan pun sering kita minta berbicara dengan bahasa yang serba besar: suara petir, mukjizat yang viral, rezeki jatuh dari langit tanpa perlu jatuh bangun. Doa kadang diperlakukan seperti proposal proyek—lengkap dengan target, tenggat waktu, dan harapan persetujuan segera. Ironisnya, di tengah penantian yang penuh tuntutan itu, kita luput membaca pesan yang paling konsisten dan paling setia: hidup itu sendiri. Jantung yang masih berdetak kita anggap biasa, sampai suatu hari ia berhenti, dan barulah kita sadar bahwa selama ini kita diberi kesempatan tanpa perlu rapat evaluasi, tanpa formulir, tanpa tanda tangan.

Ada satir sunyi yang bekerja di sini. Manusia kerap mengumumkan hidupnya “sudah selesai” dengan nada resmi, padahal napas belum pernah mengonfirmasi pengumuman itu. Tubuh tetap bangun setiap pagi, paru-paru tetap menjalankan tugasnya, darah tetap berkeliling tanpa banyak protes. Seolah ada suara lirih dari dalam diri yang berkata, Silakan mengeluh, silakan merasa lelah, tapi kami belum tutup layanan. Dan di keheningan itu, Tuhan mungkin sedang tersenyum kecil—bukan mengejek, melainkan mengingatkan bahwa kasih-Nya tidak selalu datang dalam kemasan besar dan dramatis. Kadang ia hadir sebagai keberlanjutan: hidup yang masih berjalan meski tertatih.

Kita sering lupa bahwa hidup bukan lomba siapa yang paling cepat sampai pada kesimpulan. Ia lebih menyerupai perjalanan panjang dengan banyak persinggahan, tempat kita belajar pelan-pelan membaca makna. Kisah hidup, sebagaimana berita feature yang baik, tidak ditentukan oleh paragraf pembuka semata. Masa lalu hanyalah latar, bukan vonis yang mengunci masa depan. Luka, kegagalan, dan penyesalan adalah konteks, bukan akhir cerita. Makna justru lahir dari keberanian untuk bertahan hari ini—hari yang mungkin terasa biasa, mungkin melelahkan, bahkan membosankan, tetapi masih layak dijalani.

Bertahan sering kali tidak terdengar heroik. Ia tidak selalu disertai tepuk tangan atau pengakuan. Namun justru di sanalah kebijaksanaan bekerja: ketika seseorang memilih bangun meski tidak bersemangat, memilih berbuat baik meski hatinya letih, memilih berharap meski masa depan belum memberi alamat yang jelas. Selama napas belum pamit, selalu ada ruang untuk belajar mengampuni, memperbaiki diri, mengasihi dengan cara yang lebih dewasa, dan menata ulang harapan yang sempat runtuh tanpa perlu menyalahkan siapa pun.

Dan barangkali, di situlah humor lembut kehidupan menemukan bentuknya. Kita mengira segalanya sudah berakhir, lalu esok pagi masih terbangun. Kita merasa cerita ini tak lagi penting, namun hidup diam-diam masih menyediakan satu paragraf lagi untuk ditulis—dengan tinta kesabaran, jeda, dan keikhlasan. Selama napas masih setia keluar dan masuk, laporan hidup belum ditutup. Masih ada waktu, masih ada makna, dan selalu ada kemungkinan untuk menemukan terang, meski datangnya pelan dan nyaris tak bersuara. (Fik)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments