LESINDO.COM – Di ruang kelas, pendidikan sering dipuja seperti mantra suci. Ia disebut sebagai jalan pembentukan watak, penuntun kebijaksanaan, dan fondasi peradaban. Spanduk-spanduk berbunyi indah: mencetak generasi berkarakter, membangun manusia seutuhnya. Namun ketika bel pulang berbunyi dan para lulusan melangkah ke dunia nyata, sering kali yang tersisa hanyalah kemampuan menghafal—tanpa sempat benar-benar memahami makna menjadi manusia.
Pendidikan, dalam praktik sehari-hari, kerap lebih sibuk mengisi kepala daripada menata nurani. Pikiran dijejali rumus, definisi, dan target nilai, sementara ruang refleksi dipersempit oleh jadwal, ujian, dan administrasi. Murid dilatih cepat menjawab, bukan pelan berpikir. Yang lambat merenung sering tertinggal; yang gesit mencontek justru lolos sistem.
Di sekolah, berpikir jernih sering kalah oleh kunci jawaban. Logika disubordinasikan oleh pilihan ganda. Murid belajar bahwa yang terpenting bukan memahami persoalan, melainkan memilih huruf yang benar. Dari sini lahir generasi yang cakap menjawab soal, tetapi gagap menghadapi masalah hidup yang tak menyediakan opsi A, B, C, atau D.
Kesadaran diri pun tumbuh setengah hati. Pendidikan mengajarkan prestasi, tetapi jarang mengajarkan kejujuran pada diri sendiri. Anak didik berlomba menjadi yang terbaik di atas kertas, meski sering tak sempat mengenali batas dan kekuatannya. Kerendahan hati kalah pamor dibanding ranking. Yang penting terlihat pintar, meski rapuh di dalam.
Soal tanggung jawab, pendidikan rajin memberi tugas, tetapi pelit memberi teladan. Murid dihukum jika terlambat, sementara sistem sering absen tepat waktu. Dari sini, tanggung jawab dipahami sebatas kewajiban ke bawah, bukan kesadaran ke dalam. Luluslah manusia yang pandai menyalahkan keadaan, tetapi kikuk mengoreksi diri.
Nilai moral dan etika pun sering diperlakukan sebagai mata pelajaran tambahan—penting, tetapi tidak menentukan kelulusan. Kejujuran diajarkan di papan tulis, namun dinegosiasikan di ruang ujian. Anak-anak belajar satu pelajaran penting: nilai bisa lebih berharga daripada nilai-nilai.
Pendidikan juga rajin menguji emosi, tetapi jarang mengajarkan cara mengelolanya. Tekanan akademik, kompetisi, dan stigma gagal menumpuk tanpa ruang dialog yang sehat. Maka tak heran, lahir generasi berijazah tinggi dengan kesabaran rendah, mudah marah, dan alergi pada perbedaan.
Wawasan memang terbuka—informasi dihafal lintas disiplin—tetapi empati sering tertinggal. Pendidikan mengenalkan dunia, namun lupa mengajarkan cara mendengarkan sesama. Perbedaan dipelajari sebagai teori, bukan dihayati sebagai kenyataan hidup.
Refleksi, yang seharusnya menjadi jantung pendidikan, sering kalah oleh laporan akhir semester. Kesalahan ditakuti karena mengancam nilai, bukan dipelajari sebagai bahan pertumbuhan. Padahal dari kegagalanlah watak ditempa. Tanpa refleksi, pendidikan berubah menjadi pabrik lulusan: seragam, cepat saji, dan mudah retak.
Akhirnya, pendidikan yang semestinya melahirkan kebijaksanaan justru sering menghasilkan kepintaran tanpa kedewasaan. Banyak yang tahu banyak hal, tetapi bingung bersikap. Banyak yang cerdas berdebat, tetapi miskin empati. Banyak yang lulus dengan nilai tinggi, namun gagap menata hidup dan relasi.
Satirnya, pendidikan tetap disebut sukses selama angka-angka naik dan sertifikat tercetak. Watak bisa menyusul nanti—entah kapan.
Padahal, jika pendidikan sungguh dijalani sebagai perjalanan pembentukan manusia, ia tak hanya akan melahirkan orang-orang yang tahu, tetapi manusia yang paham: paham batasnya, paham tanggung jawabnya, dan paham bahwa hidup bukan sekadar soal lulus, melainkan soal menjadi.
Di situlah pendidikan seharusnya berhenti menjadi slogan, dan mulai menjadi laku. (Gel)

