spot_img
BerandaBudayaSabdo Pandito Ratu: Ketika Kata-Kata Menjadi Titah Nasib

Sabdo Pandito Ratu: Ketika Kata-Kata Menjadi Titah Nasib

Pada akhirnya, Sabdo Pandito Ratu bukanlah ajian untuk menaklukkan orang lain, melainkan disiplin untuk menaklukkan diri sendiri. Ia mengajarkan bahwa menjaga lisan berarti menjaga arah hidup.

Oleh : Dhen Ba Gus e Ngarso

LESINDO.COM – Di sebuah pendapa tua di pinggir desa Jawa, seorang sesepuh pernah berpesan lirih kepada cucunya, “Nek kowe durung bisa njaga lambe, ojo kepengin dadi wong gedhe.”
Kalimat itu sederhana, namun di sanalah tersimpan inti falsafah Jawa yang telah hidup berabad-abad: kata-kata bukan sekadar alat komunikasi, melainkan kekuatan yang menentukan arah hidup.

Dalam khazanah spiritual Jawa, ajaran itu dikenal sebagai Sabdo Pandito Ratu—sebuah konsep yang menempatkan lisan manusia pada derajat sakral, sejajar dengan doa dan takdir.

Kata yang Tak Lagi Netral

Sabdo Pandito Ratu tidak lahir dari dongeng kanuragan atau mitos kesaktian instan. Ia tumbuh dari kesadaran etis dan spiritual yang mendalam. Sabdo berarti kata atau ucapan. Pandito melambangkan manusia yang telah membersihkan batinnya, sementara Ratu mencerminkan keteguhan kehendak dan tanggung jawab kekuasaan.

Ketika dua unsur ini menyatu dalam diri seseorang, maka setiap kata yang diucapkan bukan lagi bunyi kosong. Ia berubah menjadi titah—ucapan yang memiliki bobot moral dan daya spiritual.

Orang Jawa menyebutnya dengan ungkapan tajam:
“Idune geni, pangucape dadi.”
Ludahnya seperti api, ucapannya menjadi kenyataan.

Namun, kekuatan itu bukan hadiah, melainkan konsekuensi dari laku panjang.

Laku: Jalan Sunyi Sebelum Sabda

Dalam pandangan hidup Jawa, manusia adalah jagad cilik yang hidup di dalam jagad gede—alam semesta. Agar kata-kata memiliki daya “mandi” (mujarab), seseorang harus lebih dulu menyelaraskan keduanya.

Itulah sebabnya Sabdo Pandito Ratu tidak dimiliki oleh mereka yang gemar berkoar, apalagi mereka yang lisannya didorong oleh amarah dan ambisi. Ia justru lahir dari mereka yang telah “selesai dengan dirinya sendiri”: mampu menundukkan hawa nafsu, menata pikiran, dan membersihkan rasa.

Tirakat, semedi, menahan diri, dan kejujuran batin menjadi prasyarat. Dalam kondisi itulah, hati menjadi bening seperti cermin. Pikiran, perasaan, dan ucapan berjalan dalam satu garis lurus. Tidak ada jarak antara yang dipikirkan dan yang diucapkan.

Pada titik ini, kata menjadi tanggung jawab spiritual.

Antara Doa dan Kutukan

Filosofi Sabdo Pandito Ratu membuat orang Jawa sangat berhati-hati dalam berbicara. Ucapan diyakini sebagai benih. Ia akan tumbuh sesuai dengan kualitas tanah batin tempat ia ditanam.

Kata-kata yang kasar, penuh dendam, atau pesimisme bukan hanya melukai orang lain, tetapi perlahan membangun nasib yang gelap bagi pengucapnya sendiri. Sebaliknya, lisan yang dijaga dengan welas asih dan kebijaksanaan adalah doa yang sedang bergerak menuju perwujudannya.

Tak heran jika pepatah seperti “Ojo dumeh”, “Jogo lambe”, dan “Ajining diri dumunung ono ing lathi” menjadi etika sosial yang begitu kuat. Bagi orang Jawa, kehormatan tidak terletak pada suara keras atau jabatan tinggi, melainkan pada kemampuan mengendalikan lidah.

Tiga Gerbang Sebelum Bicara

Dalam praktik keseharian, ajaran Sabdo Pandito Ratu mengajarkan disiplin batin yang konkret. Setiap kata idealnya melewati tiga gerbang kesadaran:

  1. Kebenaran – Apakah yang akan diucapkan benar adanya, atau sekadar asumsi dan emosi?
  2. Kebaikan – Apakah kata tersebut membawa manfaat, atau justru melukai?
  3. Kebutuhan – Apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakannya?

Jika satu saja gerbang tertutup, diam dianggap sebagai bentuk kebijaksanaan tertinggi.

Relevansi di Zaman Riuh Digital

Di era media sosial, kata-kata dilemparkan dengan kecepatan cahaya dan tanpa beban batin. Lisan berpindah ke jari, namun tanggung jawabnya tetap sama. Ujaran kebencian, hoaks, dan sumpah serapah digital menjadi bukti betapa manusia modern sering lupa bahwa kata adalah energi.

Dalam konteks ini, Sabdo Pandito Ratu justru terasa semakin relevan. Ia menjadi rem etis di tengah kebisingan, pengingat bahwa setiap kalimat yang kita unggah, komentari, atau sebarkan adalah cermin dari kualitas batin kita sendiri.

Warisan yang Menjaga Harmoni

Pada akhirnya, Sabdo Pandito Ratu bukanlah ajian untuk menaklukkan orang lain, melainkan disiplin untuk menaklukkan diri sendiri. Ia mengajarkan bahwa menjaga lisan berarti menjaga arah hidup.

Apa yang kita ucapkan hari ini, perlahan menyusun arsitektur masa depan. Dalam diam yang jernih dan kata yang terjaga, manusia Jawa percaya bahwa semesta akan ikut menata langkah.

Sebab di balik keheningan batin, ada kekuatan besar yang selalu siap mengamini—bukan setiap kata, melainkan hanya kata yang lahir dari kesadaran.

Dan di sanalah, kata benar-benar menjadi takdir.

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments