Oleh Dhen Ba Gus e Ngarso
Konon, lima ratus tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu. Bahkan bagi sebuah bangsa yang gemar menghafal masa lalu, tetapi kerap lupa maknanya. Di tanah Jawa, waktu berjalan seperti wayang yang dimainkan terlalu lama: tokohnya sama, lakonnya berulang, tetapi penontonnya semakin gaduh—sibuk bersorak, lupa mendengar sabda.
Sabdo Palon telah lama muksa. Ia pergi bukan karena kalah, melainkan karena muak. Muak melihat manusia yang tergesa-gesa mengganti keyakinan tanpa sempat memahami kebijaksanaan lama yang ditinggalkan. Muak menyaksikan Prabu Brawijaya V—raja terakhir Majapahit—menundukkan kepala bukan pada kebijaksanaan, melainkan pada arus zaman. Sabdo Palon tahu, zaman sering kali lebih galak daripada kebenaran.
Dalam Serat Darmagandhul, perpisahan itu digambarkan dingin, nyaris tanpa air mata. Sang pamong tanah Jawa menolak ikut berpindah, sebab baginya agama bukan sekadar baju yang bisa diganti sesuai musim kekuasaan. Agama adalah laku. Budi adalah watak. Dan Jawa—ia percaya—tidak lahir dari kitab semata, melainkan dari keseimbangan antara manusia, alam, dan sunyi.
Lalu Sabdo Palon bersumpah. Ia tidak mengutuk, tidak pula mengancam. Ia hanya mencatat waktu. Lima ratus tahun. Sebuah hitungan yang terdengar sederhana, tetapi bagi Jawa—yang gemar menunda kesadaran—adalah vonis panjang.
Hari ini, ketika hitungan itu konon telah lewat, Sabdo Palon seperti berdiri di pinggir zaman, menagih janji pada negeri yang sibuk membangun tetapi lupa bertanya: untuk siapa?
Gunung meletus. Bumi berguncang. Air naik ke ruang tamu. Semua disebut bencana alam—padahal mungkin itu sekadar alam yang bosan diabaikan. Manusia menyalahkan cuaca, pemerintah, bahkan takdir, tetapi jarang menyalahkan keserakahan. Merapi dan Semeru tak sedang marah; mereka hanya berbicara dengan bahasa yang tidak lagi dipahami manusia modern.
Di jalan-jalan kota, moral berdagang bebas seperti diskon akhir tahun. Agama tampil rapi di spanduk, tetapi compang-camping dalam laku. Kesalehan diukur dari pengeras suara, bukan dari keadilan sosial. Orang-orang fasih mengutip ayat, tetapi gagap membaca penderitaan sesama. Zaman edan, kata orang Jawa dulu. Kini, edannya telah dilembagakan.
Sabdo Palon, jika benar kembali, barangkali tidak akan mengetuk istana. Ia mungkin hanya berdiri di sudut pasar, di tepi sawah yang mengering, atau di desa yang kehilangan bahasa ibu. Ia tidak membawa kitab baru, sebab yang lama pun belum selesai dibaca. Ia hanya bertanya pelan, menusuk:
“Endi budimu?”
Di mana budimu?
Sebab “menagih janji” bukan berarti mengusir keyakinan baru, melainkan menuntut kejujuran lama: kejujuran pada akar, pada laku, pada tanggung jawab sebagai manusia Jawa—yang seharusnya halus dalam budi, tegas dalam sikap, dan eling marang sapa sing dipanggoni bumi.
Serat Darmagandhul memang bukan arsip sejarah resmi. Ia lahir belakangan, sarat kepentingan, penuh satire. Tetapi justru di situlah kekuatannya: ia tidak ingin dipercaya mentah-mentah, melainkan direnungkan. Seperti Sabdo Palon sendiri—ia tidak minta disembah, hanya ingin didengar.
Dan barangkali, Jawa hari ini bukan sedang ditinggal Sabdo Palon.
Justru kitalah yang terlalu lama meninggalkan diri sendiri.
Pada zaman dahulu kala, di ujung masa keemasan Majapahit yang berkilau seperti permata, hiduplah seorang lelaki dengan nama yang sangat istimewa: Sabda Palon. Namanya bukan sembarang nama!
“Sabdo artinya kata-kata, Palon artinya kayu pengancing kandang,” begitu ia pernah berkata dengan mata yang berbinar-binar seperti bintang. Dan ada pula sahabatnya yang tak kalah menakjubkan, Naya Genggong – “Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah.”
Bayangkan saja! Dua orang dengan nama yang bermakna “Kata-kata yang Mengunci Kandang” dan “Pandangan yang Langgeng.” Seperti dua sosok misterius dari masa lampau!?!
Suatu hari yang gelap gulita – bukan gelap karena awan mendung, tapi gelap karena kesedihan – Sabda Palon berdiri di hadapan Raja Brawijaya V. Istana yang megah itu kini terasa dingin seperti gua es. Sang raja, dengan hati yang berat seperti batu gunung, telah memutuskan untuk mengambil sebuah keputusan yang sulit.
“Paduka,” kata Sabda Palon dengan suara yang bergetar seperti daun di angin kencang, “jika Paduka benar-benar memilih jalan ini, hamba akan pergi. Tapi ingatlah, hamba akan kembali.”
Dan inilah bagian yang paling menakjubkan sekaligus menarik dari kisah ini, layaknya hidup yang kadang terasa manis dan getir. Sabda Palon mengucapkan pesan terakhirnya yang akan bergema selama berabad-abad:
“Jadi bicara hamba itu bisa untuk pedoman orang tanah Jawa, langgeng selamanya.”

