LESINDO.COM – Ada kegelisahan yang jarang diucapkan secara terang-terangan di ruang-ruang keluarga: ketika anak tidak berkembang seperti yang diharapkan, siapa yang sebenarnya sedang gagal? Anak itu sendiri, sistem pendidikan, atau justru orang tua yang tanpa sadar menggerogoti fondasi paling halus dari proses belajar—keberkahan?
Di banyak rumah, pendidikan kerap dimaknai sebatas angka-angka di rapor. Kecerdasan diukur dari cepatnya anak memahami pelajaran, dari berapa banyak soal yang mampu diselesaikan, atau seberapa tinggi peringkat yang diraih. Namun, ada dimensi lain yang kerap luput: adab. Ia tidak tercetak dalam nilai, tidak diumumkan saat pembagian hasil belajar, tetapi diam-diam menentukan apakah ilmu itu akan tumbuh atau justru layu di dalam diri anak.
Di sinilah peran orang tua menjadi penentu arah yang sering tidak disadari. Bukan hanya melalui nasihat yang mereka ucapkan, tetapi juga melalui sikap yang mereka tunjukkan—terutama terhadap guru.
Bayangkan sebuah adegan sederhana: seorang anak pulang dari sekolah, membawa cerita tentang gurunya. Mungkin tentang teguran, mungkin tentang nilai yang tidak memuaskan. Lalu orang tua, dengan emosi yang belum sempat disaring, menanggapi, “Ah, gurumu itu memang begitu. Tidak adil.” Atau lebih jauh, dengan nada meremehkan, “Guru sekarang tidak seperti dulu.”
Kalimat-kalimat itu terdengar ringan. Namun bagi anak, itu adalah pelajaran yang jauh lebih kuat daripada apa pun yang diajarkan di kelas. Ia belajar bahwa otoritas bisa direndahkan, bahwa rasa hormat bisa dinegosiasikan, bahwa kesalahan tidak perlu dihadapi dengan introspeksi, melainkan cukup dengan menyalahkan.
Perlahan, tanpa disadari, posisi guru dalam benak anak bergeser. Dari sosok yang patut dihormati menjadi sekadar figur biasa yang bisa dibantah. Dari perantara ilmu menjadi objek penilaian. Dan ketika rasa hormat itu retak, yang ikut retak bukan hanya hubungan, melainkan juga jalur masuknya ilmu itu sendiri.
Dalam tradisi lama, hubungan antara murid dan guru dibangun di atas fondasi yang lebih dalam dari sekadar transfer pengetahuan. Ada kepercayaan bahwa ilmu tidak hanya dipahami, tetapi juga “diterima”. Dan penerimaan itu mensyaratkan kerendahan hati.
Tanpa adab, ilmu menjadi kering. Ia mungkin tetap masuk ke dalam ingatan, tetapi kehilangan daya hidupnya. Anak bisa saja menghafal, memahami, bahkan menjawab soal dengan benar. Namun, ada sesuatu yang hilang—sesuatu yang membuat ilmu itu tidak membentuk karakter, tidak menuntun arah hidup, tidak menjadi cahaya.
Di titik inilah istilah “keberkahan” menemukan maknanya. Ia bukan sesuatu yang kasat mata, bukan pula konsep yang mudah diukur. Namun dampaknya nyata: pada kemudahan memahami, pada ketenangan menjalani proses, pada kemampuan mengaitkan pengetahuan dengan kebijaksanaan.
Dan ironisnya, keberkahan itu bisa tergerus bukan oleh ketidakmampuan anak, melainkan oleh sikap orang tua.
Ketika orang tua merendahkan guru, mereka sebenarnya sedang mengirim pesan yang lebih dalam dari sekadar kritik. Mereka sedang meruntuhkan satu pilar penting dalam pendidikan: rasa hormat. Tanpa pilar itu, proses belajar kehilangan ruhnya. Anak tidak lagi datang ke sekolah dengan sikap menerima, melainkan dengan sikap menghakimi.
Padahal, guru bukanlah sosok tanpa cela. Mereka manusia, dengan keterbatasan, dengan kekeliruan. Namun, dalam ruang pendidikan, mereka memegang peran yang tidak tergantikan: sebagai perantara. Dari merekalah ilmu disampaikan, diarahkan, dan ditanamkan.
Menghormati guru bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan mereka. Melainkan memahami bahwa dalam setiap proses belajar, ada peran yang harus dijaga kehormatannya agar proses itu tetap utuh.
Orang tua yang bijak tidak serta-merta membela anaknya di hadapan semua situasi. Mereka tahu kapan harus mendengarkan, kapan harus mengklarifikasi, dan kapan harus mengajarkan anak untuk menerima teguran sebagai bagian dari pertumbuhan. Mereka tidak memadamkan wibawa guru, melainkan memperkuatnya—bahkan ketika ada ketidaksempurnaan.
Sebab mereka mengerti, pendidikan bukan hanya tentang apa yang diajarkan di sekolah, tetapi juga tentang apa yang dipelajari anak dari sikap orang tuanya di rumah.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu diajukan bukanlah mengapa anak sulit berkembang, tetapi: nilai apa yang sebenarnya sedang kita tanamkan? Apakah kita sedang membuka pintu ilmu dengan kerendahan hati, atau justru menutupnya dengan kesombongan yang dibungkus pembelaan?
Keberkahan tidak datang dari kecerdasan semata. Ia tumbuh dari sikap. Dari cara kita memandang ilmu, dari cara kita menghormati mereka yang menyampaikannya, dan dari ketulusan dalam menerima proses.
Dan mungkin, di tengah kegelisahan tentang masa depan anak, jawabannya justru sesederhana ini: menjaga adab, sebelum menuntut hasil.(Ade)

