LESINDO.COM – Di sebuah pagi yang tak selalu ramah, manusia sering terbangun dengan dua kemungkinan: hari yang sesuai harapan, atau hari yang terasa seperti bantahan atas doa-doanya sendiri. Pada saat itulah iman diuji bukan oleh kelapangan, melainkan oleh kejutan.
Kita hidup di zaman yang gemar merayakan kepastian. Target harus tercapai, rencana harus matang, dan doa—diam-diam—kita harapkan memiliki tenggat waktu. Maka ketika takdir bergerak di luar kalkulasi, hati mudah goyah. Air mata pun jatuh. Dan di titik ini, banyak orang merasa bersalah: apakah kesedihan berarti lemahnya iman?
Padahal, sejarah spiritual umat manusia menunjukkan hal yang sebaliknya. Tangis bukan musuh keyakinan. Ia adalah bahasa jiwa ketika kata-kata tak lagi cukup. Dalam khazanah Islam, kesedihan tidak pernah dilarang; yang dijaga adalah keputusasaan. Ada jarak tipis antara berduka dan berburuk sangka kepada Tuhan.
Di sinilah relevansi pesan tentang ridha menemukan tempatnya.
Kutipan yang populer dinisbatkan kepada Umar bin Khattab sering beredar dalam literatur motivasi: tentang bagaimana seseorang tak perlu risau atas takdir yang tak ia pilih, sebab bisa jadi di situlah keselamatannya. Dalam kitab-kitab klasik, beliau dikenal dengan ungkapan yang senada:
“Aku tidak peduli atas keadaan apa aku terbangun, apakah dalam keadaan yang aku sukai atau yang aku benci. Sebab aku tidak tahu mana di antara keduanya yang lebih baik bagiku.”
Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung revolusi batin. Ia menggeser pusat kendali dari ego manusia menuju kebijaksanaan Ilahi.
Validasi Perasaan: Iman Tidak Antikritik Emosi
Salah satu sebab pesan ini abadi adalah karena ia memulihkan martabat perasaan. Ia menegaskan bahwa air mata bukan tanda rapuhnya akidah. Kesedihan adalah respon manusiawi yang diakui agama. Bahkan para nabi pun bersedih. Yang membedakan adalah arah akhirnya: apakah luka membuatnya semakin dekat atau justru menjauh?
Ridha tidak meniadakan rasa sakit. Ia hanya memastikan bahwa rasa sakit tidak berubah menjadi prasangka buruk kepada Tuhan.
Perspektif Waktu: Lensa Makro dan Lensa Panorama
Manusia cenderung melihat hidup dengan “lensa makro”: fokus pada detik ini, pada kehilangan yang baru saja terjadi, pada pintu yang tertutup tepat di depan wajahnya. Sementara Tuhan—jika kita meminjam bahasa perenungan—menetapkan takdir dengan “lensa panorama”: melihat masa depan, melihat konsekuensi yang tak kasat mata, bahkan melihat akhirat yang tak tersentuh indera.
Sering kali yang kita ratapi hari ini, kelak kita syukuri dalam diam. Banyak orang baru menyadari makna sebuah kegagalan bertahun-tahun setelahnya, ketika ia melihat bahwa kegagalan itu menyelamatkannya dari jalan yang keliru.
Ridha adalah keberanian untuk percaya sebelum mengerti.
Logika Kebaikan: Puncak Tuma’ninah
Mengimani bahwa pilihan Tuhan lebih baik daripada pilihan sendiri bukanlah sikap pasif. Ia adalah puncak dari tuma’ninah—ketenangan batin yang lahir dari kepercayaan total. Dalam logika dunia, yang baik adalah yang menyenangkan. Dalam logika iman, yang baik adalah yang menyelamatkan.
Ridha tidak membuat manusia berhenti berusaha. Ia hanya mengubah sikap setelah usaha dilakukan. Jika hasilnya sesuai harapan, ia bersyukur. Jika tidak, ia tetap tenang. Sebab ia yakin, skenario Sang Pencipta tidak pernah salah ketik.
Relevansi yang Tak Pernah Usang
Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh pembandingan sosial, pesan ini terasa semakin mendesak. Media sosial memperlihatkan keberhasilan orang lain dalam bingkai yang rapi, sementara kegagalan kita terasa begitu personal dan telanjang. Tanpa fondasi ridha, hati mudah merasa tertinggal.
Pesan ini relevan karena ia menyentuh kebutuhan paling dasar manusia: ingin merasa aman di tengah ketidakpastian. Ridha tidak menjanjikan hidup tanpa badai. Ia menawarkan kompas agar kita tidak tersesat di dalamnya.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang memastikan semua rencana berjalan sesuai kehendak kita. Ia tentang belajar mempercayai kehendak yang lebih besar dari diri sendiri. Dan mungkin, seperti yang dicontohkan Umar bin Khattab, kedewasaan spiritual bukan terletak pada berhasilnya kita memilih takdir, melainkan pada lapangnya kita menerima pilihan-Nya.
Di situlah iman menemukan kedalaman. Di situlah air mata menemukan makna. (Cha)

