spot_img
BerandaHumanioraRepublik Viral: Ketika Keramaian Naik Tahta, Kebenaran Tersingkir

Republik Viral: Ketika Keramaian Naik Tahta, Kebenaran Tersingkir

Maka media sosial benar-benar pedang bermata dua. Ia bisa membuka ruang keadilan—atau menebasnya secara membabi buta. Ia bisa menyelamatkan yang terpinggirkan—atau menghancurkan tanpa ampun. Semua bergantung pada siapa yang memegang gagangnya: akal sehat atau sekadar emosi sesaat.

LESINDO.COM – Di republik ini, kebenaran tak lagi diuji di ruang sunyi bernama verifikasi. Ia diuji di alun-alun linimasa—tempat siapa paling lantang, paling emosional, dan paling mudah memancing amarah akan diarak menjadi juara. Media sosial telah mengubah cara kita memandang realitas: bukan lagi apa yang benar, melainkan apa yang ramai.

Dulu, kabar butuh saksi. Kini, cukup tangkapan layar buram dan satu kalimat provokatif. Tak penting siapa yang berbicara, yang penting berapa banyak yang membagikan. Seorang anonim dengan ponsel setengah baterai bisa lebih dipercaya daripada laporan panjang yang disusun dengan keringat dan kehati-hatian. Di sini, algoritma menjelma hakim agung—tanpa sumpah, tanpa etika, tanpa jeda berpikir.

Setiap hari, linimasa berubah menjadi ruang sidang dadakan. Vonis dijatuhkan sebelum dakwaan dibacakan. Nama seseorang bisa hancur lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan untuk membaca klarifikasi. Ironisnya, klarifikasi justru sering dicurigai: dianggap pembelaan diri, dianggap pesanan, dianggap tidak tulus. Di republik viral, pembelaan adalah tanda bersalah, dan diam pun sering dianggap pengakuan.

Media sosial memang menjanjikan demokrasi informasi. Semua boleh bicara. Semua setara. Namun seperti demokrasi yang lupa aturan main, kebebasan itu kerap berubah menjadi kerumunan tanpa kompas. Yang paling marah terdengar paling jujur. Yang paling sedih dianggap paling benar. Emosi menjadi mata uang, logika hanya pelengkap—kalau sempat.

Tak jarang, isu serius berubah menjadi tontonan. Penderitaan orang lain disulap menjadi konten, diperas menjadi klik, lalu ditinggalkan begitu saja ketika tren bergeser. Hari ini kita marah bersama, besok kita lupa bersama. Luka tetap ada, tetapi linimasa sudah sibuk dengan korban berikutnya.

Di tengah hiruk-pikuk ini, jurnalisme konvensional sering tampak kikuk—terlalu lambat, terlalu hati-hati, terlalu “membosankan”. Padahal justru di situlah martabatnya: menahan diri sebelum menyimpulkan, meragukan sebelum menyebarkan. Tetapi zaman ini tak sabar pada keraguan. Ia ingin kepastian instan, meski palsu.

Satirnya, kita semua ikut ambil bagian. Setiap jempol yang tergesa ikut mengadili. Setiap “share” tanpa membaca adalah suara dalam paduan suara kegaduhan. Kita mengutuk hoaks sambil diam-diam menyuburkannya. Kita mengeluh soal linimasa yang berisik, tapi tetap menyalakan pengeras suaranya.

Maka media sosial benar-benar pedang bermata dua. Ia bisa membuka ruang keadilan—atau menebasnya secara membabi buta. Ia bisa menyelamatkan yang terpinggirkan—atau menghancurkan tanpa ampun. Semua bergantung pada siapa yang memegang gagangnya: akal sehat atau sekadar emosi sesaat.

Di ujungnya, satu hal perlu diingat, meski sering kalah oleh keramaian: viral bukanlah kebenaran. Ia hanya tanda bahwa banyak orang berbicara, bukan bahwa sesuatu telah dipikirkan. Dan di zaman ketika keramaian naik tahta, mungkin tugas paling radikal yang tersisa adalah berani berhenti sejenak—membaca, memeriksa, dan berpikir—di tengah dunia yang gemar berlari tanpa arah.

Media sosial ibarat pedang bermata dua.
Di satu sisi, ia memberi ruang luas bagi suara-suara yang dulu terpinggirkan. Informasi dapat melesat cepat, menembus sekat jarak dan kekuasaan, tanpa harus menunggu restu redaksi atau mesin cetak. Dalam hitungan menit, sebuah peristiwa lokal bisa menjadi perhatian nasional, bahkan global. Di titik ini, media sosial tampak seperti demokrasi informasi yang paling meriah.

Namun di sisi lain, kedahsyatan itu justru menjadi masalah ketika kecepatan mengalahkan verifikasi. Sesuatu yang sudah viral sering kali dianggap otomatis benar. Tak perlu konfirmasi, tak sempat cek fakta—cukup ramai, cukup emosional, lalu meledak. Kebenaran tak lagi diuji oleh data, melainkan oleh jumlah tayangan dan keberpihakan algoritma. Yang sunyi kalah, yang sensasional menang.

Akibatnya, media sosial bukan hanya menyebarkan kabar, tetapi juga kepanikan, amarah, dan prasangka. Sekali sebuah narasi terlanjur meledak, bantahan datang terlambat—bahkan kerap dicurigai. Klarifikasi tenggelam, sementara kesalahan terus berenang di linimasa. Dalam ekosistem seperti ini, reputasi bisa runtuh, keadilan bisa bias, dan akal sehat sering kali menjadi korban pertama.

Di sinilah kita perlu ingat: viral bukanlah ukuran kebenaran. Ia hanya tanda bahwa sesuatu ramai dibicarakan, bukan bahwa ia telah diperiksa. Tanpa sikap kritis, media sosial berubah dari ruang berbagi menjadi ladang kegaduhan—cepat, bising, dan sering kali menyesatkan.(Re)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments