LESINDO.COM – Di sebuah negeri bernama Notifikasia, rakyatnya tidak pernah dijajah. Tidak ada tank. Tidak ada senjata. Tidak ada larangan berbicara. Semua bebas. Bahkan terlalu bebas—bebas menggulir layar tanpa batas.
Di negeri itu, yang berkuasa bukanlah raja, melainkan algoritma. Ia tidak pernah pidato, tetapi semua orang mendengarkannya. Ia tidak pernah memerintah, tetapi semua orang menurut. Setiap pagi, sebelum mata benar-benar terbuka, rakyat Notifikasia terlebih dahulu memberi hormat pada layar kecil di genggaman. Bukan karena takut, melainkan karena penasaran.
Mereka menyebutnya “cek sebentar.” Sebentar yang sering kali lebih panjang dari niat hidupnya sendiri.
Di Notifikasia, rakyat tidak dibuat bodoh. Oh, tidak. Mereka justru diberi informasi berlimpah. Berita datang setiap menit. Opini berseliweran setiap detik. Fakta dan fitnah bercampur seperti es batu di gelas kopi yang terlalu manis. Semua tahu segalanya. Tentang gosip artis, teori konspirasi, tren diet, krisis global, hingga motivasi sukses sebelum usia tiga puluh.
Hanya satu yang jarang mereka tahu: apa yang sebenarnya sedang mereka cari.
Sekolah-sekolah di negeri itu tidak mengajarkan cara berpikir lama. Mereka mengajarkan cara merespons cepat. Siapa tercepat, dialah yang terlihat cerdas. Siapa paling lantang, dialah yang dianggap benar. Kedalaman diganti kecepatan. Refleksi diganti reaksi. Hening dianggap gangguan sistem.
Anak-anak tumbuh dengan jempol yang lebih terlatih daripada daya tahan perhatian. Mereka bisa menonton tiga puluh video dalam sepuluh menit, tetapi kesulitan membaca tiga halaman tanpa ingin menyerah. Buku dianggap terlalu sunyi. Sunyi dianggap membosankan. Dan bosan adalah dosa paling menakutkan di negeri itu.
Karena di Notifikasia, warga tidak boleh merasa bosan. Jika bosan datang, segera usir dengan konten. Jika gelisah datang, redam dengan scroll. Jika hampa datang, tutup dengan hiburan. Tidak ada ruang kosong yang boleh dibiarkan tanpa distraksi. Kekosongan dianggap ancaman. Padahal mungkin di sanalah kesadaran tumbuh.
Pemerintah negeri itu bangga. Produktivitas tinggi. Aktivitas padat. Semua orang bergerak. Semua orang berbicara. Semua orang berpendapat. Grafik interaksi menanjak. Grafik perhatian? Turun perlahan, tetapi siapa peduli? Toh perhatian bisa dipecah menjadi potongan kecil yang cukup untuk mengklik, menyukai, dan berbagi.
Warga Notifikasia tidak merasa dijajah. Mereka merasa terhibur. Mereka tidak merasa dikontrol. Mereka merasa memilih. Padahal pilihan mereka telah disusun rapi oleh sesuatu yang tahu lebih banyak tentang kebiasaan mereka daripada mereka sendiri.
Mereka tidak kehilangan kebebasan. Mereka hanya kehilangan durasi fokus. Dan kehilangan itu terjadi begitu halus, seperti pasir yang jatuh dari sela jari—tidak terasa, sampai tangan kosong.
Yang paling ironis, mereka sering membagikan kutipan tentang “hidup sadar” di sela-sela lima jam tanpa sadar. Mereka menyukai konten tentang “deep work” sambil terdistraksi notifikasi baru. Mereka mengomentari pentingnya kesehatan mental, lalu membiarkan pikirannya dicabik-cabik oleh arus konten tanpa henti. (Nen)

