LESINDO.COM – Di Desa Adat Sade, Rembitan, Lombok Tengah, waktu seakan belajar berjalan lebih pelan. Langkah kaki wisatawan kerap tertahan—bukan oleh pagar atau papan larangan—melainkan oleh sebatang pohon tua yang telah lama mati, namun justru hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Sasak. Mereka menyebutnya Pohon Cinta.
Pohon itu sejatinya hanyalah pohon nangka yang tak lagi berdaun. Batangnya kering, ranting-rantingnya menjulur seperti urat nadi yang mengeras oleh usia. Namun di hadapannya, kamera sering terangkat, senyum mengembang, dan cerita lama kembali berdenyut. Di titik inilah perjalanan di Kampung Adat Sade menemukan nadinya—pada pertemuan antara tradisi, mitos, dan romantika manusia.
Konon, tumbuh sebuah kepercayaan yang berjalan pelan di antara hembusan angin dan ingatan desa. Siapa pun yang berfoto di bawah Pohon Cinta diyakini akan lebih mudah dipertemukan dengan jodohnya. Bagi mereka yang telah berpasangan, hubungan dipercaya akan dijaga agar tetap langgeng. Kepercayaan ini tak pernah ditulis, tak pula diteriakkan. Ia hidup dari cerita mulut ke mulut, setia dalam sunyi adat Sasak.
Desa Adat Sade Rembitan adalah satu dari sedikit ruang yang masih bertahan sebagai wajah Lombok tempo dulu. Rumah-rumah beratap alang-alang berdiri rapat, lantainya dipoles campuran tanah dan kotoran kerbau—bukan sekadar tradisi, melainkan cara menjaga harmoni dengan alam. Di desa ini, waktu seolah melambat. Setiap sudut menyimpan ingatan tentang kehidupan yang bersahaja, tentang adat yang dijalani tanpa banyak kata.
Di bawah naungan Pohon Cinta, romantika tak hadir dalam bentuk gemerlap. Ia menjelma kesenyapan yang meneduhkan. Pohon itu seakan mengajarkan bahwa cinta, seperti adat, perlu dirawat dengan kesetiaan dan kesabaran—tumbuh perlahan, berakar kuat, dan tetap berdiri meski zaman terus berubah.
Pohon yang Menyimpan Janji

Bagi orang Sade, pohon ini bukan sekadar artefak alam. Ia adalah saksi bisu masa muda, tempat janji-janji kecil pernah dirajut. Pada masa ketika adat mengatur jarak antara laki-laki dan perempuan, Pohon Cinta menjadi ruang pertemuan yang diam-diam disepakati. Tak ada bangku, tak ada atap—hanya batang kayu tua dan keberanian untuk menunggu.
Di bawah bayangannya, para pemuda dan gadis saling bertukar cerita, saling mengenal tanpa gaduh. Dari sanalah banyak kisah berlanjut ke tahapan yang lebih serius—menuju tradisi merarik, kawin lari khas Sasak. Pohon ini kerap menjadi titik awal: tempat pertemuan terakhir sebelum sang gadis “diambil” oleh calon suaminya, bukan untuk diculik secara kasar, melainkan untuk dijaga martabatnya sesuai adat.
Antara Mitos dan Harapan
Seiring waktu, Pohon Cinta tumbuh menjadi simbol. Muncullah keyakinan bahwa siapa pun yang berfoto di sana akan dimudahkan jodohnya, atau setidaknya hubungannya dijauhkan dari retak. Benar atau tidak, mitos ini diterima dengan senyum. Di desa adat, mitos bukan semata soal kebenaran, melainkan tentang harapan yang diwariskan.
Wisatawan datang silih berganti, berpose di antara ranting-ranting kering yang kini dianggap estetik. Mereka membawa kisah masing-masing—mungkin juga doa-doa kecil yang tak terucap. Pohon itu tetap diam. Ia tak menjanjikan apa-apa. Justru di situlah kekuatannya.
Menyusuri Sade
Pohon Cinta hanyalah satu pintu masuk menuju pengalaman Sade yang lebih luas. Di sekelilingnya berdiri rumah-rumah adat berdinding anyaman bambu, beratap ilalang, dengan lantai yang dirawat secara turun-temurun. Perempuan Sasak menenun di beranda; benang-benang warna membentuk cerita tentang kesabaran, identitas, dan keberlanjutan hidup.
Berjalan di kampung ini serupa membuka halaman demi halaman catatan lama. Tak ada yang berusaha memamerkan diri. Sade tidak berteriak sebagai destinasi wisata; ia justru mengundang siapa pun yang datang untuk mendengar.
Pulang dengan Cerita
Saat meninggalkan Desa Adat Sade, yang terbawa pulang bukan hanya foto di depan Pohon Cinta. Ada kesadaran bahwa cinta, dalam pemahaman orang Sasak, bukan sekadar perasaan, melainkan laku budaya—yang dijaga, disaksikan, dan diwariskan.
Pohon itu mungkin telah mati secara biologis. Namun di Rembitan, ia tetap hidup sebagai penanda: bahwa cinta pernah—dan masih—mencari jalannya sendiri, dengan cara yang sederhana, sunyi, dan penuh hormat pada tradisi.(Fai)

