spot_img
BerandaLensa IndonesiaRajab: Puasa, Waktu, dan Kesunyian Niat

Rajab: Puasa, Waktu, dan Kesunyian Niat

Ada pula Ayyamul Bidh, puasa di pertengahan bulan hijriah. Tiga hari ketika bulan bersinar penuh, seakan menjadi simbol kejernihan. Pada 13, 14, dan 15 Rajab, puasa ini mengajak manusia menimbang ulang hidupnya: sudah sejernih apa niat yang dijalani selama ini? Sudah sejauh mana cahaya ibadah menerangi langkah-langkah kecil sehari-hari?

Oleh Yai Kampung

LESINDO.COM – Rajab selalu datang tanpa gaduh. Ia tidak membawa hiruk-pikuk seperti Ramadan, juga tak disambut pesta cahaya sebagaimana Idulfitri. Namun justru di situlah letak martabatnya. Bulan ini hadir sebagai penanda awal—sebuah pintu sunyi menuju musim ibadah yang lebih panjang. Di Rajab, umat Islam diajak menata ulang niat, memperhalus batin, dan melatih kesabaran melalui amalan-amalan sunnah, salah satunya puasa.

Puasa di bulan Rajab bukanlah kewajiban, apalagi ritual yang harus dijalani penuh sebulan. Rasulullah SAW sendiri tidak pernah mencontohkan puasa Rajab secara utuh. Dalam sejumlah riwayat, bahkan ditegaskan bahwa beliau tidak mengkhususkan Rajab dengan puasa satu bulan penuh, juga tidak menganjurkannya. Pesan yang hendak disampaikan menjadi terang: Rajab bukan tentang jumlah hari, melainkan tentang kesadaran diri.

Di bulan ini, puasa hadir sebagai latihan. Latihan menahan diri sebelum Ramadan benar-benar mengetuk pintu. Karena itu, umat Islam diberi keleluasaan. Siapa pun boleh memilih hari-hari yang sanggup ia jalani—sesuai tenaga, waktu, dan niat yang paling jujur.

Bagi sebagian orang, puasa Senin dan Kamis menjadi pilihan yang akrab. Hari-hari yang sejak lama dipandang sebagai waktu baik untuk mempersembahkan amal. Senin, hari kelahiran Nabi. Kamis, hari diangkatnya amalan. Di sela kesibukan akhir tahun dan awal tahun masehi, puasa-puasa ini jatuh pada hari-hari yang bersahaja: 22 dan 25 Desember, lalu berlanjut hingga pertengahan Januari. Tak ada keistimewaan tanggal selain kesediaan hati untuk berhenti sejenak dari kebiasaan makan dan minum—dan belajar mendengar suara batin.

Ada pula Ayyamul Bidh, puasa di pertengahan bulan hijriah. Tiga hari ketika bulan bersinar penuh, seakan menjadi simbol kejernihan. Pada 13, 14, dan 15 Rajab, puasa ini mengajak manusia menimbang ulang hidupnya: sudah sejernih apa niat yang dijalani selama ini? Sudah sejauh mana cahaya ibadah menerangi langkah-langkah kecil sehari-hari?

Menariknya, perbedaan penetapan awal Rajab oleh lembaga falakiyah bukan menjadi sumber kegelisahan, melainkan penanda bahwa ibadah selalu bertaut dengan konteks. Kalender bisa berbeda, tetapi arah tetap sama: mendekat kepada Tuhan dengan cara yang paling mampu dilakukan manusia.

Sebelum fajar menyingsing, niat pun dilafalkan pelan. Tidak perlu panjang, tidak pula lantang. “Sengaja aku berpuasa sunnah hari ini karena Allah Ta’ala.” Kalimat itu sederhana, namun memuat seluruh makna penghambaan. Dalam niat, puasa bukan sekadar menahan lapar, melainkan menata ulang relasi manusia dengan dirinya sendiri—dan dengan Tuhannya.

Rajab, pada akhirnya, adalah bulan jeda. Jeda dari kelalaian, jeda dari rutinitas yang terlalu cepat. Ia mengajarkan bahwa ibadah tidak selalu harus besar dan ramai. Kadang, cukup satu hari berpuasa, dilakukan dengan kesadaran penuh, untuk membuat hidup kembali berada di jalurnya.

Di sanalah Rajab menemukan maknanya: bukan pada banyaknya amalan, tetapi pada keheningan niat yang dirawat dengan sabar.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments