LESINDO.COM – Di musim dingin, ketika suhu turun hingga di bawah nol—bahkan menyentuh minus empat derajat—Pulau Nami seakan berhenti dari hiruk-pikuk dunia. Salju putih menutup setiap sudut pulau, menyelimuti pepohonan, bangku taman, dan jalan setapak. Langkah kaki berderit pelan di atas es, menghadirkan suasana hening yang romantis, persis seperti adegan-adegan lirih dalam drama Winter Sonata—kisah cinta yang membuat pulau kecil ini dikenal dunia.
Pulau Nami, atau Namiseom, terletak sekitar 63 kilometer dari Seoul, di wilayah Chuncheon. Bentuknya menyerupai bulan sabit, dikelilingi aliran Sungai Han yang tenang. Meski ukurannya tak besar, pesonanya menjelma magnet bagi wisatawan, pasangan kekasih, hingga pencari keheningan dari berbagai penjuru dunia.
Keindahan yang Berganti Wajah Setiap Musim
Nami bukan sekadar destinasi, melainkan panggung alam yang berganti kostum sepanjang tahun.
Pada musim gugur (Oktober–November), pulau ini mencapai puncak kepopulerannya. Pohon ginkgo memamerkan warna kuning keemasan, sementara maple menyala merah seperti bara api yang jatuh ke bumi. Kamera-kamera tak pernah berhenti mengabadikan momen.
Saat musim dingin (Desember–Februari) tiba, Nami berubah menjadi negeri dongeng. Salju menciptakan lanskap monokrom yang sunyi dan syahdu, sangat identik dengan suasana romantis khas drama Korea. Banyak pengunjung datang bukan sekadar berwisata, tetapi bernostalgia.
Di musim semi (Maret–Mei), bunga sakura bermekaran, menyambut kehidupan baru. Sementara musim panas (Juni–Agustus) menghadirkan rimbunnya pepohonan hijau, memberi keteduhan alami bagi pengunjung yang bersepeda atau berjalan santai di bawah kanopi daun.
Perjalanan Menuju Pulau Romantis
Menuju Pulau Nami dari Seoul relatif mudah. Kereta ITX-Cheongchun menjadi pilihan tercepat—sekitar satu jam perjalanan menuju Stasiun Gapyeong. Bagi wisatawan dengan waktu longgar, subway jalur Gyeongchun menawarkan perjalanan lebih ekonomis meski memakan waktu lebih lama. Alternatif paling nyaman adalah shuttle bus langsung dari kawasan wisata seperti Myeongdong atau Hongdae yang mengantar pengunjung hingga ke dermaga.
Sesampainya di Gapyeong Wharf, perjalanan dilanjutkan menyeberang. Kapal feri selama lima menit menjadi cara paling umum. Namun bagi pencari sensasi, zip wire menawarkan pengalaman meluncur dari menara tinggi langsung ke jantung pulau—cara masuk yang memacu adrenalin.
Aktivitas di Tengah Alam yang Bersahaja
Pulau Nami mengajak pengunjung untuk melambat. Berjalan di Metasequoia Lane, jalur ikonik berderet pohon tinggi menjulang, menjadi ritual wajib. Menyewa sepeda—baik tunggal maupun tandem—adalah cara terbaik menjelajah pulau tanpa tergesa.
Di sela perjalanan, pengunjung kerap berpapasan dengan satwa yang berkeliaran bebas: kelinci, tupai, bahkan burung unta. Mereka menjadi bagian dari ekosistem pulau yang dibiarkan hidup berdampingan dengan manusia.
Lebih dari Sekadar Lokasi Wisata
Pulau Nami bukan hanya tempat berfoto atau destinasi romantis. Ia adalah ruang jeda—tempat orang-orang belajar menikmati kesunyian, menyusuri kenangan, dan merayakan keindahan yang sederhana. Di tengah dunia yang bergerak cepat, Nami menawarkan satu hal yang kian langka: waktu untuk berhenti sejenak, dan merasakan. (Ros)

