LESINDO.COM – Niat yang jernih adalah kompas paling setia dalam perjalanan hidup. Ia boleh saja tertutup kabut keraguan, terhimpit badai persoalan, atau terombang-ambing oleh riuhnya dunia, namun ia tak pernah kehilangan arah. Pada akhirnya, niat yang jujur selalu menuntun pemiliknya pulang—ke sebuah titik sunyi di mana hati merasa tenteram dan keputusan terasa benar, meski tak selalu mudah.
Di dalam dada, kegelisahan sering bersuara tanpa jeda. Ia hadir seperti benang kusut yang ujung pangkalnya tak lagi terbaca. Masalah datang bertubi-tubi: tanggung jawab yang menekan, harapan orang lain yang menyusup ke ruang batin, serta ketakutan akan masa depan yang belum juga menampakkan wujudnya. Hati pun menjelma ruang sempit penuh barang rapuh; satu langkah tergesa, segalanya bisa pecah dan melukai diri sendiri.
Di saat-saat seperti itulah pertanyaan sunyi muncul, biasanya di tengah malam ketika dunia terlelap: Apakah langkah ini benar? Ataukah aku sekadar sedang lari dari kegelisahanku sendiri?
Menjernihkan Air Batin
Tak mungkin melihat dasar kolam bila airnya terus diaduk. Demikian pula batin manusia. Selama amarah, panik, dan ambisi bercampur aduk, kejernihan tak akan pernah hadir. Selama ini, aku terlalu sering mencari ketenangan di luar diri: pada pengakuan orang lain, pada kesibukan yang melelahkan, atau pada kepura-puraan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun semakin jauh aku melangkah keluar, semakin aku kehilangan pijakan ke dalam.
Perlahan kusadari, ketenangan batin bukanlah absennya masalah. Ia adalah kemampuan untuk tetap berdiri tegak saat badai datang, tanpa kehilangan arah. Untuk sampai ke sana, seseorang harus berani masuk ke ruang terdalam dirinya—menghadapi ketakutan yang tak ingin diakui, menanggalkan topeng ego, dan membersihkan niat dari dorongan-dorongan semu.
Niat sebagai Jangkar Jiwa
Niat yang jernih bukan berarti niat yang sepenuhnya bebas kepentingan, sebab manusia tetaplah makhluk yang memiliki harap dan cemas. Kejernihan niat justru terletak pada kejujurannya: jujur pada diri sendiri tentang apa yang sungguh dicari oleh jiwa, bukan sekadar apa yang ingin dipertontonkan kepada dunia.
Ketika niat dikupas dari hasrat untuk dipuji, dari ketakutan akan penilaian, dan dari dorongan untuk membuktikan diri, yang tersisa adalah keheningan yang kuat. Keheningan inilah jangkar jiwa—penahan agar manusia tak mudah hanyut oleh gelombang keadaan.
Dengan niat yang bersih, kesalahan tak lagi menjelma aib yang menghancurkan, melainkan guru yang mengajarkan kebijaksanaan. Luka tidak lagi semata-mata penderitaan, tetapi pintu menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan kehidupan.
Jalan Pulang
Kini, aku memilih berhenti sejenak. Membiarkan debu-debu kegelisahan mengendap agar air batin kembali bening. Aku tak ingin mengambil keputusan dari ruang ketakutan, melainkan dari kedalaman keyakinan. Sebab keputusan yang lahir dari niat jernih mungkin tetap berisiko, tetapi ia tidak mengkhianati diri sendiri.
Aku percaya, selama niat kembali ke titik asalnya—ingin memperbaiki diri, ingin hidup jujur, dan ingin memberi makna—semesta akan menemukan caranya sendiri untuk membuka jalan. Ketenangan hadir bukan ketika hidup sepenuhnya terkendali, melainkan saat hati mampu berkata: Apa pun hasilnya, aku telah melangkah dengan niat yang paling tulus.
Niat yang jernih tak pernah benar-benar tersesat. Ia mungkin berputar jauh, mendaki tanjakan sunyi, atau menembus lembah gelap, namun ia selalu mengenali arah pulang—menuju kedamaian yang lahir dari kejujuran batin.
Ketenangan tidak ditemukan dengan mengubah keadaan hidup, melainkan dengan memurnikan niat di balik setiap langkah yang kita pilih. (Cha)

