spot_img
BerandaJelajahPuasa dan Parade Kesalehan

Puasa dan Parade Kesalehan

Dan mungkin di situlah letak pelajaran paling sunyi dari puasa: bahwa yang perlu ditundukkan bukan hanya perut, melainkan ego. Bahwa yang perlu dikosongkan bukan sekadar lambung, tetapi juga kesombongan yang kerap tersembunyi di balik jargon religius.

LESINDO.COM – Di negeri yang gemar merayakan simbol, puasa sering kali berubah menjadi agenda tahunan yang lebih sibuk di etalase daripada di dada. Spanduk “Marhaban” terbentang megah, diskon besar-besaran mengalir deras, dan linimasa penuh dengan kutipan bijak yang diketik sambil menunggu waktu berbuka. Puasa, yang sejatinya latihan sunyi, kadang justru menjadi panggung paling riuh.

Kita menahan lapar dan dahaga, ya. Tetapi sering kali yang paling aktif justru keinginan untuk terlihat saleh. Perut kosong, namun notifikasi ponsel kenyang. Siang terasa panjang, tetapi waktu terasa singkat untuk memotret takjil terbaik dengan sudut pencahayaan paling dramatis. Ada yang begitu khusyuk menahan minum, namun tak kuasa menahan komentar pedas di kolom percakapan.

Puasa mengajarkan manusia membedakan kebutuhan dan nafsu. Ironisnya, bulan ini pula pusat perbelanjaan menjadi arena pembuktian bahwa kebutuhan bisa dinegosiasikan, sementara keinginan naik kelas menjadi “keharusan.” Kita belajar menahan diri, tetapi daftar belanja justru bertambah panjang—seolah-olah ruhani hanya bisa bersinar jika dibungkus busana terbaru.

Namun, di sela-sela ironi itu, ada momen-momen kecil yang tak bisa dipalsukan. Rasa lapar yang menyentak tiba-tiba menyadarkan bahwa selama ini kita terlalu mudah memesan, terlalu ringan membuang. Ada jeda ketika tubuh melemah dan hati diam-diam bertanya: selama ini, siapa yang sebenarnya kita layani—Tuhan, atau gengsi?

Puasa, jika dijalani dengan jujur, adalah cermin yang tak bisa dibohongi. Ia memantulkan wajah kita apa adanya. Di situ terlihat apakah kita sekadar menahan makan, atau benar-benar menahan diri. Apakah kita hanya mengubah jam makan, atau juga mengubah cara memandang hidup.

Satirnya, setiap tahun kita mengaku kembali pada kesederhanaan, tetapi selalu tergoda merayakannya dengan berlebihan. Kita berbicara tentang empati, namun masih ringan menghakimi. Kita menggaungkan kepedulian, tetapi lupa bahwa yang paling sulit bukan berbagi makanan, melainkan berbagi ruang di hati untuk memahami.

Dan mungkin di situlah letak pelajaran paling sunyi dari puasa: bahwa yang perlu ditundukkan bukan hanya perut, melainkan ego. Bahwa yang perlu dikosongkan bukan sekadar lambung, tetapi juga kesombongan yang kerap tersembunyi di balik jargon religius.

Pada akhirnya, puasa bukan tentang siapa yang paling kuat menahan lapar, melainkan siapa yang paling berani menahan diri dari menjadi orang yang sama seperti sebelum Ramadan datang. Sebab jika setelah sebulan kita kembali pada kebiasaan lama tanpa jeda refleksi, boleh jadi yang berpuasa hanyalah tubuh—sementara jiwa tetap asyik berpesta. (Nad)

 

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments