Oleh Yai Kampoeng
Saya pernah mengira puasa Senin–Kamis hanyalah soal disiplin. Soal menandai kalender, menepati jadwal, lalu mengulanginya dari pekan ke pekan. Namun seiring waktu, saya belajar bahwa tidak semua orang—termasuk saya sendiri—diberi kenikmatan untuk menjalaninya dengan istiqamah. Bukan karena tubuh tak sanggup menahan lapar, melainkan karena hati kerap enggan diajak berdiam.
Dalam perjalanan itu, saya mendapati satu kenyataan sederhana: yang paling melelahkan dari puasa bukanlah rasa lapar, tetapi berhadapan dengan diri sendiri. Saat perut kosong, pikiran justru ramai. Keinginan muncul silih berganti, bukan hanya tentang makanan, tetapi juga pengakuan, pembenaran, dan rasa ingin terlihat lebih baik dari yang lain. Di titik itulah puasa menjadi cermin yang jujur—ia memperlihatkan wajah batin yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan.
Saya juga menyadari bahwa istiqamah tidak lahir dari semangat yang meledak-ledak. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dijaga dengan sabar. Ada hari-hari ketika niat terasa ringan, tetapi ada pula waktu-waktu ketika puasa terasa berat tanpa sebab yang jelas. Pada saat-saat seperti itu, saya belajar memahami makna nrimo dalam pengertian Jawa: menerima dengan kesadaran, bukan menyerah tanpa daya. Menerima bahwa iman pun memiliki pasang surut.
Puasa Senin–Kamis, bagi saya, adalah latihan eling lan waspada. Eling bahwa hidup ini sementara, dan waspada bahwa keinginan sering kali menyamar sebagai kebutuhan. Lapar mengajarkan batas—bahwa tidak semua yang bisa diraih harus dikejar, dan tidak semua yang diinginkan perlu dipenuhi. Dalam keterbatasan itulah saya menemukan ketenangan yang justru tak saya jumpai saat segala sesuatu tersedia.
Yang menarik, puasa adalah ibadah yang paling sunyi. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang sedang berpuasa, kecuali dirinya sendiri dan Tuhan. Kesunyian ini terasa jujur sekaligus menakutkan. Jujur karena tak bisa direkayasa, menakutkan karena tak ada tempat bersembunyi. Di sanalah saya belajar bahwa kesalehan sejati tidak membutuhkan saksi, selain kejujuran hati.
Saya tidak selalu berhasil menjaga puasa Senin–Kamis. Ada jeda, ada kegagalan, ada niat yang goyah. Namun justru dari situ saya memahami bahwa istiqamah bukan tentang tidak pernah jatuh, melainkan tentang kesediaan untuk kembali. Dalam falsafah Jawa, hidup dijalani dengan aloning ati—pelan, tetapi terus bergerak. Puasa pun demikian: ia adalah perjalanan panjang, bukan lomba cepat.
Kini, setiap kali saya mampu menjalani puasa Senin–Kamis, saya tak lagi melihatnya sebagai prestasi spiritual. Ia lebih saya pahami sebagai anugerah—kenikmatan yang tidak diberikan kepada semua orang, dan tidak selalu hadir setiap saat. Sebuah kesempatan untuk menepi sejenak dari keramaian dunia, lalu bercakap diam-diam dengan diri sendiri.
Pada akhirnya, puasa mengajarkan saya satu hal penting: bahwa yang paling sulit ditahan bukanlah lapar, melainkan keinginan untuk selalu dipenuhi. Dan mungkin, di sanalah letak makna istiqamah—kesetiaan pada sunyi, ketika dunia terus mengajak kita untuk ramai.

