Oleh: Lembayung
LESINDO.COM – Setiap kali bulan suci tiba, kita mendadak menjadi bangsa yang paling religius sedunia—setidaknya dari status WhatsApp hingga unggahan Instagram. Linimasa penuh kutipan bijak, foto kurma estetik, dan video azan dengan filter senja. Puasa, yang sejatinya perjalanan sunyi menuju kejernihan diri, berubah menjadi panggung kolektif: siapa paling sabar, siapa paling dermawan, dan tentu saja, siapa paling duluan memotret menu berbuka.
Padahal, puasa bukan sekadar jeda dari makan dan minum. Ia adalah jeda dari segala dorongan yang membuat hati sibuk mencari pengakuan. Namun rupanya, yang lebih sulit dari menahan lapar adalah menahan diri untuk tidak mengumumkan bahwa kita sedang menahan lapar.
Di pagi hari, kita berangkat kerja dengan wajah sedikit lebih sendu dari biasanya. “Lagi puasa,” begitu alasan paling sakral untuk setiap kelambanan. Rapat molor? Maklum, energi sedang hemat. Emosi meninggi? Wajar, kadar gula menurun. Puasa menjadi semacam tameng sosial yang sah untuk segala jenis drama kecil. Perut kosong seolah diberi hak veto atas akhlak.
Ironisnya, dalam diamnya perut yang kosong, justru yang paling bising adalah kepala. Kita menghitung jam seperti menghitung cicilan. Pukul 09.00 terasa seperti pukul 12.00. Pukul 15.00 serasa melewati zaman es. Lalu menjelang magrib, grup percakapan berubah menjadi forum ilmiah tentang takjil paling revolusioner tahun ini. Es kopi susu kurma dianggap inovasi spiritual.
Di saat tubuh melemah, mestinya kesadaran menemukan ruangnya. Tetapi yang sering terjadi, tubuh melemah, kesadaran ikut rebahan. Kita lupa bahwa puasa bukan lomba bertahan hidup, melainkan latihan mengendalikan. Ia cermin yang memantulkan siapa kita sebenarnya—terutama ketika tidak ada yang melihat.
Apakah kita tetap jujur saat tak ada pengawasan?
Apakah lisan tetap terjaga ketika yang disakiti tak bersuara?
Apakah amarah bisa ditunda meski alasan terasa sah?
Sayangnya, yang sering lebih dijaga adalah citra. Kita begitu sibuk menahan lapar, tetapi lupa menahan komentar pedas di kolom media sosial. Kita rajin berbagi foto kotak sedekah, tetapi enggan berbagi waktu untuk mendengar keluh kesah orang rumah. Puasa menjadi ritual fisik yang disiplin, namun spiritualnya kadang bolong di sana-sini.
Tentang empati, kita gemar berkata: “Baru puasa kita tahu rasanya lapar.” Padahal bagi sebagian orang, lapar bukan agenda tahunan, melainkan rutinitas yang tak pernah masuk kalender. Puasa seharusnya menajamkan kepekaan, bukan sekadar memperhalus caption.
Namun begitulah manusia. Kita kerap mengubah latihan batin menjadi festival simbol. Jalan sunyi menjadi arak-arakan. Kejernihan diri terselip di antara promo “Ramadan Sale” dan diskon besar-besaran yang membuat kita membeli lebih banyak dari yang dibutuhkan—ironis untuk sebuah bulan pengendalian.
Pada akhirnya, puasa tetaplah undangan untuk kembali. Kembali pada hati yang bersih, pada niat yang lurus, pada hubungan yang lebih jujur dengan Tuhan—tanpa perlu pengeras suara. Ia mengajarkan bahwa kemerdekaan sejati lahir ketika manusia tak lagi diperbudak oleh keinginan, termasuk keinginan untuk terlihat saleh.
Barangkali yang paling berat dari puasa bukan menahan lapar hingga azan magrib, melainkan menahan ego agar tidak merasa paling suci. Sebab di situlah ujian sesungguhnya: ketika tak ada tepuk tangan, tak ada penonton, hanya kita, perut yang kosong, dan hati yang diam-diam sedang ditanya—
Benarkah kita berpuasa, atau sekadar sedang menunggu waktu berbuka?

