LESINDO.COM – Pada menit-menit terakhir drama itu, publik seolah diajak menutup mata. Soal ijazah—asli atau palsu—tak lagi penting. Tirai justru jatuh bukan pada jawaban, melainkan pada penghentian. Dua tokoh yang sebelumnya berada dalam satu kapal, mendadak mengibarkan bendera putih. Perkara dihentikan. SP3 keluar. Lampu panggung diredupkan, sementara penonton masih menahan napas.
Drama ini tak ubahnya serial panjang—lebih mirip drakor ketimbang laporan hukum. Plot twist datang bertubi-tubi. Dari satu kongsi yang tampak solid, pecah menjadi serpihan intrik. Yang lebih ironis, dua tokoh utama justru berbalik melaporkan salah satu pengacara yang dulu satu kubu —orang yang sebelumnya berdiri paling depan membela. Antagonis saling telikung mereka bertarung dengan teman yang dulu dalam satu haluan. Penonton dibuat bingung: siapa sebenarnya tokoh utama cerita ini?
Sutradara kisah ini terasa sangat piawai. Alurnya berliku, penuh kejutan, kadang melelahkan, tapi selalu berhasil menjaga keramaian. Seolah ada tangan tak kasatmata yang tahu persis kapan konflik harus dinaikkan, kapan ketegangan perlu dilepas. Maha Kuasa, kata sebagian orang—bukan dalam pengertian teologis, melainkan dramaturgis: penentu akhir cerita yang tak bisa diganggu gugat.
Di tengah riuh itu, muncullah kiasan-kiasan besar. Nabi Musa, Firaun, pertarungan antara kebenaran dan kekuasaan. Analogi yang sah-sah saja, meski terasa berlebihan. Sebab zaman telah berubah. Hari ini, Musa yang sunyi di padang pasir hampir mustahil ditemukan. Yang ada justru mereka yang gemar mengajak ribut—ribut panggung, ribut perhatian, ribut tafsir kebenaran.
Padahal, dalam kehidupan nyata, batas antara yang baik dan yang buruk sering kali tak serumit itu. Ia terlihat dari ucapan dan tindakan. Dari cara seseorang berdiri di tengah badai, atau memilih bersembunyi ketika angin berbalik arah. Tetapi dunia memang tak pernah menyukai kesederhanaan. Dunia butuh keramaian.
Sebab tanpa ramai, tak ada cerita.
Tanpa cerita, tak ada yang bisa dijual.
Tanpa hiruk-pikuk, kebenaran pun terasa hambar.
Maka kubu-kubuan pun lahir. Sekutu dicari. Musuh diciptakan. Fakta dipelintir menjadi narasi, narasi diperdagangkan menjadi keyakinan. Semua bergerak cepat, lebih cepat dari akal sehat.
Namun sejarah selalu punya cara sendiri untuk menutup lakon. Fitnah mungkin laku hari ini, tapi kehancuran menunggu dengan sabar. Ia tak datang dengan teriakan, melainkan dengan sunyi—tepat ketika sorak-sorai mereda dan penonton pulang.
Di titik itu, cerita selesai.
Bukan karena kebenaran telah sepenuhnya menang,
melainkan karena kebohongan kehabisan panggung.
Dan dunia—seperti biasa—bersiap mencari drama berikutnya.(mac)

