spot_img
BerandaBudayaPiramida Tanpa Puncak: Republik yang Dimakan Perut Tak Berujung

Piramida Tanpa Puncak: Republik yang Dimakan Perut Tak Berujung

Pendidikan kita berhasil mencetak orang pintar, tapi sering lupa mengajarkan satu pelajaran sederhana: tahu diri. Agama kita kaya ritual, tapi miskin rasa malu. Hukum kita penuh pasal, tapi sering ompong di hadapan kuasa.

LESINDO.COM – Mari kita bicara jujur, meski agak sakit.
Soal manusia, soal perut, dan soal negeri yang perlahan habis dikunyah oleh segelintir mulut rakus.

Abraham Maslow, psikolog itu, barangkali tak pernah membayangkan bahwa teorinya suatu hari akan dipelintir sedemikian rupa. Dalam buku-buku psikologi, kebutuhan manusia disusun rapi seperti piramida: dari lapar, aman, dicintai, dihargai, hingga puncaknya—aktualisasi diri.
Namun di republik ini, piramida itu runtuh sebelum selesai dibangun. Diganti bangunan baru: Piramida Tanpa Puncak, tempat kebutuhan tak pernah selesai, dan rasa “cukup” dinyatakan ilegal.

Perjamuan Para Rayap Berdasi

Selamat datang di jamuan besar yang tak pernah usai. Meja panjangnya bernama APBN, taplaknya keringat rakyat, dan para tamunya adalah rayap berdasi yang datang dengan senyum patriotik.

Mereka makan sambil berpidato tentang efisiensi.
Mereka mengunyah sambil bicara penghematan.
Mereka menelan sambil mengutip pasal undang-undang.

Secara biologis, lambung manusia memang sederhana. Mau diisi nasi aking atau wagyu berlapis emas, kapasitasnya tetap sama. Tapi pada para koruptor, evolusi berjalan menyimpang. Mereka menumbuhkan lambung kedua—di otak. Organ metafisik yang tak mengenal kenyang, tak punya refleks muntah, dan kebal rasa bersalah. Lambung ini bisa menelan triliunan rupiah tanpa sendawa.

Evolusi yang Salah Arah

Awalnya klasik. Mereka datang dari kisah perjuangan: sepatu bolong, uang saku pas-pasan, pidato tentang rakyat kecil. Setelah berkuasa, kebutuhan dasar terpenuhi. Perut aman, dompet tebal, rumah megah, kendaraan lebih banyak dari jumlah hari dalam seminggu.

Pada manusia biasa, titik ini biasanya memantik pertanyaan eksistensial: “Untuk apa semua ini?”
Pada koruptor, pertanyaan itu berubah menjadi: “Berapa lagi yang bisa saya ambil?”

Mereka tidak lagi mengumpulkan harta untuk hidup. Mereka mengoleksi angka—saldo, aset, rekening luar negeri—seperti pemain gim yang terobsesi skor tinggi. Tidak ada layar game over. Tidak ada tombol selesai. Yang ada hanya hasrat naik level, meski level itu dibangun dari reruntuhan sekolah ambruk dan rumah sakit bocor.

Kesalehan sebagai Kosmetik Murahan

Inilah bagian paling ironis—dan paling memuakkan.

Mereka rajin beribadah. Shaf depan. Doa panjang. Air mata jatuh tepat saat kamera menyorot.
Sumbangan rumah ibadah? Jangan ditanya. Nominalnya cukup untuk menebus satu dosa besar—menurut versi mereka sendiri.

Tuhan, bagi mereka, bukan kompas moral. Tuhan hanyalah stempel administrasi. Agama diperlakukan seperti deterjen:
Korupsi hari ini, dicuci dengan umrah besok.
Menjarah anggaran pagi, disucikan dengan donasi sore.
Lalu bersih, siap mencuri lagi minggu depan.

Pendidikan tinggi pun tak luput dari nasib serupa. Gelar akademik bukan alat pengabdian, melainkan pisau bedah—tajam, steril, presisi—untuk membedah anggaran tanpa meninggalkan sidik jari.

Yang Mereka Cari Bukan Uang

Ini yang sering keliru dipahami.
Koruptor dengan harta tujuh turunan bukan lagi pemburu kekayaan. Mereka pemburu sensasi.

Adrenalin saat mengakali sistem.
Degup jantung ketika lolos dari audit.
Validasi dari sesama perampok berdasi: “Wah, proyekmu besar juga.”

Di lingkaran itu, moral diganti kasta. Semakin besar rampokan, semakin tinggi status sosial. Mereka tidak sedang menabung untuk anak cucu. Mereka sedang menumpuk api, lalu menyebutnya “warisan”.

Negeri yang Gagal Mengajarkan Malu

Pendidikan kita berhasil mencetak orang pintar, tapi sering lupa mengajarkan satu pelajaran sederhana: tahu diri.
Agama kita kaya ritual, tapi miskin rasa malu.
Hukum kita penuh pasal, tapi sering ompong di hadapan kuasa.

Maka lahirlah generasi dengan IQ tinggi, gelar panjang, dan nurani pendek. Mereka fasih bicara pembangunan, tapi tuli terhadap jeritan.

Treadmill yang Tak Pernah Berhenti

Secara psikologis, ini disebut hedonic treadmill. Semakin banyak yang dimiliki, semakin cepat standar kebahagiaan naik. Mereka berlari kencang, mencuri dengan keringat darah rakyat, hanya untuk tetap berada di titik yang sama: kosong.

Dunia ini, kata orang bijak, cukup untuk tujuh generasi.
Tapi ia tak akan pernah cukup untuk satu manusia yang serakah.

Dan selama “perut tanpa dasar” itu terus diberi makan, jangan heran jika suatu hari kita terbangun di negeri yang tinggal tulang—habis digerogoti, rapi, dan legal.(Jay)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments