spot_img
BerandaJelajahjelajahPerpisahan dan Cara Manusia Berdiri Tegak

Perpisahan dan Cara Manusia Berdiri Tegak

Waktu pada akhirnya menjadi guru yang sabar. Ia membawa jarak yang membuat luka perlahan berubah menjadi pemahaman. Bahwa setiap orang memiliki jalan pulangnya masing-masing, dan tidak semua kebersamaan ditakdirkan untuk bertahan selamanya.

LESINDO.COM – Di dalam tata cara shalat jenazah terdapat satu hal yang sering luput dari perhatian: tidak ada rukuk di dalamnya. Sejak takbir pertama hingga salam terakhir, manusia berdiri. Sunyi, tegak, dan sederhana. Seolah-olah di hadapan kematian, tubuh manusia diingatkan untuk tidak lagi menunduk oleh beban dunia, melainkan berdiri dengan kesadaran yang jernih tentang arti hidup dan perpisahan.

Di barisan para pelayat, orang-orang berdiri rapat. Ada yang mengenang tawa terakhir almarhum, ada yang masih memegang kesedihan yang belum sempat diberi nama. Namun di balik doa yang lirih, ada pelajaran yang diam-diam bekerja: hidup adalah pertemuan yang selalu mengandung kemungkinan perpisahan.

Dalam perjalanan hidup, manusia bertemu banyak wajah. Sebagian menjadi rumah yang menetap lama dalam ingatan, sebagian lain hanya singgah seperti angin yang lewat di halaman. Ada yang datang membawa kegembiraan yang hangat, tetapi ada pula yang pergi meninggalkan ruang kosong yang tak segera terisi.

Ketika seseorang memilih melangkah menjauh, hati sering kali ingin ikut merunduk. Kesedihan membuat manusia merasa seolah sesuatu yang penting dari hidupnya ikut pergi. Namun kehidupan perlahan mengajarkan bahwa kehilangan bukan hanya luka, melainkan juga ruang bagi kedewasaan.

Kehilangan memaksa manusia melihat dirinya sendiri dengan lebih jujur. Ia mengingatkan bahwa harga diri dan keteguhan hati tidak seharusnya runtuh hanya karena seseorang tidak lagi berjalan di sisi kita. Seperti berdirinya manusia dalam shalat jenazah, ada pesan yang begitu halus namun kuat: bahwa martabat tetap perlu dijaga, bahkan ketika hati sedang belajar menerima perpisahan.

Waktu pada akhirnya menjadi guru yang sabar. Ia membawa jarak yang membuat luka perlahan berubah menjadi pemahaman. Bahwa setiap orang memiliki jalan pulangnya masing-masing, dan tidak semua kebersamaan ditakdirkan untuk bertahan selamanya.

Maka mungkin inilah yang ingin diajarkan oleh sikap berdiri itu. Bahwa di tengah kehilangan, manusia tetap dapat menjaga dirinya tetap tegak. Tidak menundukkan harga diri pada kesedihan yang terlalu lama, tetapi melangkah dengan hati yang lapang.

Biarlah mereka yang pergi membawa pilihan hidupnya sendiri. Sementara kita yang ditinggalkan belajar satu hal yang sederhana namun berharga: tetap berjalan dengan kepala tegak, merawat kedamaian di dalam jiwa, dan memahami bahwa setiap perpisahan adalah bagian dari perjalanan panjang menjadi manusia.(Bhe)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments