spot_img
BerandaBudayaPerempuan Sade: Benang, Rumah, dan Keteguhan yang Ditenun Waktu

Perempuan Sade: Benang, Rumah, dan Keteguhan yang Ditenun Waktu

Jika diperhatikan lebih lama, Desa Sade sejatinya berdiri di atas pundak para perempuannya. Mereka adalah penenun tradisi, pengelola ekonomi, penjaga rumah, sekaligus penjaga nilai. Di tengah arus pariwisata dan perubahan zaman, perempuan Sade tetap duduk di tempatnya—bukan karena terkungkung, melainkan karena sadar akan perannya.

LESINDO.COM – Di Desa Adat Sade, Rembitan, Lombok Tengah, waktu tidak sekadar berjalan—ia dirajut perlahan oleh tangan-tangan perempuan. Di balik rumah-rumah beratap ilalang dan dinding anyaman bambu, denyut kehidupan desa ini bertahan bukan karena tembok yang kokoh, melainkan oleh kesabaran, ketekunan, dan keteguhan para wanitanya.

Sejak kecil, anak perempuan Sasak di Sade sudah akrab dengan bunyi kayu alat tenun yang beradu pelan. Bunyi itu bukan sekadar irama kerja, melainkan penanda perjalanan hidup. Menenun—atau nenun—adalah bahasa pertama yang mereka pelajari tentang tanggung jawab. Di desa ini, seorang gadis belum dianggap dewasa jika belum mampu menenun kain songket dengan tangannya sendiri. Tradisi ini bukan aturan kaku tanpa makna, melainkan simbol kesiapan: bahwa hidup rumah tangga kelak menuntut kesabaran sepanjang benang, ketelitian seteliti motif, dan daya tahan sekuat simpul-simpul kain.

Kain tenun bagi perempuan Sade bukan hiasan tubuh semata. Ia adalah identitas. Setiap helai menyimpan cerita tentang alam, leluhur, dan nilai hidup. Dari kain itulah mereka belajar mandiri—bahkan sebelum mengenal kata “ekonomi”. Saat wisatawan datang, perempuan Sade duduk di beranda rumahnya, menawarkan hasil tenun bukan dengan suara lantang, melainkan dengan tatapan tenang. Di sanalah posisi tawar mereka berdiri: perempuan yang memegang hasil kerja, menentukan harga, dan mengelola penghasilan keluarga.

Namun peran perempuan Sade tak berhenti di benang. Mereka juga penjaga rumah, dalam arti yang paling harfiah dan simbolis. Lantai rumah adat yang terbuat dari tanah liat dipel menggunakan kotoran kerbau segar—sebuah praktik yang kerap membuat orang luar terkejut. Tetapi bagi perempuan Sade, itulah pengetahuan turun-temurun. Kotoran kerbau menguatkan lantai, mengusir serangga, dan menjaga kesejukan rumah. Lebih dari fungsi praktis, ritual ini menegaskan tanggung jawab perempuan sebagai penjaga bale—ruang hidup tempat keluarga berlindung, bertumbuh, dan pulang.

Perempuan Sade mempraktikkan “seni melepaskan” melalui dedikasi mereka pada proses menenun yang memakan waktu berbulan-bulan. Mereka melepaskan ego dan kecepatan dunia modern demi menjaga ritme tradisi yang lambat namun bermakna. (mc)

Dalam urusan cinta dan pernikahan, perempuan Sade juga tidak sepenuhnya pasif. Tradisi merariq—yang kerap disebut kawin lari—menjadi salah satu contoh paling sering disalahpahami. Seorang perempuan “diculik” oleh calon suaminya pada malam hari, tetapi penculikan itu bukan paksaan. Ada kesepakatan, keberanian, dan kesiapan batin. Bagi masyarakat Sade, perempuan yang “diambil” menandai kehormatan: ia berani memilih jalan hidupnya, meninggalkan rumah asal untuk membangun rumah baru. Dalam tradisi ini, perempuan bukan korban, melainkan subjek yang menentukan.

Pilihan hidup perempuan Sade juga dibingkai oleh prinsip endogami—menikah dengan sesama warga desa. Prinsip ini dijaga ketat demi mempertahankan garis keturunan, tanah, dan warisan budaya agar tetap tinggal di dalam desa. Konsekuensinya tidak ringan. Perempuan Sade tumbuh dengan kesadaran bahwa cintanya kelak harus sejalan dengan adat. Namun di sanalah letak ketahanan itu diuji: antara hasrat pribadi dan tanggung jawab kolektif.

Dalam keseharian, perempuan Sade tampil dengan pakaian adat lambung—baju hitam tanpa lengan, sederhana namun anggun. Hitam bukan warna duka, melainkan lambang kesahajaan dan keteguhan. Dipadukan dengan kain tenun dan perhiasan tradisional, busana itu seakan menyampaikan pesan diam-diam: bahwa keindahan tidak selalu harus mencolok; kadang ia justru lahir dari kesetiaan pada akar.

Jika diperhatikan lebih lama, Desa Sade sejatinya berdiri di atas pundak para perempuannya. Mereka adalah penenun tradisi, pengelola ekonomi, penjaga rumah, sekaligus penjaga nilai. Di tengah arus pariwisata dan perubahan zaman, perempuan Sade tetap duduk di tempatnya—bukan karena terkungkung, melainkan karena sadar akan perannya.

Seperti kain yang mereka tenun, hidup perempuan Sade adalah hasil kerja panjang. Ada benang yang putus, ada motif yang harus diulang, tetapi kain itu tetap selesai. Dan di sanalah kekuatan mereka: keteguhan yang tidak berisik, kesabaran yang tidak dipamerkan, serta tradisi yang tidak sekadar diwariskan, melainkan dijalani—hari demi hari, generasi demi generasi. (mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments