LESINDO.COM – Pagi itu, ruang kelas masih menyimpan bau kapur yang menempel di papan tulis. Di sudut ruangan, setumpuk buku tampak tergeletak—halamannya terlipat, sebagian sudah menguning. Tak ada suara selain desir angin dari jendela yang terbuka setengah. Buku-buku itu tampak diam, seolah tak berkata apa-apa. Namun, sesungguhnya, di sanalah awal segala perubahan bermula.
Pendidikan memang sering kita mulai dari buku. Dari deretan huruf yang disusun rapi, dari teori yang dipelajari berulang-ulang, dari definisi yang kita hafalkan demi lulus ujian. Tetapi, pengetahuan tidak pernah benar-benar hidup jika ia berhenti di kepala. Ia baru menemukan maknanya ketika menjelma menjadi sikap, perasaan, dan tindakan—ketika apa yang kita baca berani kita jalani.
Di banyak tempat, kita melihat orang-orang yang cerdas secara akademik, namun gagap secara moral. Mereka tahu apa yang benar, tetapi tak selalu memilih untuk melakukannya. Seakan-akan ada jarak antara pikiran dan perbuatan, antara nilai dan keberanian untuk menghidupinya. Padahal, justru di sanalah pendidikan seharusnya bekerja: menjembatani kata dengan laku.
Seorang guru pernah berkata, “Ilmu itu bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk dihidupi.” Kalimat itu sederhana, namun menampar kesadaran. Betapa sering kita merasa cukup hanya dengan mengetahui, tanpa pernah sungguh-sungguh mencoba menjadi. Kita membaca tentang kejujuran, tetapi masih menoleransi kebohongan kecil. Kita mempelajari empati, tetapi tetap menutup mata pada penderitaan di sekitar.
Perubahan sejati tidak lahir dari kepandaian semata, melainkan dari keberanian untuk setia pada nilai yang dipahami. Ketika seseorang memilih berlaku adil meski merugikan dirinya, ketika ia menolak jalan pintas meski semua orang melakukannya, di situlah ilmu menjelma menjadi karakter. Bukan sebagai slogan, tetapi sebagai jalan hidup.
Di desa-desa kecil, di ruang kelas yang jauh dari gemerlap kota, sering kita temui sosok-sosok sederhana yang tak banyak bicara, namun hidupnya menjadi pelajaran. Mereka mungkin tak mengutip teori panjang, tetapi kejujuran mereka meneduhkan. Kepedulian mereka menggerakkan. Dalam keseharian itulah pendidikan menemukan bentuk paling jujurnya.
Pendidikan, pada akhirnya, bukan sekadar soal angka di rapor atau gelar di belakang nama. Ia adalah proses panjang memanusiakan manusia—membentuk nurani, menumbuhkan tanggung jawab, dan menguatkan keberanian untuk memilih yang benar. Buku memang memberi arah, tetapi manusialah yang menentukan langkah.
Ketika ilmu dihidupi dengan kesadaran, ketika pengetahuan diterjemahkan menjadi kepedulian dan keberpihakan pada nilai, pendidikan tak lagi diam. Ia bergerak. Ia mengubah. Dimulai dari diri sendiri, lalu merambat ke sekitar—perlahan, senyap, namun nyata. Di sanalah pendidikan menemukan maknanya yang paling dalam: bukan hanya mencerdaskan, tetapi memerdekakan. (Din)

