LESINDO.COM – Ada kecenderungan zaman ini untuk mengukur hidup dengan kecepatan. Siapa yang lebih dulu sampai, dialah yang dianggap unggul. Kita pun mudah gelisah ketika melihat orang lain berlari lebih kencang—kariernya melesat, usahanya berkembang, namanya diperbincangkan. Sementara langkah kita terasa pendek, bahkan tersendat.
Namun hidup bukan perlombaan lari seratus meter. Ia lebih menyerupai perjalanan panjang yang menuntut daya tahan. Dalam rentang waktu yang luas, yang menentukan bukan siapa tercepat menyentuh garis akhir, melainkan siapa yang tetap berdiri ketika badai datang tanpa aba-aba, dan tidak silau ketika matahari bersinar terlalu terang.
Langkah kecil kerap diremehkan. Padahal, kemajuan yang pelan bukan berarti tak berarti. Selama arah tetap terjaga dan tujuan tidak kabur, gerak sekecil apa pun adalah akumulasi. Ia mungkin tak terdengar gemuruhnya hari ini, tetapi kelak menjadi fondasi yang tak mudah runtuh.
Masalah sebagai Penanda Kehidupan
Ada satu kenyataan yang sering ingin kita bantah: tak seorang pun kebal dari persoalan. Masalah bukan anomali; ia justru bukti bahwa kita sedang hidup. Selama jantung berdetak dan pikiran bekerja, tantangan akan datang silih berganti. Satu selesai, yang lain menunggu giliran. Kadang bahkan berbarengan, menumpuk seperti awan gelap di langit yang sama.
Di titik inilah ketabahan diuji. Bukan pada ketiadaan masalah, melainkan pada cara kita menyikapinya.
Dihadapi, Bukan Dihindari
Persoalan tidak hadir untuk ditinggalkan. Menghindar mungkin memberi jeda, tetapi jarang memberi jalan keluar. Yang tertunda kerap kembali dengan bobot lebih berat.
Ada dua hal yang perlu dirawat ketika beban terasa menekan. Pertama, tubuh yang kuat—agar sanggup memikul tanggung jawab tanpa lekas tumbang. Kedua, batin yang tenang—agar pikiran tetap jernih membaca situasi dan menemukan celah penyelesaian. Kekuatan tanpa ketenangan mudah meledak. Ketenangan tanpa kekuatan mudah runtuh. Keduanya harus berjalan beriringan.
Pada akhirnya, setiap persoalan membawa serta kemungkinan jawaban. Kita mungkin tidak langsung menemukannya. Namun tugas kita memang bukan mengetahui seluruh peta sejak awal, melainkan melangkah setapak demi setapak dengan keyakinan bahwa beban tak pernah benar-benar melampaui kapasitas pertumbuhan kita.
Bertahan bukan berarti pasrah. Ia adalah keputusan sadar untuk tetap berjalan, meski pelan, meski lelah. Karena di ujung setiap kesulitan, ada versi diri yang lebih matang—terbentuk oleh tekanan, dipoles oleh pengalaman.
Catatan Kecil:
Jangan terlampau sibuk menghitung beratnya beban. Lebih baik menakar seberapa jauh ia membentuk otot keteguhan dan memperluas daya tahan jiwa.(Den)

