spot_img
BerandaJelajahjelajahParadoks Kesalehan: Ketika Akhlak Tertinggal di Balik Simbol Iman

Paradoks Kesalehan: Ketika Akhlak Tertinggal di Balik Simbol Iman

Di sekolah, menyontek kerap dianggap “kerja sama”. Di birokrasi, manipulasi administrasi dipahami sebagai “penyesuaian”. Kejujuran pelan-pelan berubah menjadi sikap yang merepotkan—bahkan berbahaya—karena sistem yang tidak jujur tak ramah pada orang yang lurus.

LESINDO.COM – Di negeri ini, agama hadir nyaris tanpa jeda. Ia bangun paling pagi lewat azan subuh, lalu bergaung lagi di lonceng gereja, mantra pura, dan kidung vihara. Rumah ibadah berdiri megah, doa dipanjatkan nyaring, dan simbol-simbol keimanan dikenakan dengan penuh kebanggaan. Indonesia, kata banyak survei, adalah salah satu bangsa paling religius di dunia.

Namun, ada pertanyaan yang terus mengendap di benak banyak orang—pelan, tapi mengusik: mengapa di tengah kesalehan yang begitu tampak, kejujuran justru sering terasa langka?

Agama sebagai Penanda Sosial

Di ruang-ruang publik, agama kerap tampil sebagai identitas—penanda siapa kita dan di barisan mana kita berdiri. Atribut keagamaan menjadi simbol kesalehan, kadang juga alat legitimasi moral. Namun, ketika agama berhenti pada simbol, ia kehilangan daya paling hakikinya: membentuk akhlak.

Tak sulit menemukan paradoks itu. Seseorang bisa rajin beribadah, fasih mengutip ayat, namun tak merasa bersalah saat menyelipkan amplop demi memperlancar urusan. Ada pula yang lantang bicara soal dosa, tetapi ringan jari menyebarkan kabar bohong. Seolah ada sekat tak kasatmata antara ritual dan perilaku—antara iman yang diucapkan dan akhlak yang dijalankan.

Di titik ini, agama tak lagi menjadi kompas batin, melainkan topeng sosial.

Kejujuran yang Kalah oleh “Sungkan”

Budaya kita mengenal nilai harmoni: rukun, tepa selira, sungkan. Nilai-nilai ini indah, namun dalam praktik tertentu, ia kerap berbelok arah. Demi menjaga perasaan, kebenaran ditunda. Demi nama baik, fakta dimanipulasi. Demi target, data dipoles.

Di sekolah, menyontek kerap dianggap “kerja sama”. Di birokrasi, manipulasi administrasi dipahami sebagai “penyesuaian”. Kejujuran pelan-pelan berubah menjadi sikap yang merepotkan—bahkan berbahaya—karena sistem yang tidak jujur tak ramah pada orang yang lurus.

Mereka yang memilih jujur sering kali justru terpinggirkan, dicap tidak fleksibel, atau dianggap tak paham realitas.

Kesalehan yang Terhenti di Ruang Privat

Indonesia tidak kekurangan orang saleh secara individu. Banyak yang tekun berdoa, dermawan dalam sedekah, dan taat menjalankan ritual. Namun kesalehan sosial—yang menuntut kejujuran di ruang publik—sering kali tertinggal.

Kesalehan sosial itu sederhana, tapi menuntut konsistensi: tidak menyerobot antrean, tidak membuang sampah sembarangan, tidak berdusta meski ada kesempatan, patuh pada hukum meski tak diawasi. Di sinilah iman diuji bukan di atas sajadah, melainkan di jalan raya, kantor, pasar, dan media sosial.

Ironinya, kita sering merasa telah menunaikan kewajiban kepada Tuhan, sambil abai pada amanah terhadap sesama manusia.

Akhlak sebagai Inti Beragama

Agama, apa pun namanya, selalu menempatkan kejujuran sebagai pilar utama akhlak. Tanpa kejujuran, ibadah kehilangan makna etiknya. Ia menjadi rutinitas kosong—gerak tubuh tanpa getar nurani.

Seorang bijak pernah mengatakan, agama tanpa moralitas adalah kehampaan, dan moralitas tanpa kejujuran adalah kemunafikan. Kalimat itu terasa relevan untuk membaca wajah kita hari ini.

Barangkali krisis terbesar bangsa ini bukanlah krisis iman, melainkan krisis integritas.

Menjadi Manusia yang Takut Berbohong

Menjadi masyarakat beragama seharusnya membuat kita menjadi manusia yang paling takut untuk berbohong—bukan karena hukum, bukan karena sanksi sosial, tetapi karena nurani yang hidup. Kejujuran adalah bentuk ibadah paling sunyi, sekaligus paling sulit, sebab ia menuntut keberanian untuk rugi.

Jika kejujuran masih terasa asing di negeri yang religius ini, mungkin pertanyaan paling jujur yang perlu kita ajukan adalah:
apakah kita sedang menjalankan perintah Tuhan, atau hanya sibuk mempertontonkan simbol-simbol-Nya?

Di situlah agama menemukan kembali rohnya—bukan di megahnya ritual, melainkan di lurusnya akhlak. (Jih)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments