spot_img
BerandaHumanioraPara Kiai dan Sunyi yang Menghidupkan Mojo Kacangan Nglangak

Para Kiai dan Sunyi yang Menghidupkan Mojo Kacangan Nglangak

Para kiai Mojo Kacangan mungkin tidak menulis kitab. Nama mereka jarang tercetak. Tetapi mereka meninggalkan warisan yang jauh lebih abadi: keteladanan. Dari suara pelan Mbah Zarkasi, malam panjang bersama Mbah Bulqin, hingga Ramadan yang dihidupkan Mbah Idris—semuanya mengajarkan bahwa ilmu tidak selalu datang dengan sorak, dan iman tidak selalu perlu panggung.

LESINDO.COM – Di Mojo Kacangan, ilmu tidak pernah datang dengan suara keras. Ia hadir pelan, meresap, dan tinggal lama di dada. Seperti langkah orang tua yang tidak tergesa, tetapi selalu sampai tujuan. Dari masjid kecil hingga gedhung batik yang disulap menjadi ruang ibadah, para kiai menjaga denyut spiritual kampung ini dengan kesetiaan yang nyaris tak terdengar.

Mbah Kyai Zarkasi: Suara Pelan yang Menenangkan

Setiap Jumat, sebelum khotbah dimulai, Mbah Kyai Zarkasi selalu berdiri dengan tubuh renta yang tegak oleh istiqamah. Gamis putih, sarung sederhana, dan suara yang nyaris seperti bisikan. Tak ada tekanan nada, tak ada gestur berlebihan. Ia berbicara sebagaimana air mengalir—tenang, sabar, dan terus bergerak.

Jumat terasa lebih panjang. Waktu seperti dilipat perlahan. Namun justru di situlah orang-orang bertahan duduk. Ilmu, seperti yang diyakini Mbah Zarkasi, memang mahal dan langka—tak bisa disampaikan tergesa-gesa. Di kanan-kiri, jamaah diam. Ada yang menunduk, ada yang memejamkan mata, ada pula yang tertidur ringan. Bukan karena bosan, melainkan karena jiwa sedang disandarkan.

Seusai salat, masjid segera lengang. Mbah Zarkasi melangkah keluar paling akhir. Dari belakang, tampak gamis putih dan ikat kepala putihnya. Tangan kirinya menggenggam teken, sekadar penopang tubuh yang sudah banyak menyimpan umur. Rumahnya hanya sekitar lima puluh meter dari masjid—jarak yang pendek, namun penuh makna: antara ibadah dan keseharian, antara nasihat dan teladan.

Mbah Kyai Bulqin: Malam, Rokok, dan Nasihat Tanpa Akhir

Ingatan tentang Mbah Kyai Bulqin selalu datang bersama malam. Ia adalah putra tertua Simbah Zuhdi, sosok yang disambangi bukan dengan janji waktu, melainkan dengan kesungguhan niat. Perjalanan silaturahmi ke Nglangkak Gemolong, dulu, ditempuh dengan Vespa tahun ’76 bersama Mbah Ali Muhammad. Jalan gelap, belum tersentuh listrik. Lengang. Sunyi. Tapi justru di situlah rasa tenang tumbuh.

Pertemuan selalu berlangsung selepas Isya. Malam sebenarnya belum larut, namun suasana sudah terasa seperti dunia yang diperkecil—sunyi, lapang, dan akrab. Diskusi mengalir tanpa penanda waktu. Nasihat demi nasihat terasa berjilid-jilid, seolah tak pernah benar-benar sampai pada halaman terakhir.

Mbah Bulqin berbicara pelan, kadang terputus oleh diam yang panjang. Senyumnya sederhana, memperlihatkan gigi yang telah tanggal dimakan usia. Di sela kata-kata, pipa rokoknya terus menyala. Asap mengepul perlahan, berputar-putar di bawah cahaya lampu neon sepanjang enam puluh sentimeter, yang hidup dari aki—cukup untuk menerangi wajah, sekaligus menjaga malam tetap bersahaja.

Tak ada kesan menggurui. Yang ada hanya obrolan panjang, kadang melompat ke mana-mana, tapi selalu kembali ke soal hidup, iman, dan kejujuran pada diri sendiri. Entah sudah berapa batang rokok habis. Entah sudah jam berapa malam berganti dini hari. Waktu seolah kehilangan kuasa.

Mbah Idris: Ramadan yang Dihidupkan

Jika Ramadan tiba, Mojo Kacangan menemukan denyutnya di Gedhung Batik. Bangunan itu berubah fungsi—dari ruang sekolah menjadi tempat tarawih. Dan Mbah Kyai Idris selalu hadir sebagai imam. Suaranya menghidupkan malam, langkahnya menghidupkan suasana.

Usai tarawih, ia tak pernah langsung pulang. Wejangan singkat selalu menyusul. Sebelum itu, jaburan makanan kecil dibagikan. Krupuk plastik, sederhana, tapi terasa penuh berkah. Mendapat satu saja sudah cukup membuat senyum merekah. Bukan soal rasa, melainkan kebersamaan.

Menjelang akhir Ramadan, Masjid Bangsal semakin ramai. Sekitar pukul dua hingga tiga dini hari, jamaah dari berbagai penjuru—terutama wilayah Mojo Kacangan—berbondong-bondong datang. Mereka mencari malam yang diyakini lebih mulia dari seribu bulan. Mbah Kyai Idris kembali menjadi imam. Dalam sunyi yang pekat, doa-doa mengalir panjang.

Ramadan benar-benar terasa Ramadan. Bukan hanya kalender, tetapi pengalaman batin. Ada lelah yang nikmat, ada kantuk yang disucikan, ada harap yang disandarkan sepenuhnya.

Warisan yang Tidak Ditulis

Para kiai Mojo Kacangan mungkin tidak menulis kitab. Nama mereka jarang tercetak. Tetapi mereka meninggalkan warisan yang jauh lebih abadi: keteladanan. Dari suara pelan Mbah Zarkasi, malam panjang bersama Mbah Bulqin, hingga Ramadan yang dihidupkan Mbah Idris—semuanya mengajarkan bahwa ilmu tidak selalu datang dengan sorak, dan iman tidak selalu perlu panggung.

Di kampung ini, para kiai mengajarkan satu hal penting: bahwa ketenangan adalah bentuk tertinggi dari keyakinan. Dan barangkali, mereka yang pernah mendengarkan, suatu hari akan sadar—betapa beruntungnya pernah duduk diam, di antara sunyi, dan belajar menjadi manusia. (mac)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments