spot_img
BerandaHumanioraOrang Pintar dan Orang Bijak: Dua Hal yang Sering Tertukar

Orang Pintar dan Orang Bijak: Dua Hal yang Sering Tertukar

Sekolah mengajarkan cara menjawab soal, tetapi hidup mengajarkan kapan pertanyaan harus diajukan. Pendidikan formal melatih hafalan, sementara pengalaman melatih kepekaan. Di ruang kelas, murid belajar mencari jawaban yang benar; di dunia nyata, manusia belajar menerima bahwa kebenaran kadang tidak sesederhana pilihan ganda.

LESINDO.COM – Di negeri yang gemar mengukur kecerdasan dengan ijazah, pendidikan formal sering diperlakukan seperti jimat sakti. Semakin tinggi gelarnya, semakin dianggap cerah pula pikirannya. Di meja-meja rapat, huruf di belakang nama lebih dahulu berbicara daripada isi kepala. Seolah-olah kebijaksanaan bisa dicetak massal, dilaminasi, lalu digantung di dinding ruang tamu.

Namun hidup—dengan caranya yang nakal—sering membantah keyakinan itu.

Di sudut-sudut kampung, di warung kopi pinggir jalan, atau di sawah yang becek oleh lumpur, kita kerap menjumpai orang-orang yang tak pernah mencicipi bangku kuliah, tetapi mampu membaca keadaan dengan jernih. Mereka tak fasih menyebut istilah akademik, namun tahu kapan harus diam, kapan mesti bersuara, dan kapan perlu mengalah agar kehidupan tetap berjalan. Ironisnya, kebijaksanaan semacam ini jarang masuk kurikulum.

Sekolah mengajarkan cara menjawab soal, tetapi hidup mengajarkan kapan pertanyaan harus diajukan. Pendidikan formal melatih hafalan, sementara pengalaman melatih kepekaan. Di ruang kelas, murid belajar mencari jawaban yang benar; di dunia nyata, manusia belajar menerima bahwa kebenaran kadang tidak sesederhana pilihan ganda.

Satirnya, ada pula mereka yang bertahun-tahun menimba ilmu, namun gagal menimba makna. Gelar bertumpuk seperti piala, tetapi empati tercecer di lorong-lorong kesibukan. Lidah mereka tajam berargumentasi, namun tumpul saat harus memahami penderitaan orang lain. Di titik inilah kecerdasan sering berubah menjadi kesombongan yang berjas ilmiah.

Sebaliknya, orang-orang sederhana justru kerap berpikir lebih jujur. Mereka tidak sibuk membela pendapat demi gengsi, karena hidup telah mengajarkan satu hal penting: kenyataan tak bisa ditipu. Pengalaman kalah, gagal, dan jatuh berkali-kali membuat mereka belajar membaca sebab-akibat tanpa perlu teori panjang. Pikiran mereka kritis bukan karena banyak referensi, melainkan karena dekat dengan realitas.

Berpikir kritis, pada akhirnya, bukan soal seberapa tinggi pendidikan, melainkan seberapa rendah hati seseorang bersikap pada kebenaran. Ia tumbuh dari keberanian bertanya, kesediaan mengoreksi diri, dan kemauan memahami hidup secara sadar dan bertanggung jawab. Tidak semua itu lahir di ruang kelas; sebagian justru lahir dari kesunyian batin setelah kenyataan memukul dengan jujur.

Maka pendidikan sejati barangkali bukan sekadar tentang sekolah, kurikulum, dan sertifikat. Ia adalah proses panjang ketika manusia belajar menggunakan akalnya bukan untuk merasa paling pintar, tetapi untuk hidup lebih bijaksana. Sebab kecerdasan yang tidak dibarengi kesadaran hanya akan melahirkan manusia terdidik yang tersesat—pandai berbicara, tetapi lupa mendengarkan kehidupan itu sendiri.

Dan di sanalah satir terbesar pendidikan kita: semakin banyak orang bersekolah, tetapi semakin sedikit yang benar-benar belajar. (Arn)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments