Oleh Yai Kampung
Pertanyaan tentang siapa sebenarnya orang berilmu kerap muncul di tengah hiruk-pikuk zaman. Apakah ia yang rajin berceramah, berpindah dari satu mimbar ke mimbar lain, suaranya lantang, kutipannya banyak, tetapi hidupnya sendiri sulit menjadi teladan? Ataukah ia yang memahami ilmu dengan baik, menjalankannya dalam keseharian, namun memilih diam—tanpa panggung, tanpa sorotan?
Pertanyaan ini tidak sederhana. Sebab ilmu, sejak awal, bukan sekadar sesuatu yang diucapkan, melainkan sesuatu yang dijalani.
Ilmu yang Diucapkan
Di satu sisi, ada mereka yang menguasai banyak pengetahuan dan pandai menyusunnya menjadi ceramah. Kata-katanya rapi, referensinya lengkap, dan pendengarnya banyak. Dalam batas tertentu, peran ini penting. Tidak semua orang memiliki waktu dan kemampuan untuk membaca, apalagi menafsirkan. Ceramah menjadi jembatan—memperpendek jarak antara ilmu dan orang awam.
Namun di sinilah ujian bermula. Ketika ilmu berhenti di lisan, ia mudah menjadi hiasan. Indah didengar, tetapi rapuh ketika diuji. Ilmu yang tidak dijalani berisiko berubah menjadi beban—bagi diri sendiri, juga bagi orang lain yang mempercayainya.
Ilmu yang Dijaga dalam Laku
Di sisi lain, ada orang-orang yang tidak banyak bicara. Mereka tidak dikenal sebagai penceramah, tidak piawai mengemas nasihat. Tetapi hidupnya tertata, sikapnya meneduhkan, dan kehadirannya membuat orang lain merasa aman. Ilmu mereka tidak sering disebut, tetapi terasa.
Mereka mengajarkan kejujuran tanpa definisi panjang, kesabaran tanpa teori, dan ketulusan tanpa pengumuman. Orang belajar bukan dari apa yang mereka ucapkan, melainkan dari cara mereka memperlakukan sesama. Ilmu, pada diri mereka, menjelma menjadi laku.
Di Antara Dua Jalan
Lalu, di antara keduanya, yang mana lebih baik?
Barangkali jawabannya bukan memilih salah satu, melainkan melihat keseimbangannya. Orang berilmu sejatinya adalah mereka yang ilmunya berjalan seiring dengan hidupnya. Jika ia berbicara, kata-katanya lahir dari pengalaman. Jika ia diam, diamnya tetap memberi pelajaran.
Ceramah tanpa laku kehilangan ruh. Laku tanpa kesadaran berbagi bisa kehilangan jangkauan. Ilmu menemukan kematangannya ketika ia dijalani terlebih dahulu, lalu—jika perlu—dibagikan dengan rendah hati.
Ukuran yang Sering Terlupa
Di kampung-kampung, orang berilmu sering tidak disebut “alim”. Mereka hanya dikenal sebagai orang yang bisa dipercaya, tempat bertanya, atau sosok yang hidupnya tertib. Tidak semua dari mereka pernah berdiri di mimbar. Namun banyak dari mereka menjadi penyangga moral sebuah komunitas.
Mungkin, ukuran orang berilmu bukan seberapa sering ia berbicara, melainkan seberapa jauh ia menjaga dirinya dari bertentangan dengan apa yang ia ketahui. Ilmu yang sejati tidak membuat seseorang merasa lebih tinggi, tetapi justru lebih berhati-hati dalam melangkah.
Pada akhirnya, orang berilmu adalah mereka yang membuat orang lain merasa lebih mudah menjadi baik—entah lewat kata-kata, atau lewat keteladanan yang sunyi.

