Oleh Lembah Manah
Hidup, pada akhirnya, adalah serangkaian pilihan. Sebagian diambil dengan penuh perhitungan, sebagian lagi lahir dari keadaan yang memaksa. Termasuk pilihan untuk berdiri di bawah terik matahari, mengenakan kostum badut yang warnanya mulai pudar, mengayunkan tangan, dan tersenyum lebar demi tawa anak-anak yang bahkan tak mengenal namanya. Mereka memanggilnya sederhana saja: Om Badut.
Di zaman ketika ijazah sarjana pun belum tentu menjadi tiket masuk dunia kerja, pilihan hidup sering kali tidak lagi romantis. Lapangan kerja menyempit, persaingan kian ketat. Lulusan S1 menganggur menjadi pemandangan biasa, apalagi mereka yang tak sempat mengecap bangku kuliah, tanpa sertifikat keahlian, tanpa kompetensi yang diakui secara formal. Dalam pusaran itu, sebagian orang memilih jalan yang jarang dilirik: menjadi penghibur anak-anak.

Dunia badut tidak mengenal ruang kelas. Tak ada sekolah khusus, tak ada kurikulum baku, tak ada silabus yang mengatur bagaimana membuat anak tertawa. Tidak ada ujian kelulusan, kecuali satu: apakah penonton kecil itu tersenyum atau tidak. Segalanya lahir dari kenekatan, dari kemauan, dari jam terbang yang pelan-pelan membentuk profesionalisme. Keterampilan diasah sendiri, dipelajari secara otodidak—mengamati, meniru, lalu memodifikasi. ATM, amati-tiru-modifikasi, menjadi guru tak tertulis yang setia.
Menjadi badut bukan profesi yang ramai diperebutkan. Ia hadir hanya ketika dipesan—ulang tahun, khitanan, atau perayaan kecil keluarga. Di mata sebagian orang, ia sekadar hiburan sesaat. Namun bagi mereka yang menjalaninya, ada upaya bertahan hidup di sana. Jika mampu menembus lingkaran pasar yang sempit itu, dunia badut sesungguhnya juga menawarkan peluang, bahkan cuan. Kecil, tapi nyata.
Namun jarang ada yang bertanya: bagaimana perasaan Om Badut di balik kostum itu? Saat ia membuat anak-anak tertawa terbahak, bisa jadi hatinya sedang letih. Bisa jadi ia baru saja dihimpit kebutuhan rumah tangga, atau membawa kegelisahan yang tak sempat ia ceritakan pada siapa pun. Di panggung kecil itu, ia menunda menjadi dirinya sendiri, memilih menjadi orang lain—lebih ceria, lebih riang, lebih kuat.

Di situlah ironi hidup bekerja dengan tenang. Mereka yang bertugas menghibur, tak selalu sedang bahagia. Mereka yang membuat orang lain tertawa, sering kali menelan sunyi sendirian. Tetapi hidup tidak selalu meminta keselarasan. Hidup hanya menuntut dijalani.
Menjadi Om Badut bisa jadi bukan cita-cita. Bisa jadi hanya cara mengisi waktu, atau pilihan terakhir ketika pintu-pintu lain tertutup. Bisa pula karena melihat peluang kecil yang bisa dimanfaatkan. Apa pun alasannya, profesi ini tetaplah pekerjaan yang dijalani dengan keringat, kesabaran, dan harga diri.
Dan barangkali, di situlah pelajaran hidup bekerja paling jujur: apa pun profesinya, apa pun jalannya, yang terpenting adalah ketekunan menjalaninya. Dunia nyata sering kali tak seindah panggung hiburan. Tetapi justru dari pilihan-pilihan yang tampak sederhana itulah manusia belajar bertahan, belajar memberi makna, dan—meski sebentar—belajar membuat hidup orang lain terasa lebih ringan.
Om Badut mungkin akan pulang dengan langkah yang kian berat dan senyum yang perlahan mengendur. Namun tawa anak-anak yang tertinggal di halaman rumah itu menjadi penanda kecil—bahwa hidup, sekeras apa pun, masih bisa dihadapi dengan keberanian memilih dan kesediaan untuk menjalaninya.
Meski kostum yang dikenakan berwarna-warni, cerah bak pelangi yang indah dipandang mata, kenyataannya hidup tak selalu seindah pelangi. Di balik kain mencolok itu tersimpan hari-hari yang tak selalu ramah, beban yang tak ikut tertawa, dan sunyi yang tetap setia menunggu ketika pertunjukan usai. Pertunjukan boleh usai, namun perjuangan tetap berlanjut, tanpa tepuk tangan.

