spot_img
BerandaBudayaNyadran: Doa yang Menyatu dengan Tanah

Nyadran: Doa yang Menyatu dengan Tanah

Bagi perantau, Nyadran adalah alasan kembali ke desa. Bagi petani, ia adalah doa agar bumi tetap subur. Bagi anak-anak, ia adalah cerita tentang asal-usul. Dan bagi semua, ia adalah pengingat: suatu hari, kita pun akan menjadi nama yang disebut dalam doa.

LESINDO.COM – Pagi itu, embun masih menggantung di daun pisang. Di pemakaman desa, suara sapu lidi beradu dengan tanah, diiringi gumam salam dan tawa pelan. Lelaki, perempuan, tua, muda—semua hadir. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada perbedaan status. Di hadapan makam para leluhur, semua manusia sama: datang dengan doa, pulang dengan kesadaran.

Di tanah Jawa, momen itu disebut Nyadran.

Bagi orang luar, ia mungkin terlihat seperti tradisi membersihkan makam menjelang Ramadan. Namun bagi masyarakat Jawa, Nyadran adalah jembatan waktu—yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan harapan masa depan. Ia bukan hanya ritual, melainkan cara orang Jawa mengingat asal-usulnya, menghormati yang telah pergi, dan menata batin sebelum memasuki bulan suci.

Jejak yang Panjang dari Sraddha hingga Tahlil

Kata Nyadran berakar dari bahasa Sanskerta: Sraddha, yang berarti keyakinan dan penghormatan. Pada masa kerajaan Hindu-Buddha, Sraddha adalah upacara sakral untuk mengenang arwah leluhur. Kitab Negarakertagama mencatat bagaimana Raja Hayam Wuruk menggelar upacara besar untuk mengenang Rajapatni, neneknya, sebagai wujud bakti dan penghormatan.

Waktu bergerak. Jawa pun berubah.

Ketika Islam datang melalui Wali Songo, tradisi lama tidak dihapus, melainkan dipeluk lalu diberi ruh baru. Sunan Kalijaga, dengan kebijaksanaan kulturalnya, mengganti pemujaan kepada roh dengan doa kepada Allah. Mantra diganti ayat suci. Dupa diganti tahlil. Namun inti penghormatannya tetap sama: mengingat mereka yang telah lebih dahulu berpulang.

Sejak itulah Sraddha menjelma menjadi Sadran, lalu dikenal sebagai Nyadran.

Ritual yang Mengikat Manusia dan Tanah

Nyadran biasanya dilaksanakan pada bulan Sya’ban (dalam kalender Hijriah) atau bulan Ruwah (dalam kalender Jawa). Itulah sebabnya ritual ini juga sering disebut sebagai Ruwahan. (mc)

Nyadran selalu dimulai dengan besik—membersihkan makam dan lingkungan. Bukan hanya tanah yang disapu, tetapi juga hati yang diluruhkan dari dendam, iri, dan keangkuhan.

Di beberapa desa, suasana semakin semarak dengan kirab gunungan hasil bumi. Padi, sayur, buah, dan tumpeng diarak perlahan. Tanah seolah ikut merayakan, mengingatkan bahwa hidup manusia tak pernah terlepas dari alam yang memberinya makan.

Kemudian, di bawah rindang pepohonan atau di serambi makam, warga duduk bersila. Tahlil dan doa dilantunkan. Nama-nama leluhur disebut satu per satu—bukan untuk dipuja, melainkan untuk didoakan.

Puncaknya adalah kembul bujana. Makan bersama di atas daun pisang. Lauk sederhana bercampur rasa syukur. Di situlah Nyadran menemukan wajah paling manusiawi: kebersamaan.

Mengapa Ia Tak Pernah Usang

Di tengah dunia yang semakin cepat, Nyadran tetap bertahan karena ia menyentuh sesuatu yang paling mendasar: rasa pulang.

Bagi perantau, Nyadran adalah alasan kembali ke desa.
Bagi petani, ia adalah doa agar bumi tetap subur.
Bagi anak-anak, ia adalah cerita tentang asal-usul.
Dan bagi semua, ia adalah pengingat: suatu hari, kita pun akan menjadi nama yang disebut dalam doa.

Nyadran biasanya digelar pada bulan Ruwah—sebelum Ramadan datang. Seolah masyarakat Jawa ingin membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum mengetuk pintu kesucian.

Di antara nisan dan doa, orang Jawa belajar bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang jejak yang kita tinggalkan. Dan Nyadran—dengan sapu lidi, doa, dan nasi berkat—adalah cara halus untuk mengatakan: kami tidak lupa. (Rin)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments