spot_img
BerandaBudayaNusantara dan Ingatan Peradaban: Manuskrip sebagai Cermin Keagungan Budaya

Nusantara dan Ingatan Peradaban: Manuskrip sebagai Cermin Keagungan Budaya

Naskah ini memperlihatkan satu hal penting: peradaban Nusantara tumbuh dari dialog antara alam dan manusia. Teknologi tidak lahir dari penaklukan alam, melainkan dari upaya menyesuaikan diri dengannya. Sebuah pandangan yang terasa relevan di tengah krisis ekologis hari ini.

LESINDO.COM – Peradaban tidak selalu berbicara lewat bangunan megah dan kekuasaan yang meluas. Ia kerap bersembunyi dalam kata-kata. Nusantara menyimpan kata-kata itu dalam manuskrip-manuskrip kuno—teks yang merekam bagaimana manusia, kekuasaan, alam, dan spiritualitas pernah dirajut menjadi satu kesatuan hidup yang beradab.

Di tengah derasnya arus modernitas, bangsa ini kerap berdiri di persimpangan antara lupa dan ingat. Kita berlomba mengejar masa depan, namun sering tertatih ketika diminta menengok ke belakang—ke akar yang pernah menumbuhkan peradaban besar bernama Nusantara. Padahal, jauh sebelum istilah “Indonesia” lahir, leluhur kita telah meninggalkan jejak pemikiran yang rapi, mendalam, dan beradab. Jejak itu tidak hanya terpatri pada batu candi atau relief, tetapi juga terjaga dalam lembaran-lembaran naskah kuno.

Manuskrip-manuskrip Nusantara bukan sekadar arsip usang yang disimpan di balik kaca museum. Ia adalah suara masa lalu yang masih berdenyut, berbicara tentang bagaimana masyarakat Nusantara memahami kekuasaan, ilmu pengetahuan, hubungan manusia dengan alam, hingga pencarian makna hidup. Dari Jawa hingga Pasundan, naskah-naskah ini menjadi saksi bahwa budaya Nusantara tumbuh dari kesadaran intelektual dan spiritual yang matang.

Negarakertagama: Negara yang Ditata dengan Kata

Ketika Mpu Prapanca menuliskan Kakawin Negarakertagama pada tahun 1365, ia tidak sekadar memuja rajanya. Ia sedang mendokumentasikan sebuah sistem negara. Dalam bait-bait kakawin itu, Majapahit tampil bukan sebagai kerajaan yang liar dan ekspansif semata, melainkan sebagai negara dengan administrasi teratur, pembagian wilayah yang jelas, serta relasi diplomatik lintas bangsa.

Negarakertagama mencatat daerah-daerah taklukan, jalur upeti, hingga upacara kenegaraan dengan detail yang mengagumkan. Yang menarik, toleransi beragama antara Hindu dan Buddha bukan hanya jargon moral, melainkan praktik sosial yang hidup. Di sini kita melihat bahwa Nusantara pernah mengenal pluralisme jauh sebelum konsep itu dirumuskan dunia modern.

Serat Centhini: Ensiklopedi Kehidupan Orang Jawa

Jika Negarakertagama adalah potret negara, maka Serat Centhini adalah potret kehidupan. Ditulis pada abad ke-19, naskah ini sering disebut sebagai ensiklopedi kebudayaan Jawa—dan sebutan itu bukan hiperbola. Di dalamnya tercatat pengetahuan tentang arsitektur rumah, ramuan jamu, tata boga, ilmu falak, seni, hingga suluk-suluk spiritual yang mendalam.

Centhini menunjukkan bahwa pengetahuan di Nusantara tidak berdiri di menara gading. Ia hidup di dapur, di ladang, di ruang semedi, dan di perjalanan. Tradisi literasi tidak hanya milik istana, tetapi juga menyerap kearifan rakyat. Ilmu tidak dipisahkan dari laku hidup—ia dijalani, bukan sekadar dihafal.

Tantu Panggelaran: Mitologi sebagai Cetak Biru Peradaban

Dalam Tantu Panggelaran, kisah asal-usul Pulau Jawa dibingkai melalui mitologi kosmis. Namun di balik cerita para dewa memindahkan gunung, tersimpan pengetahuan praktis tentang bagaimana manusia Nusantara membangun peradaban: bercocok tanam, bertukang, mengatur permukiman, hingga menyusun aturan sosial.

Naskah ini memperlihatkan satu hal penting: peradaban Nusantara tumbuh dari dialog antara alam dan manusia. Teknologi tidak lahir dari penaklukan alam, melainkan dari upaya menyesuaikan diri dengannya. Sebuah pandangan yang terasa relevan di tengah krisis ekologis hari ini.

Wedhatama: Etika sebagai Puncak Peradaban

KGPAA Mangkunegara IV, melalui Serat Wedhatama, menempatkan manusia sebagai pusat peradaban. Namun manusia yang dimaksud bukan sekadar makhluk berpikir, melainkan makhluk yang mampu mengendalikan diri. Wedhatama berbicara tentang laku prihatin, rendah hati, dan kebijaksanaan batin—sebuah konsep “kemajuan” yang tidak diukur dari kemewahan, tetapi dari kedalaman rasa.

Di sini, kebudayaan Nusantara menunjukkan wajahnya yang paling halus: peradaban bukan hanya tentang apa yang dibangun, tetapi tentang siapa yang dibentuk.

Carita Parahyangan: Kepemimpinan dan Keseimbangan Alam

Dari tanah Pasundan, Carita Parahyangan mengajarkan bahwa kemakmuran tidak pernah lepas dari keadilan pemimpin. Naskah ini menekankan harmoni antara raja, rakyat, dan alam. Ketika pemimpin berlaku adil dan rakyat menjaga tatanan, kesejahteraan akan tumbuh dengan sendirinya.

Pandangan ini menunjukkan bahwa konsep good governance bukan barang impor. Ia telah hidup dalam kesadaran lokal Nusantara sejak berabad-abad silam.

Manuskrip sebagai Kompas Zaman

Di tengah dunia yang kerap mengukur kemajuan dengan angka dan grafik, naskah-naskah kuno Nusantara menawarkan ukuran lain: etika, keseimbangan, dan kebijaksanaan. Mereka membuktikan bahwa leluhur kita bukan bangsa yang berjalan tanpa arah. Kita pernah menjadi masyarakat literat, diplomatis, mandiri secara teknologi, dan dalam secara spiritual.

Menghidupkan kembali naskah-naskah ini bukan berarti menolak modernitas. Justru sebaliknya—ia adalah upaya memberi akar pada langkah kita ke depan. Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang cepat melaju, tetapi bangsa yang tahu dari mana ia berasal.(Ags)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments