LESIDO.COM – Fenomena meningkatnya ketajaman indra saat berpuasa dapat dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara regulasi metabolik, sistem neuroendokrin, dan mekanisme adaptif evolusioner. Ketika asupan makanan dihentikan untuk sementara waktu, tubuh tidak sekadar “menahan lapar”, melainkan melakukan pergeseran mode fisiologis dari keadaan anabolik (mengolah dan menyimpan energi) menuju keadaan katabolik yang lebih efisien dan waspada. Dalam konteks ini, peningkatan sensitivitas sensorik bukanlah efek samping, melainkan bagian dari strategi adaptasi biologis.
Secara evolusioner, kelaparan merupakan sinyal ancaman terhadap kelangsungan hidup. Dalam kondisi defisit energi, sistem saraf pusat mengoptimalkan fungsi-fungsi yang berkaitan langsung dengan pencarian sumber makanan. Aktivitas pada area otak yang memproses rangsangan penciuman dan visual cenderung meningkat. Dengan kata lain, otak memprioritaskan deteksi stimulus eksternal yang relevan dengan pemenuhan kebutuhan energi. Individu dengan respons sensorik lebih tajam saat lapar memiliki peluang bertahan hidup yang lebih besar, sehingga mekanisme ini terpelihara melalui seleksi alam.
Peran hormon juga sangat signifikan, terutama ghrelin, yang disekresikan oleh lambung ketika kosong. Ghrelin tidak hanya berfungsi sebagai sinyal rasa lapar melalui hipotalamus, tetapi juga berinteraksi dengan sistem limbik dan hippocampus. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa ghrelin dapat meningkatkan sensitivitas terhadap bau dan memperbaiki performa kognitif tertentu, termasuk perhatian dan pembentukan memori. Aktivasi hippocampus dalam keadaan lapar memperkuat kewaspadaan terhadap isyarat lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan makanan.
Pada tingkat sensorik perifer, puasa memberi waktu pemulihan bagi reseptor perasa di lidah. Paparan berulang terhadap makanan tinggi gula, garam, dan penambah rasa dapat menyebabkan desensitisasi reseptor—fenomena adaptasi di mana ambang rangsang meningkat sehingga diperlukan stimulus yang lebih kuat untuk menghasilkan sensasi yang sama. Dengan berkurangnya stimulasi selama puasa, reseptor memiliki kesempatan untuk kembali ke sensitivitas basal. Akibatnya, rangsangan sederhana seperti air putih atau buah alami terasa lebih intens dan kaya.
Selain itu, puasa memengaruhi distribusi energi dalam tubuh. Proses pencernaan merupakan aktivitas metabolik yang memerlukan suplai darah dan energi cukup besar. Ketika tidak terjadi aktivitas cerna, terjadi redistribusi aliran darah dan substrat energi yang relatif lebih besar ke sistem saraf pusat. Kondisi ini, ditambah dengan stabilitas kadar glukosa darah tanpa fluktuasi pasca-prandial, berkontribusi pada berkurangnya fenomena “brain fog” dan meningkatnya kejernihan persepsi.
Secara molekuler, puasa juga dikaitkan dengan peningkatan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), suatu protein yang mendukung plastisitas sinaptik, pertumbuhan neuron, dan efisiensi transmisi sinyal saraf. Peningkatan BDNF memperbaiki komunikasi antar-neuron, termasuk jalur-jalur yang memproses informasi sensorik. Dengan transmisi sinyal yang lebih efisien, otak mampu menginterpretasikan rangsangan dengan ketelitian yang lebih tinggi.
Dengan demikian, meningkatnya ketajaman indra saat berpuasa bukanlah fenomena mistis, melainkan refleksi dari orkestrasi biologis yang terintegrasi. Tubuh dan otak beradaptasi terhadap kondisi defisit energi dengan meningkatkan kewaspadaan, memperbaiki sensitivitas reseptor, serta mengoptimalkan fungsi kognitif. Dalam perspektif ilmiah, puasa dapat dipahami sebagai proses kalibrasi ulang sistem neurobiologis—sebuah mekanisme adaptif yang menghubungkan metabolisme, hormon, dan kesadaran sensorik dalam satu kesatuan respons yang koheren.(Ona)

