Oleh You Srie
LESINDO.COM – Kita sedang hidup di sebuah negeri yang terlalu fasih menyebut nama Tuhan, tetapi gagap ketika diminta menyebut nama kejujuran.
Di negeri ini, percakapan nyaris selalu dibuka dengan ayat. Setiap perdebatan ditutup dengan dalil. Bahkan urusan remeh—dari jual beli hingga jabatan—tak pernah lepas dari kutipan kitab suci.
Orang bertanya bukan lagi “apa pikiranmu?”, melainkan “agamamu apa?” dan “Tuhanmu siapa?”
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar saleh, tetapi sering kali hanya menjadi sandi pengenal: kawan atau lawan, seiman atau bukan. Di baliknya, kebusukan justru tumbuh subur. Munafik menjelma kebiasaan, culas menjadi kecerdikan baru, licik dianggap strategi hidup.
Ayat-ayat agama tak lagi sekadar petunjuk jalan, melainkan alat tawar-menawar—dipakai untuk cari makan, mencari kekuasaan, dan mengamankan posisi.
Ironinya, negeri ini dikenal sebagai negara dengan tempat ibadah terbanyak di dunia.
Di setiap sudut kota berdiri rumah-rumah Tuhan. Di kantor pemerintahan ada musala megah. Di pusat perbelanjaan ada ruang ibadah. Bahkan dalam kereta, Tuhan disediakan tempat singgah.
Seolah-olah Tuhan tak boleh kelelahan menunggu manusia bertobat.
Kita juga bangga: punya ulama besar, santri berjuta, pondok pesantren raksasa, ormas keagamaan terbesar di muka bumi, dan penduduk Muslim terbanyak di dunia.
Namun, di saat yang sama, negeri ini juga rajin mengoleksi predikat memalukan: negara paling korup, paling intoleran, paling rajin melakukan persekusi atas nama iman, dan paling rumit mengurus izin rumah ibadah—khususnya bagi mereka yang tidak termasuk mayoritas.
Di negeri ini, iman tampaknya diukur dari jumlah pengeras suara, bukan dari keberanian membela yang lemah.
Kesalehan dinilai dari panjangnya doa di podium, bukan dari pendeknya antrean suap di belakang meja.
Pemerintahannya pun tampak religius. Setiap acara kenegaraan diawali doa panjang. Para pejabat mencium tangan tokoh agama di depan kamera. Kata “berkah” diucapkan lebih sering daripada kata “transparansi”.
Namun hasilnya, negeri ini tetap tertatih. Tertinggal dalam riset, teknologi, pendidikan, dan inovasi.
Kita lebih sering menjadi penonton dalam percaturan dunia—bersorak ketika konflik global terjadi, tetapi tak pernah benar-benar ikut menentukan arah.
Kita rajin membicarakan akhirat, tetapi malas mengurus dunia.
Kita sibuk mengutuk moral Barat, tetapi diam saat uang rakyat mengalir ke kantong sendiri.
Kita marah pada perbedaan keyakinan, namun memaafkan pencurian yang terang-terangan.
Lalu muncul pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur:
Ada apa dengan negara ini?
Apakah salah urus?
Apakah salah sistem?
Ataukah kesalahan itu dibiarkan, dipelihara, bahkan dirawat dengan sengaja—karena terlalu banyak yang diuntungkan?
Mungkin masalahnya bukan pada agama, melainkan pada cara kita memakainya.
Agama yang seharusnya menjadi cermin, justru dijadikan tameng.
Yang seharusnya mengoreksi kekuasaan, malah dipeluk erat oleh kekuasaan.
Yang seharusnya menumbuhkan welas asih, berubah menjadi alat pemisah.
Dalam kearifan lama Jawa, dikenal ungkapan “aja gumunan, aja kagetan, aja dumeh.”
Jangan mudah kagum, jangan mudah terkejut, dan jangan mentang-mentang.
Barangkali negeri ini lupa petuah itu. Kita terlalu kagum pada simbol, terkejut pada perbedaan, dan merasa paling benar karena mayoritas.
Mungkin kita tidak kekurangan doa—kita kekurangan keberanian untuk jujur.
Bukan miskin tempat ibadah—kita miskin keteladanan.
Bukan kurang ulama—tetapi terlalu sedikit yang berani berkata: cukup pada kemunafikan.
Dan selama ayat hanya dipakai untuk menghakimi sesama, bukan mengoreksi diri, negeri ini akan terus rajin berdoa…
namun tetap tersesat di jalan yang sama.

