spot_img
BerandaBudayaNegeri yang Mendidik dengan Setengah Hati

Negeri yang Mendidik dengan Setengah Hati

Satirnya begini: kita ingin hasil instan dari proses panjang. Kita menuntut karakter, tapi memotong waktu pembinaan. Kita menuntut hormat, tapi mempraktikkan cela. Kita ingin anak jujur, sementara orang dewasa lihai berkelit. Lalu kita heran ketika kelas berubah menjadi arena negosiasi nilai.

Oleh R. Arunika

LESINDO.COM – Entah kita sedang hidup di zaman apa, ketika dunia pendidikan tampak seperti bangunan tua yang dipoles cat baru agar terlihat layak difoto, tetapi rapuh di dalam. Di satu sisi, kita rajin menggelar seremoni—potong pita, unggah spanduk, rilis kebijakan—di sisi lain, ruang kelas bocor, kursi pincang, dan perpustakaan berdebu menunggu hujan berikutnya untuk menguji kesabaran.

Kita menyebutnya transformasi, padahal sering kali hanya transaksi. Sekolah diminta adaptif, guru diminta inovatif, murid diminta kreatif—sementara anggaran diminta sabar. Di podium, kata “merdeka” diulang-ulang; di kelas, guru merdeka menanggung semuanya sendiri.

Anak-anak hari ini berani. Berani bicara, berani membantah, berani menantang. Itu kabar baik—kata buku teori. Tetapi yang tak tertulis: keberanian tanpa adab berubah menjadi kebisingan, dan kebisingan tanpa arah berubah menjadi kekerasan simbolik. Guru dipotret sebagai penjahat hanya karena menegur, orang tua datang sebagai jaksa, dan media sosial menjadi ruang sidang tanpa hakim.

Lalu kita bertanya dengan nada getir: generasi seperti apa yang akan datang? Pertanyaan itu sering diarahkan ke anak-anak, jarang ke cermin. Kita lupa bertanya: contoh apa yang kita pertontonkan? Ketika elite berdebat sambil menuding, ketika kebijakan dilahirkan dengan tergesa lalu direvisi dengan senyum, ketika integritas dipuja di baliho tapi dinegosiasikan di balik meja.

Ada yang bilang, ini alam yang berubah. Teknologi melesat, nilai tertinggal. Benar—tapi alam tak pernah mengajarkan manipulasi. Itu keterampilan sosial yang dipelajari. Anak-anak menyerap dari udara yang kita ciptakan: udara penuh jargon, minim teladan. Mereka meniru cara kita menyelesaikan konflik—dengan gaduh, bukan dengan dialog.

Para pengambil kebijakan tampil rapi, berbicara data, menyodorkan grafik. Di balik grafik, ada kelas yang muridnya berdesakan, ada guru honorer yang mengajar sambil menghitung ongkos pulang. Manipulasi bukan selalu dusta terang-terangan; kadang ia hadir sebagai prioritas yang disusun ulang, sebagai target yang dikejar tanpa menimbang dampaknya, sebagai laporan indah yang tak menyentuh lantai kelas.

Guru, pada akhirnya, diminta bersiap. Bersiap menghadapi murid yang cerdas sekaligus letih, orang tua yang protektif sekaligus curiga, kurikulum yang lincah sekaligus melelahkan. Guru diminta menjadi pendidik, konselor, administrator, kreator konten—semuanya dalam satu napas, dengan upah yang sering kali menuntut keikhlasan tingkat dewa.

Bersiap seperti apa? Pertama, bersiap berdiri tegak tanpa kehilangan welas asih. Tegas tanpa kasar, hangat tanpa kehilangan batas. Kedua, bersiap belajar terus-menerus—bukan demi tren, melainkan demi makna. Teknologi dipeluk sebagai alat, bukan dipuja sebagai tujuan. Ketiga, bersiap sendirian—karena sistem kerap datang terlambat—namun tetap membangun jejaring kecil agar kesendirian tak berubah menjadi keputusasaan.

Satirnya begini: kita ingin hasil instan dari proses panjang. Kita menuntut karakter, tapi memotong waktu pembinaan. Kita menuntut hormat, tapi mempraktikkan cela. Kita ingin anak jujur, sementara orang dewasa lihai berkelit. Lalu kita heran ketika kelas berubah menjadi arena negosiasi nilai.

Pendidikan hari ini seperti dapur yang sibuk menyajikan menu baru, tapi lupa mencuci piring lama. Bau gosong bukan karena resepnya salah, melainkan karena api dibiarkan tanpa pengawasan. Guru menjadi pemadam kebakaran, sementara pemilik restoran sibuk merancang poster promosi.

Jika ada yang salah, ia tidak tunggal. Ia sistemik. Ia lahir dari kompromi yang terlalu sering, dari keberanian yang disunat, dari tanggung jawab yang dipindahkan. Anak-anak hanyalah cermin yang memantulkan wajah kita—dengan jujur, kadang terlalu jujur.

Maka, barangkali yang paling perlu dipersiapkan bukan hanya guru, melainkan keberanian kolektif untuk jujur. Jujur bahwa fasilitas belum memadai. Jujur bahwa kebijakan perlu diturunkan ke tanah. Jujur bahwa hormat tumbuh dari teladan, bukan ancaman. Tanpa itu, pendidikan akan terus berjalan—maju di spanduk, mundur di kelas.

Dan di negeri yang mendidik dengan setengah hati, kita akan terus memanen generasi yang setengah percaya: pada sekolah, pada otoritas, pada masa depan. Satir ini pedas bukan untuk melukai, melainkan untuk membangunkan—sebelum bel sekolah berbunyi, tapi kelas sudah kosong makna.

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments