spot_img
BerandaBudayaNegeri Ginseng: Ketika Insam Menjadi Nafas Budaya Korea Selatan

Negeri Ginseng: Ketika Insam Menjadi Nafas Budaya Korea Selatan

Pengakuan negara pun datang. Pada 2020, praktik budidaya ginseng dan budaya penggunaannya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional Korea. Sebuah penegasan bahwa ginseng bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan pengetahuan lintas generasi yang dijaga sejak era Kerajaan Joseon.

LESINDO.COM – Di Korea Selatan, ginseng bukan sekadar tanaman obat. Ia tumbuh sebagai identitas, berakar dalam sejarah, dan hidup di keseharian masyarakatnya. Insam — begitu orang Korea menyebutnya — telah lama melampaui fungsi biologis sebagai akar penyegar tubuh. Ia menjelma simbol ketekunan, kesehatan, sekaligus kebanggaan nasional. Tak berlebihan jika Korea Selatan kerap dijuluki Negeri Ginseng.

Di tanah semenanjung itu, alam bekerja dengan disiplin. Empat musim berganti dengan ritme yang jelas, tanahnya berlapis mineral, dan udara pegunungan memberi jeda panjang bagi akar ginseng untuk tumbuh perlahan. Tidak tergesa-gesa. Butuh waktu empat hingga enam tahun hingga satu akar ginseng dianggap layak panen. Kesabaran ini, barangkali, mencerminkan watak budaya Korea itu sendiri: tekun, ulet, dan menghormati proses.

Ginseng Korea—khususnya Panax ginseng—dipercaya memiliki kualitas terbaik di dunia. Namun keistimewaannya tidak berhenti pada jenis tanaman, melainkan pada cara manusia memperlakukannya. Dari sinilah lahir beragam rupa ginseng: susam, baeksam, dan hongsam.

Susam, ginseng segar yang baru diangkat dari tanah, kerap hadir di meja makan keluarga Korea, terutama dalam semangkuk samgyetang—sup ayam ginseng yang disantap saat musim panas. Sebuah ironi yang indah: makanan panas untuk melawan panas, keyakinan lama bahwa energi harus diseimbangkan, bukan dihindari.

Sementara baeksam dikeringkan di bawah matahari, hongsam menjalani ritual yang lebih panjang. Dikukus, dikeringkan, lalu dikukus kembali, hingga warnanya berubah kemerahan. Proses ini dipercaya meningkatkan kandungan saponin, zat aktif yang menjadi inti khasiat ginseng. Hongsam kemudian menjadi bintang utama—paling awet, paling mahal, dan paling dicari, baik di dalam negeri maupun pasar global.

Bagi masyarakat Korea, ginseng adalah sahabat tubuh. Ia dipercaya meningkatkan stamina, memperkuat daya tahan, menajamkan ingatan, bahkan menjaga vitalitas. Di tengah dunia modern yang serba cepat, ginseng hadir sebagai pengingat bahwa kesehatan tidak dibangun secara instan. Ia dirawat, dipelihara, dan dihormati.

Jejak ginseng juga tertanam kuat dalam lanskap budaya. Geumsan, sebuah wilayah yang dikenal sebagai jantung budidaya ginseng Korea, setiap tahun merayakan Festival Ginseng Geumsan. Di sana, ginseng diperlakukan layaknya tamu kehormatan: dipamerkan, dicicipi, dan dirayakan. Wisatawan datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk memahami cerita di balik akar yang tampak sederhana itu.

Pengakuan negara pun datang. Pada 2020, praktik budidaya ginseng dan budaya penggunaannya ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional Korea. Sebuah penegasan bahwa ginseng bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan pengetahuan lintas generasi yang dijaga sejak era Kerajaan Joseon.

Hari ini, ginseng merambah ruang-ruang baru. Ia hadir dalam teh kemasan, permen, cokelat, hingga produk K-Beauty yang mendunia. Ekstrak ginseng dipercaya mampu memperlambat penuaan, menguatkan kulit, dan memberi kesan alami—sejalan dengan filosofi kecantikan Korea yang menekankan kesehatan dari dalam.

Di balik semua itu, ginseng mengajarkan satu hal sederhana: kekuatan sejati sering lahir dari proses yang panjang dan sunyi. Seperti akar ginseng yang bersembunyi di dalam tanah, nilai-nilai budaya pun tumbuh tanpa banyak suara, tetapi ketika waktunya tiba, ia menguatkan seluruh tubuh bangsa.

Dan mungkin, di sanalah alasan sesungguhnya mengapa Korea Selatan disebut Negeri Ginseng—bukan hanya karena akarnya, tetapi karena makna yang tumbuh bersamanya.(Osy)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments