LESINDO.COM – Pencarian hari ini memasuki batas akhirnya.
Di lereng Gunung Mongkrang, langkah-langkah manusia telah menyusuri jalur dan jurang, memeriksa semak, menatap kabut, dan berulang kali memanggil nama yang belum kembali. Di titik ini, pencarian bukan lagi sekadar upaya fisik, melainkan ikhtiar batin: antara harap dan pasrah.
Gunung sering dinilai dari ketinggiannya. Mongkrang kerap disebut “ramah”, “mudah”, bahkan “mongkrang”. Jalur pendakiannya memang relatif bersahabat. Namun gunung bukan hanya jalur. Ia adalah bentang alam utuh—dengan kontur curam di luar lintasan, jurang yang tersembunyi rumput lebat, dan cuaca yang berubah tanpa peringatan.
Apa yang kita anggap mudah sejatinya adalah hasil kerja panjang manusia: base camp yang tertata, jalur yang dirawat, penanda arah yang dipasang, serta kearifan warga lokal yang menjaga keselamatan para pendaki. Jalur itu adalah ikhtiar manusia untuk menata alam.
Namun ketika seseorang keluar dari jalur—sengaja atau tidak—ia memasuki wilayah yang sepenuhnya milik alam.

Dalam pendakian, terutama saat turun, kecepatan kerap menjadi ujian. Banyak kecelakaan terjadi bukan saat mendaki, melainkan ketika turun: tubuh lelah, fokus menurun, medan licin, dan ego yang merasa mampu. Satu langkah terlalu cepat di jalur basah bisa berujung pada kehilangan kendali. Jurang tak selalu terlihat menganga; sering kali ia tersembunyi, menunggu kelengahan.
Keselamatan pendakian sejatinya bukan hanya soal fisik, tetapi soal kesadaran. Menyadari batas tubuh. Menghormati medan. Tidak meremehkan gunung hanya karena namanya terdengar ringan. Setiap gunung memiliki watak, dan setiap watak menuntut sikap rendah hati.
Di titik inilah refleksi spiritual menemukan tempatnya. Gunung mengajarkan bahwa manusia boleh berikhtiar sekuat tenaga, tetapi hasil akhir bukan sepenuhnya milik kita. Ada wilayah tak kasatmata yang hanya bisa kita serahkan kepada Yang Maha Menjaga.
Doa-doa pun naik bersama kabut.
Dimanapun engkau berada, Nak Yasid, semoga Allah melindungimu. Kami percaya, tak ada satu pun langkah yang luput dari pengawasan-Nya. Jika belum ditemukan, bukan berarti engkau dilupakan. Bisa jadi Tuhan sedang menulis kisah dengan cara yang belum sanggup kita pahami.
Bagi kita yang masih melangkah di gunung, peristiwa ini menjadi pengingat sunyi:
bahwa keselamatan bukan soal keberanian menaklukkan alam, melainkan kebijaksanaan untuk berjalan selaras dengannya.
Bahwa gunung bukan tempat pembuktian ego, melainkan ruang tafakur—tempat manusia belajar tentang batas, sabar, dan pasrah.
Dan di Mongkrang, hari ini, ikhtiar manusia telah sampai pada ujungnya.
Selebihnya, kami titipkan pada Tuhan—pemilik segala jalan pulang.(mac)

