spot_img
BerandaHumanioraMenjemput Matahari di Sikunir

Menjemput Matahari di Sikunir

Catatan Perjalanan dari Negeri di Atas Awan Dieng

LESINDO.COM – Udara dini hari di Desa Sembungan menggigit pelan. Jam tangan belum sepenuhnya menunjuk pukul empat pagi ketika langkah-langkah kecil mulai bergerak dari tepi Telaga Cebong. Lampu senter menari di antara kabut tipis, memantul pada dedaunan kentang dan napas para pendaki yang menguap ke udara.

Di desa tertinggi Pulau Jawa ini, pagi tidak pernah datang dengan tergesa. Ia selalu diawali kesunyian.

Bukit Sikunir—atau yang akrab disebut Si Kunir—bukanlah gunung dengan jalur teknis yang menuntut nyali. Tingginya hanya sekitar 2.263 meter di atas permukaan laut. Namun justru di kesederhanaan jalurnya, bukit ini menyimpan pengalaman batin yang sering kali lebih panjang daripada jarak tempuhnya yang hanya sekitar 800 meter.

Tangga-tangga tanah yang tertata rapi mengantar langkah pelan menuju punggung bukit. Di kiri-kanan, hutan cemara berdiri seperti penjaga pagi. Sesekali terdengar tawa kecil, lebih sering terdengar desah napas yang mencoba menyesuaikan diri dengan dingin Dieng yang menusuk hingga tulang.

Sikunir mengajarkan satu hal sejak awal: matahari tidak bisa dijemput dengan terburu-buru.

Pukul dua dini hari, pelataran parkir sudah sesak oleh wisatawan. Dalam gelap dan udara dingin yang menggigit, langkah-langkah kecil mulai bergerak menuju puncak Bukit Sikunir—membawa doa sunyi agar fajar berkenan menyingkapkan cahayanya.(mc)

Ketika langit mulai memudar dari hitam ke biru kelam, para pendaki berhenti. Ada yang duduk memeluk lutut, ada yang menyesap kopi panas dari gelas plastik. Kabut perlahan bergerak, membuka dan menutup lembah seperti tirai alam yang sedang berlatih sebelum pertunjukan utama.

Lalu, keajaiban itu tiba tanpa aba-aba.

Di ufuk timur, cahaya jingga merekah pelan, menyingkap siluet gunung-gunung besar: Sindoro dan Sumbing berdiri gagah, Merapi dan Merbabu menyembul anggun, Lawu dan Ungaran tampak jauh namun tegas. Delapan gunung, delapan penjuru harapan, seolah sedang menyaksikan kelahiran hari yang sama.

Matahari muncul perlahan—tidak meledak, tidak menyilaukan—tetapi cukup untuk membuat semua suara mereda. Kamera terangkat, namun banyak pula yang memilih menyimpan ponsel, membiarkan mata merekam sendiri momen yang tak selalu bisa diulang.

Dari ketinggian ini, Dieng tampak seperti negeri di atas awan. Lembah tertutup hamparan putih yang bergulir pelan, sementara telaga dan ladang hanya muncul sebagai bayangan samar. Dunia terasa lebih sunyi, lebih jujur, seolah tak menuntut apa pun selain kehadiran penuh.

Usai matahari benar-benar naik, perjalanan turun terasa lebih ringan. Telaga Cebong di kaki bukit menyambut dengan airnya yang tenang, memantulkan langit pagi yang kini membiru. Warung-warung kecil mulai hidup, kopi purwaceng mengepul, kentang goreng hangat menjadi sarapan sederhana yang terasa istimewa.

Sikunir tidak menawarkan tantangan ekstrem. Ia menawarkan jeda.

Di bukit ini, orang belajar bahwa keindahan tak selalu berada di puncak yang tinggi atau jalur yang sulit. Kadang, ia hadir di tangga-tangga sederhana, di dingin yang menggigil, dan di kesabaran menunggu matahari yang selalu datang tepat pada waktunya.

Dan ketika turun, yang dibawa pulang bukan hanya foto matahari terbit—melainkan rasa tenang, bahwa pagi selalu punya cara sendiri untuk mengingatkan manusia agar berjalan lebih pelan. (cha)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments