LESINDO.COM- Di suatu pagi yang tak terlalu terang, ketika kabut belum sepenuhnya terangkat dari permukaan hari, kita sering merasa hidup berjalan seperti biasa—datar, berulang, dan kadang melelahkan. Namun, jika ditilik lebih dalam, ada sesuatu yang terus bergerak diam-diam: semesta sedang bekerja, menenun peristiwa demi peristiwa, menyusun makna di balik yang tampak biasa.
Hidup, rupanya, bukan sekadar soal bertahan atau pasrah. Ia adalah perjalanan yang mengalir, seperti sungai yang tak pernah benar-benar diam.
Di titik tertentu, manusia kerap bertanya: mengapa sedih datang silih berganti dengan bahagia? Mengapa kehilangan sering menyusul setelah rasa memiliki? Semesta, dalam diamnya, seolah menjawab melalui hukum yang tak tertulis—bahwa segala sesuatu hadir berpasangan.
Seperti siang yang tak bisa menolak malam, atau terang yang baru bermakna setelah gelap, perasaan manusia pun bergerak dalam dua kutub. Sedih dan bahagia bukan musuh; keduanya adalah bahasa yang sama, hanya berbeda nada. Tanpa kesedihan, kebahagiaan tak lebih dari sekadar kata tanpa rasa. Justru dari kontras itulah, jiwa belajar mengenali kedalaman.
Namun hidup tak berhenti pada dualitas. Ia juga berdenyut dalam ritme.
Ada masa ketika segala sesuatu terasa lapang—rezeki mengalir, hubungan menghangat, harapan tumbuh subur. Tapi ada pula masa ketika langkah terasa berat, seolah semesta menarik kembali apa yang sebelumnya ia beri. Dalam fase ini, banyak yang keliru memahami: mengira hidup sedang berlaku tidak adil.
Padahal, seperti musim yang berganti tanpa perlu diminta, hidup pun memiliki siklusnya sendiri.
Pohon tidak memaksa berbunga di musim kemarau. Ia menahan diri, menyimpan kekuatan di dalam akar. Dan manusia, pada dasarnya, diberi kebijaksanaan yang sama: memahami kapan harus melangkah cepat, dan kapan harus berhenti sejenak untuk menguatkan diri.
Di situlah makna “pasrah” menemukan wajahnya yang paling jernih—bukan menyerah, melainkan selaras.
Tetapi semesta tidak hanya bergerak dalam harmoni yang lembut. Ia juga mengenal cara yang lebih keras: kekacauan.
Ada masa ketika hidup terasa runtuh—rencana gagal, harapan retak, dan arah seakan hilang. Dalam bahasa ilmu, ini disebut kecenderungan menuju ketidakteraturan. Namun dalam bahasa kehidupan, mungkin ini adalah cara semesta membersihkan.
Seperti hutan yang harus terbakar agar tunas baru mendapat ruang tumbuh, demikian pula manusia. Apa yang kita sebut “keburukan” sering kali adalah proses pembongkaran—agar kita tidak lagi tinggal dalam struktur lama yang sudah sempit dan rapuh.
Tidak nyaman, memang. Tapi sering kali justru di situlah pertumbuhan bermula.
Di tengah semua itu, ada satu hal yang kerap luput disadari: semesta tidak hanya bergerak di luar diri kita, tetapi juga merespons apa yang ada di dalam.
Pasrah yang lahir dari keputusasaan akan terasa berat, seperti perahu yang kehilangan arah di tengah arus. Namun pasrah yang tumbuh dari penerimaan—yang tetap menjaga niat, harapan, dan usaha—akan menjadikan arus sebagai kawan perjalanan.
Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang mengendalikan sungai, melainkan belajar mengemudi di dalamnya.
Kita adalah perahu itu.
Kadang kita melewati jeram—air bergelora, batu-batu menghadang, dan arah terasa tak menentu. Di situlah kita diuji: apakah kita akan panik, atau belajar membaca arus.
Kadang pula kita tiba di bagian yang tenang—air mengalir perlahan, langit terpantul jernih di permukaan. Di situlah kita diberi ruang untuk bernapas, untuk mensyukuri perjalanan, sebelum kembali melanjutkan.
Hikmah dari pergerakan semesta bukanlah tentang menghindari badai, melainkan memahami bahwa setiap gelombang memiliki maksudnya.
Bahwa setiap tikungan sungai tidak pernah sia-sia.
Dan bahwa, sejauh apa pun perjalanan ini terasa, kita tidak pernah benar-benar diam—kita selalu sedang dibawa menuju sesuatu yang lebih luas, lebih dalam, dan mungkin, lebih bermakna.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang sampai secepat mungkin.
Melainkan tentang bagaimana kita tetap utuh—menjaga arah, menjaga hati—di tengah arus yang tak pernah berhenti.(Feb)

