spot_img
BerandaJelajah“Menjadi Berguna: Antara Usia yang Bertambah dan Keberanian untuk Berubah”

“Menjadi Berguna: Antara Usia yang Bertambah dan Keberanian untuk Berubah”

Pada akhirnya, menjadi berguna adalah perjalanan tanpa garis akhir. Ia menuntut kesediaan untuk terus mengosongkan diri, belajar ulang, dan bertumbuh kembali. Karena dalam hidup, berhenti berubah bukan berarti menemukan kestabilan—melainkan perlahan kehilangan makna.

LESINDO.COM – Di sebuah sore yang lengang, waktu seakan berjalan tanpa suara. Jarum jam tetap bergerak, usia bertambah, tetapi tidak semua orang benar-benar tumbuh. Ada yang sekadar menua—diam di tempat yang sama, dengan cara berpikir yang tak pernah diperbarui. Di titik itulah, sebuah pertanyaan sunyi muncul: apakah bertambahnya usia otomatis membuat seseorang menjadi lebih berguna?

Kutipan itu seperti cermin yang jujur. Ia tidak menilai manusia dari gelar, jabatan, atau harta yang menumpuk, melainkan dari satu hal yang sering diabaikan—kemauan untuk berubah. Dalam dunia yang terus bergerak, kegunaan seseorang tidak lagi diukur dari apa yang dimiliki, tetapi dari seberapa jauh ia mampu beradaptasi, belajar, dan memperbaiki diri.

Perubahan, dalam konteks ini, bukan sesuatu yang gemuruh. Ia sering hadir dalam bentuk kecil: keberanian mengakui kesalahan, kesediaan mendengar sudut pandang orang lain, atau keputusan sederhana untuk meninggalkan kebiasaan buruk. Namun justru dari hal-hal kecil itulah, arah hidup perlahan bergeser. Seseorang yang mau belajar dari pengalaman—termasuk kegagalannya—akan tumbuh lebih dalam, bukan sekadar lebih tua.

Sebaliknya, stagnasi adalah jebakan yang halus. Ia terasa nyaman, bahkan menenangkan. Tidak ada tuntutan untuk berubah, tidak ada risiko untuk gagal. Tetapi di balik kenyamanan itu, perlahan terjadi pengikisan makna. Pola pikir mengeras, empati menipis, dan kemampuan beradaptasi melemah. Pada akhirnya, seseorang bisa hadir secara fisik di tengah masyarakat, tetapi kehilangan daya guna secara sosial maupun emosional.

Fenomena ini tidak mengenal usia. Ada yang sudah lanjut usia tetapi tetap terbuka, rendah hati, dan terus belajar. Kehadirannya menjadi penyejuk, penuh kebijaksanaan. Namun ada pula yang masih muda, tetapi merasa cukup dengan apa yang sudah diketahui. Enggan belajar, cepat puas, dan menolak perubahan. Di sinilah kutipan itu seperti kritik sosial yang halus namun tajam: ketidakbergunaan bukan soal umur, melainkan soal sikap.

Usia sejatinya adalah modal, bukan batas. Ia membawa akumulasi pengalaman yang, jika diolah dengan kesadaran, dapat menjadi sumber kebijaksanaan. Orang yang terus berubah akan tetap relevan—tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi lingkungan di sekitarnya. Ia mampu memberi solusi, bukan sekadar komentar. Ia hadir sebagai bagian dari jawaban, bukan bagian dari masalah.

Pada akhirnya, menjadi berguna adalah perjalanan tanpa garis akhir. Ia menuntut kesediaan untuk terus mengosongkan diri, belajar ulang, dan bertumbuh kembali. Karena dalam hidup, berhenti berubah bukan berarti menemukan kestabilan—melainkan perlahan kehilangan makna.

Dan mungkin, di tengah dunia yang terus bergerak ini, satu-satunya cara untuk tetap hidup sepenuhnya adalah dengan terus menjadi manusia yang bersedia berubah.(Gen)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments