LESINDO.COM – Tidak semua luka meninggalkan darah.
Sebagian hanya membekas di dada, menetap diam-diam, lalu mengajarkan seseorang cara bertahan.
Pagi itu, seorang perempuan paruh baya duduk di halte bus kota. Matanya menerawang, seolah sedang menghitung tahun-tahun yang telah ia lalui. Rambutnya mulai memutih, bajunya sederhana, tangannya menggenggam tas lusuh yang sudah menemani entah berapa musim. Di balik kesunyian wajahnya, tersimpan kisah panjang tentang jatuh, bangkit, kehilangan, dan bertahan.
Ia bukan siapa-siapa.
Namun, seperti kebanyakan manusia, ia telah melewati hari-hari yang nyaris meruntuhkan harapannya.
Setiap orang memiliki cerita yang tak pernah dituliskan dalam biodata hidupnya: kegagalan yang tidak dirayakan, tangis yang tidak terdengar, dan ketakutan yang disembunyikan di balik senyum. Kita sering lupa, bahwa diri kita hari ini adalah hasil dari ribuan keputusan untuk tidak menyerah, meski dunia tak selalu ramah.
Menghargai diri sendiri bukan berarti memuja kehebatan, melainkan mengakui bahwa kita masih berdiri, meski pernah ingin runtuh.
Jejak yang Tak Terlihat
Banyak orang memandang masa lalu hanya sebagai beban. Padahal, di sanalah jejak kekuatan itu bersemayam. Luka-luka lama bukan sekadar kenangan pahit, tetapi bukti bahwa kita pernah bertarung dan tidak sepenuhnya kalah.
Ada hari-hari ketika hidup terasa seperti lorong sempit tanpa pintu keluar. Ketika doa terasa menggantung, ketika usaha seolah tak membuahkan hasil. Namun entah bagaimana, pagi tetap datang, napas tetap berhembus, dan kaki masih melangkah. Dari situlah kekuatan itu tumbuh—bukan dari sorak sorai, melainkan dari keheningan yang memaksa kita bertahan.
Kita jarang memberi diri sendiri penghargaan atas hal-hal kecil: bangun di pagi hari, kembali mencoba, memaafkan diri atas kesalahan yang lalu. Padahal, justru di sanalah keberanian itu hidup—di dalam hal-hal sederhana yang sering kita abaikan.
Belajar Berdamai
Menghormati diri sendiri adalah keberanian untuk berdamai dengan masa lalu tanpa mengingkarinya. Bukan menutup luka, tetapi merawatnya agar tidak kembali bernanah. Bukan melupakan kegagalan, tetapi mengubahnya menjadi guru yang membimbing langkah.
Di tengah budaya yang gemar membandingkan, kita kerap menilai diri dari pencapaian orang lain. Kita lupa bahwa setiap perjalanan memiliki tempo sendiri. Tidak semua harus tiba bersamaan. Tidak semua harus sama.
Menghargai diri sendiri berarti berhenti memukul diri dengan standar yang tidak kita pilih.
Menyalakan Harapan
Di dalam diri setiap manusia, ada cahaya kecil yang tak pernah benar-benar padam. Ia mungkin meredup oleh lelah, diselimuti kecewa, namun tidak pernah lenyap. Cahaya itu adalah harapan—yang tumbuh dari kesadaran bahwa kita telah melewati begitu banyak hal yang dulu terasa mustahil.
Ketika kita menoleh ke belakang, bukan untuk terjebak, melainkan untuk menyadari sejauh apa kita telah berjalan, di sanalah keyakinan itu lahir. Bahwa masa depan, seberat apa pun, masih bisa dihadapi dengan keberanian yang sama.
Menghormati perjalanan sendiri adalah bentuk syukur paling sunyi.
Ia tidak bising, tidak dipamerkan, tetapi menumbuhkan kekuatan yang kokoh.
Dan dari sanalah, manusia belajar:
bahwa dirinya layak dihargai,
bahwa hidupnya bermakna,
dan bahwa harapan selalu menemukan jalan untuk menyala kembali. (mac)

