LESINDO.COM – Bukan karena bosan. Bukan pula karena lelah yang tak tertahankan. Rasa kantuk yang datang diam-diam saat duduk di dekat seseorang yang sangat kita cintai sering kali disalahpahami sebagai kemalasan. Padahal, menurut psikologi, justru di situlah tubuh sedang memberi sinyal paling jujur: aku merasa aman.
Dalam kehidupan yang serba waspada, otak manusia terbiasa hidup dalam mode siaga. Ia terus memindai ancaman—dari tekanan pekerjaan, kecemasan sosial, hingga ketidakpastian masa depan. Namun, ketika berada di dekat orang yang benar-benar dipercaya, sistem itu perlahan diturunkan. Psikolog menyebutnya sebagai pergeseran dari mode bertahan hidup menuju mode pemulihan.
Rasa aman emosional memainkan peran kunci. Saat otak mengenali keakraban, kepercayaan, dan kenyamanan, sistem saraf parasimpatis mengambil alih. Detak jantung melambat, napas menjadi lebih dalam, dan tubuh bersiap untuk beristirahat. Dalam keadaan seperti itu, kantuk bukanlah tanda kelemahan—melainkan tanda bahwa tubuh akhirnya boleh melepas penjagaan.
Ikatan emosional yang mendalam juga memicu pelepasan oksitosin, hormon yang kerap disebut sebagai hormon kasih sayang. Oksitosin bekerja menurunkan kadar kortisol, hormon stres yang menjaga otak tetap waspada. Ketika kortisol mereda, pikiran tak lagi sibuk mengawasi sekitar. Duduk diam di samping orang tercinta pun terasa seperti berada di ruang aman yang sunyi—dan dari sanalah kantuk perlahan muncul.
Dari sudut pandang neurologi, cinta yang sehat menenangkan hiruk-pikuk mental. Otak berhenti bekerja berlebihan, berhenti mencari ancaman, dan memberi ruang bagi sinyal kelelahan alami yang selama ini tertahan. Respons ini mirip dengan bayi yang tertidur pulas di pelukan pengasuh tepercaya—bukan karena lemah, tetapi karena merasa dilindungi.
Psikologi memandang fenomena ini sebagai bagian dari regulasi emosional dan ikatan batin. Mengantuk di dekat seseorang yang dicintai bukan pertanda kurangnya energi, melainkan bukti bahwa sistem saraf mempercayai kehadiran orang tersebut. Di dunia yang sering menuntut kita untuk selalu siaga, rasa kantuk itu justru menjadi kemewahan: tanda bahwa ada tempat—dan seseorang—di mana kita boleh berhenti sejenak, menurunkan kewaspadaan, dan beristirahat sepenuh hati.(Mad)

