LESINDO.COM – Dalam lanskap pemikiran Islam, nama Imam Syafi’i bukan sekadar penanda otoritas keilmuan, melainkan juga cermin kejernihan jiwa. Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana berpikir, tetapi juga bagaimana merendahkan hati di hadapan kebenaran—bahkan ketika kebenaran itu datang dari orang lain.
Di tengah riuhnya dunia yang gemar mengukur kecerdasan dari banyaknya kata dan panjangnya perdebatan, Imam Syafi’i justru mengajak kita menepi. Ia seperti berbisik pelan: akal yang sejati tidak tumbuh dari keinginan untuk selalu benar, melainkan dari keberanian untuk mengakui bahwa diri ini bisa keliru.
Di situlah batas halus antara kerendahan hati dan keangkuhan intelektual mulai tampak.
Kita sering menjumpai, dalam percakapan sehari-hari, bagaimana kesalahan tidak lagi dipandang sebagai ruang belajar, melainkan ancaman terhadap harga diri. Orang-orang berlomba menyusun argumen, memperkuat alasan, bahkan memutarbalikkan fakta—semata agar tampak tidak bersalah. Padahal, di balik semua itu, ada ego yang diam-diam sedang membangun tembok, mengurung jiwa dalam ilusi kebenaran yang rapuh.
Sebaliknya, mereka yang berani berkata “saya keliru” justru sedang membebaskan dirinya.
Mengakui kesalahan bukanlah tanda kekalahan. Ia adalah bentuk kemenangan batin yang sunyi—kemenangan atas dorongan ego yang ingin selalu unggul. Dalam pengakuan itu, ada kerendahan yang tidak merendahkan, ada kejujuran yang justru meninggikan martabat.
Imam Syafi’i, dalam kebijaksanaannya, seakan mengingatkan bahwa manusia tidak diukur dari seberapa jarang ia salah, melainkan dari bagaimana ia bersikap saat kesalahan itu datang. Sebab pada akhirnya, kekhilafan adalah bagian dari kodrat, tetapi kesediaan untuk meminta maaf adalah pilihan yang mencerminkan kualitas jiwa.
Di titik itulah, akal dan hati bertemu.
Kejernihan pikiran tidak lagi berdiri sendiri sebagai menara logika, melainkan berpadu dengan kelembutan rasa. Lahirlah kebijaksanaan yang tidak membutuhkan pengakuan, tidak haus pembenaran, dan tidak sibuk mencari panggung. Ia cukup hidup dalam diam—tenang, namun menguatkan.
Maka, mungkin yang perlu kita renungkan bukan lagi seberapa sering kita benar, tetapi seberapa lapang kita menerima bahwa kita bisa salah. Karena di sanalah, seperti yang diajarkan Imam Syafi’i, ilmu menemukan maknanya yang paling dalam: bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk membentuk manusia yang lebih utuh.(Hib)

