Oleh: Urangayu
LESINDO.COM – Pagi itu, langit belum sepenuhnya terang ketika Arman mendorong motornya yang mogok di tikungan kampung. Tangannya kotor oleh oli, matanya sembab oleh kurang tidur. Semalam ia hampir tak terpejam, memikirkan cicilan yang jatuh tempo, anak yang harus membayar uang sekolah, dan ibunya yang mulai sering lupa meletakkan kacamata. Hidup, bagi Arman, terasa seperti lembar soal yang tak pernah selesai dijawab.
Ia bukan sarjana dengan gelar panjang di belakang nama. Dunia mungkin menilainya dari selembar ijazah yang tak seberapa. Namun hidup—seperti guru yang keras kepala—mengujinya dengan cara yang tak pernah bisa ia tebak. Dan setiap pagi, tanpa upacara kelulusan, Arman kembali duduk di bangku tak kasatmata bernama “ketangguhan”.
Di gang sempit tempat ia tinggal, hampir semua orang punya soal ujian masing-masing. Bu Sari, janda dua anak, diuji oleh kemiskinan yang mencekik. Setiap hari ia menghitung receh hasil jualan gorengan, berharap cukup untuk membeli beras dan membayar listrik. Sementara itu, Pak Darto—pemilik toko bangunan paling besar di kecamatan—justru bergulat dengan kesepian. Rumahnya luas, mobilnya dua, tapi meja makannya lebih sering kosong dari suara tawa.
Hidup, rupanya, tak pernah menyamakan pertanyaan.
Kita sering tergoda menyontek kehidupan orang lain. Melihat kesuksesan yang tampak di permukaan, lalu merasa tertinggal. Padahal, soal yang mereka hadapi tak pernah sama dengan soal kita. Ada yang ditempa oleh api kemiskinan hingga menjadi baja yang keras. Ada yang dipoles oleh kesepian hingga menjadi cermin yang jernih. Semua dibentuk oleh panas yang berbeda.
Arman pernah berada di titik paling rapuh: ketika usaha kecilnya bangkrut dan tabungannya habis untuk menutup utang. Ia merasa gagal—seolah dunia sedang menertawakan ketidakmampuannya. Namun di ruang hening itulah ia belajar satu hal yang tak pernah diajarkan di sekolah: bangkit bukan soal gengsi, melainkan soal keberanian mengakui luka.
“Yang paling berat itu bukan kehilangan uang,” katanya suatu sore, “tapi kehilangan percaya diri.”
Keraguan pada diri sendiri adalah ujian yang tak kasatmata, namun paling melelahkan. Ia menggerogoti pelan-pelan, membuat langkah terasa goyah. Banyak orang tampak baik-baik saja di luar, tetapi di dalamnya ada badai yang tak pernah reda.
Dalam dunia yang gemar mengukur kepintaran dari seberapa cepat kita menjawab, jarang ada ruang untuk mengakui, “Aku belum tahu.” Padahal kebijaksanaan justru lahir dari keberanian bertanya—pada diri sendiri, pada kegagalan, pada Tuhan, pada hidup.
Perih dan kegagalan bukanlah catatan merah yang harus disembunyikan. Ia adalah tinta yang menulis bab paling jujur dalam hidup manusia. Tanpa luka, kita mungkin tampak rapi seperti pajangan di etalase. Namun dengan luka yang dijahit oleh kesabaran, kita menjadi manusia yang berakar.
Di suatu malam yang sunyi, Arman duduk di teras rumahnya. Anak-anaknya sudah tertidur. Angin membawa suara daun bergesekan. Ia tak lagi memikirkan siapa yang lebih sukses darinya. Ia hanya memikirkan bagaimana esok hari bisa dijalani dengan lebih tenang. Di situlah ia menyadari: hidup memang tidak menyediakan kisi-kisi, tetapi ia memberi insting untuk bertahan dan hati untuk merasa.
Kita semua sedang bersekolah di universitas semesta. Tak ada toga, tak ada wisuda, tak ada gelar. Namun ada sesuatu yang lebih sunyi dan lebih mahal: ketenangan jiwa yang tumbuh dari keberanian menghadapi soal demi soal.
Dan mungkin, pada akhirnya, kebijaksanaan bukanlah tentang seberapa sedikit luka yang kita miliki, melainkan tentang bagaimana kita menenunnya menjadi makna.
Sebab manusia tidak dilahirkan untuk menjadi sempurna—ia dilahirkan untuk menjadi tangguh.

