LESINDO.COM – Orang Jawa lama sudah khatam satu pelajaran yang kini jarang laku: meneng ora ateges kalah. Diam bukan tanda habis akal, melainkan cara menjaga tata batin agar tidak ikut rusak oleh keributan. Dalam dunia yang gemar adu swara, orang yang memilih menepi sering disalahpahami—dikira tak berdaya, padahal ia sedang ngempet hawa nafsu.
Tidak semua lara kudu dibales. Leluhur sudah memberi isyarat lewat pepatah sederhana tapi tajam: sura dira jayaningrat, lebur dening pangastuti. Kekerasan, amarah, dan dendam—sekuat apa pun—pada akhirnya akan luruh oleh welas asih dan kesabaran. Bukan karena welas asih itu lembek, tetapi karena ia bekerja lebih lama dan lebih dalam.
Orang bijak paham, membalas luka dengan luka hanya akan memperpanjang rantai semelang. Seperti menimba banyu nganggo keranjang, capeknya nyata, hasilnya nihil. Maka ia memilih meneng. Bukan meneng kosong, melainkan meneng sing waspada—diam yang sadar, diam yang eling.
Di situlah waktu diberi ruang. Wong Jawa percaya, wektu iku ora tau cidra. Waktu tak pernah salah alamat. Ia punya caranya sendiri membuka tabir, menyingkap niat, dan menempatkan setiap peristiwa pada takaran yang semestinya. Sing kesusu bakal kesrimpet; yang tergesa sering justru terpeleset oleh langkahnya sendiri.
Apa yang hari ini dipaksakan—pengakuan, pembenaran, bahkan simpati—besok bisa menjadi bahan tertawaan. Seperti padi muda yang berdiri tegak sambil pamer hijau, belum tentu isinya. Justru padi yang berisi memilih merunduk, sunyi, dan tidak merasa perlu menjelaskan dirinya.
Satir kehidupan orang Jawa bekerja tanpa teriak. Mereka yang paling ribut biasanya sedang kehilangan rasa. Ingin menang cepat, lupa menjaga unggah-ungguh. Ingin terlihat benar, tetapi tak sabar diuji oleh wektu lan laku. Padahal, hidup bukan panggung wayang semalam suntuk—ia panjang, berlapis, dan menuntut kesabaran dalang batin.
Keadilan, dalam pandangan Jawa, tidak selalu lahir dari reaksi spontan. Ia tumbuh dari keselarasan antara pikiran, ucapan, dan perbuatan—manunggaling cipta, rasa, lan karsa. Ketika seseorang setia pada nilai itu, ia tak perlu sibuk membela diri. Wong sing bener ora perlu rame; sing rame asring lagi golek bener.
Diam orang bijak bukan bentuk lari, melainkan tapa ing rame. Ia hidup di tengah hiruk-pikuk, tetapi tidak larut. Ia hadir, namun tidak terbawa. Seperti gunung yang tampak diam, padahal di dalamnya bekerja tenaga besar yang menjaga keseimbangan.
Dan ketika waktunya tiba, hidup akan berbicara sendiri. Tanpa pengeras suara. Tanpa klarifikasi. Tanpa balasan status. Kebenaran akan menemukan jalannya, sebagaimana banyu nemu segarane.
Di situlah orang bijak berdiri—utuh, ora kegores swara, ora retak dening prasangka. Dalam dunia yang gemar membalas, ia memilih menjaga batin. Sebab bagi wong Jawa, menang sejati bukan saat orang lain kalah, melainkan ketika diri sendiri tidak kehilangan jati. (Nang)

