spot_img
BerandaHumanioraMenemukan Manis di Balik Duri

Menemukan Manis di Balik Duri

Dari kesadaran itu lahir syukur yang tidak bergantung pada keadaan. Syukur yang tidak menunggu dunia menjadi ramah. Ia tumbuh karena seseorang telah menemukan “manis” di dalam dirinya sendiri—sebuah rasa cukup yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dipinjam, dan tidak bisa diwariskan.

LESINDO.COM – Di sebuah pasar kecil yang hiruk oleh teriakan pedagang, seorang lelaki tua tampak sibuk memilih durian. Tangannya penuh bekas luka—goresan lama yang menghitam, tanda bahwa ia telah lama bergelut dengan buah berduri itu. Namun matanya berbinar ketika satu durian dibelah. Aroma manisnya mengalahkan rasa perih di telapak tangannya.

“Kalau sudah tahu isinya, durinya tak lagi menakutkan,” katanya lirih.

Kalimat itu seakan menjadi perumpamaan kehidupan: manusia sering terjebak pada duri keadaan—penderitaan, kegagalan, kehilangan—hingga lupa bahwa di balik semua itu tersimpan isi yang manis. Kita sibuk menghindari luka, tetapi lupa mencari makna.

Dalam perjalanan batin manusia, makrifat adalah saat ketika seseorang tidak lagi sekadar mengetahui, tetapi benar-benar melihat. Bukan dengan mata kepala, melainkan dengan mata hati—mata ketiga—yang mampu menembus lapisan-lapisan luar diri. Di sanalah seseorang menyadari bahwa di dalam dirinya tersimpan jejak kesempurnaan Tuhan, bukan sebagai klaim, tetapi sebagai kesadaran yang menundukkan.

Makrifat bukanlah puncak kebanggaan, melainkan dasar kerendahan hati. Ia tidak menjadikan manusia merasa “sudah sampai”, justru membuatnya semakin sadar betapa kecil dirinya di hadapan Yang Maha Luas. Ia melihat bahwa hidup bukan tentang menghapus duri, tetapi memahami mengapa duri itu ada.

Banyak orang mencari Tuhan ke luar—di bangunan megah, dalam simbol, dalam keramaian ritual—namun lupa bahwa perjalanan terpanjang justru menuju ke dalam. Mengenal diri bukanlah pekerjaan sehari dua hari. Ia adalah jalan menanjak yang sunyi, penuh kerikil, dan kadang menemui jalan buntu. Di situlah manusia belajar berhenti, bersandar, dan mengakui keterbatasannya.

Ketika seseorang mulai “melihat” isi di dalam dirinya, penderitaan tidak lagi menjadi musuh. Luka tetap terasa, tetapi tidak lagi memerintah batin. Ia tahu, sebagaimana durian yang harus dibuka dengan tangan yang berani terluka, kehidupan pun harus dijalani dengan kesadaran yang siap menerima perih.

Dari kesadaran itu lahir syukur yang tidak bergantung pada keadaan. Syukur yang tidak menunggu dunia menjadi ramah. Ia tumbuh karena seseorang telah menemukan “manis” di dalam dirinya sendiri—sebuah rasa cukup yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dipinjam, dan tidak bisa diwariskan.

Makrifat mengajarkan bahwa mengenal Tuhan dimulai dari mengenal diri. Dan mengenal diri dimulai dari keberanian untuk jujur pada luka, tanpa tenggelam di dalamnya. Karena pada akhirnya, bukan duri yang menentukan hidup kita, melainkan seberapa dalam kita mampu melihat isinya. (Aqi)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments