spot_img
BerandaBudayaMenari di Tengah Industri: Para Penari Bali Menjaga Tradisi di Arus Pariwisata

Menari di Tengah Industri: Para Penari Bali Menjaga Tradisi di Arus Pariwisata

Di sektor pariwisata, seni tari berperan ganda. Ia menjadi atraksi yang menggerakkan ekonomi lokal—dari penari, penabuh gamelan, perias, hingga penjahit kostum—sekaligus identitas budaya yang dijual kepada dunia. Namun relasi ini tidak selalu seimbang.

LESINDO.COM – Pariwisata Bali kembali bergeliat. Data Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mencatat kunjungan wisatawan—baik domestik maupun mancanegara—terus menunjukkan tren peningkatan pascapandemi. Hotel-hotel penuh, panggung pertunjukan kembali menyala, dan agenda seni kembali padat. Di tengah denyut industri inilah para penari Bali berdiri: sebagai pelaku budaya sekaligus pekerja pariwisata.

Di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK), Badung, pertunjukan tari digelar hampir setiap hari. Tarian Kecak, Legong, hingga Barong menjadi menu wajib bagi wisatawan. Namun, di balik kemegahan panggung dan tata cahaya modern, ada rutinitas panjang yang jarang terlihat publik.

“Latihan tetap jalan, meski tidak tampil,” kata Ni Luh Ayu, penari Legong berusia 27 tahun yang telah menari sejak sekolah dasar. “Kalau tidak latihan, badan terasa asing. Gerak itu harus dijaga, karena ini bukan sekadar hafalan, tapi rasa.”

Bagi Ayu dan banyak penari lain, tari bukan hanya ekspresi seni, melainkan bagian dari sistem sosial dan ekonomi Bali. Menurut catatan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, ribuan sanggar aktif tersebar di desa-desa adat, menjadi ruang regenerasi sekaligus penopang kegiatan upacara dan pariwisata.

Di sektor pariwisata, seni tari berperan ganda. Ia menjadi atraksi yang menggerakkan ekonomi lokal—dari penari, penabuh gamelan, perias, hingga penjahit kostum—sekaligus identitas budaya yang dijual kepada dunia. Namun relasi ini tidak selalu seimbang.

Di tengah dunia yang serba instan dan canggih, menjaga budaya adalah tugas suci. Jadilah tangan yang tetap merawat warisan leluhur, agar teknologi boleh maju, namun adab dan tradisi tetap menjadi ruh yang menghidupkan jati diri kita.”(mc)

“Wisatawan melihat tari selama 20–30 menit, tapi prosesnya bertahun-tahun,” ujar I Wayan Sutama, pengelola sanggar di Gianyar. “Kadang nilai yang diterima penari belum sebanding dengan kerja dan tanggung jawab budaya yang mereka emban.”

Sebagian penari mengaku harus membagi waktu antara latihan, pementasan, dan pekerjaan lain. Banyak yang bekerja di sektor perhotelan, restoran, atau menjadi instruktur tari lepas bagi wisatawan asing. Menari memberi kebanggaan, tetapi belum selalu menjamin keberlanjutan ekonomi.

Meski demikian, panggung-panggung pariwisata tetap menjadi ruang hidup bagi seni tari Bali. Di GWK, misalnya, jadwal pertunjukan yang rutin memberi kepastian tampil bagi penari muda. Bagi mereka, panggung ini bukan sekadar tempat bekerja, tetapi juga etalase budaya di hadapan publik global.

“Menari di sini tanggung jawabnya besar,” kata Komang Adi, penari Kecak. “Yang ditonton bukan hanya gerak, tapi Bali. Kalau salah, itu bukan salah pribadi, tapi bisa dianggap salah budaya.”

Konteks inilah yang membuat disiplin menjadi harga mati. Riasan tebal, kostum berat, dan cuaca terbuka tidak menyurutkan fokus para penari. Mereka dituntut tampil prima, bahkan ketika tubuh lelah atau jadwal padat. Dalam satu hari, seorang penari bisa tampil lebih dari sekali, dengan persiapan yang tidak singkat.

Di sisi lain, pariwisata juga membawa perubahan. Durasi tarian dipadatkan, alur cerita disederhanakan, dan beberapa elemen disesuaikan dengan selera penonton. Adaptasi ini kerap memicu perdebatan antara menjaga pakem dan memenuhi kebutuhan industri.

“Yang penting esensinya tidak hilang,” ujar Sutama. “Gerak boleh disingkat, tapi nilai dan etika tari harus tetap dijaga.”

Di tengah arus itu, regenerasi menjadi kunci. Banyak sanggar kini membuka kelas untuk anak-anak desa, memastikan tari tidak terputus oleh zaman. Orang tua mendorong anak-anaknya belajar menari bukan semata untuk panggung wisata, tetapi sebagai bagian dari pendidikan budaya.

Saat lampu pertunjukan padam dan wisatawan beranjak pergi, para penari kembali ke rutinitasnya. Kostum dilipat, riasan dibersihkan, tubuh dilemaskan dari ketegangan. Tidak ada tepuk tangan, tidak ada kamera. Yang tersisa adalah kesadaran bahwa esok hari, tari harus kembali dijaga.

Di Bali, pariwisata boleh datang dan pergi, tetapi tari harus tetap hidup. Dan di tubuh para penari yang tak kenal lelah dan enggan menyerah itulah, kebudayaan terus menemukan napasnya—di antara tuntutan industri dan kesetiaan pada akar tradisi. (Mde)

RELATED ARTICLES

Most Popular

Recent Comments