LESINDO.COM – Di zaman ketika perubahan diri bisa dikemas dalam unggahan carousel, memperbaiki diri sering kali lebih mirip pameran daripada perjalanan batin. Ada yang rajin membaca buku filsafat, tetapi hanya sejauh sampul dan kutipan. Ada yang mendadak religius, namun sebatas jam tayang prime time. Ada pula yang berbicara tentang kesadaran diri, sambil terus-menerus mengecek siapa yang menekan tombol suka.
Perbaikan diri pun beralih fungsi: dari laku sunyi menjadi proyek pencitraan.
Maka tak mengherankan jika banyak orang berubah bukan karena sadar, melainkan karena ingin diterima. Ingin dianggap dewasa. Ingin dipuji “berproses”. Ingin terlihat berbeda dari dirinya yang kemarin—meski sesungguhnya hanya berbeda di permukaan. Mereka berbenah bukan untuk menjadi lebih jujur, melainkan lebih layak ditonton.
Perubahan yang lahir dari motif semacam ini ibarat bangunan dekoratif: megah di fasad, rapuh di fondasi. Selama ada sorotan, ia tegak berdiri. Begitu lampu dipadamkan, ia runtuh oleh sunyinya sendiri. Apresiasi menjadi oksigen. Tanpanya, semangat megap-megap.
Di titik ini, memperbaiki diri kehilangan maknanya. Ia tidak lagi tentang kejujuran pada kekurangan, melainkan tentang strategi bertahan di tengah pasar penilaian publik.
Berbeda dengan mereka yang memilih jalan sepi. Orang-orang yang memperbaiki diri bukan untuk siapa pun, kecuali untuk dirinya sendiri. Mereka jarang mengumumkan perubahan. Tidak menagih pengakuan. Tidak merasa perlu menjelaskan versi baru dirinya kepada dunia.
Fokus mereka bergeser: bukan lagi membandingkan hidup dengan linimasa orang lain, melainkan menata ulang nilai-nilai yang selama ini dibiarkan berantakan. Mereka bekerja dalam diam—membaca tanpa perlu dipamerkan, belajar tanpa harus dibenarkan, berubah tanpa perlu disahkan oleh komentar siapa pun.
Perubahan semacam ini tidak dramatis. Tidak ada musik latar. Tidak ada sebelum-sesudah yang sensasional. Yang ada hanya konsistensi yang membosankan bagi penonton, namun menentukan bagi pelaku. Ia tumbuh dari keberanian mengakui kelemahan, sesuatu yang tidak pernah laku dijual di etalase media sosial.
Ironisnya, justru dari proses yang tidak mencari sorotan itulah pengaruh lahir.
Orang-orang mulai memperhatikan, bukan karena diarahkan, tetapi karena merasakan. Ada ketenangan yang tidak dibuat-buat. Ada integritas yang tidak diumumkan. Ada arah hidup yang tidak perlu dijelaskan panjang-panjang. Tanpa pidato, tanpa slogan, tanpa ajakan eksplisit.
Mereka diikuti bukan karena paling lantang berbicara tentang perubahan, melainkan karena hidupnya sendiri telah berubah.
Satir terbesar dari perbaikan diri hari ini adalah keyakinan bahwa perubahan harus terlihat agar sah. Bahwa proses harus dibagikan agar bermakna. Padahal, laku paling menentukan justru sering berlangsung di ruang-ruang yang tidak bisa dipotret: ketika seseorang menahan ego, memilih diam daripada membalas, mengakui salah tanpa pembelaan, atau konsisten berbuat benar meski tak ada yang mencatat.
Kepemimpinan paling kuat, pada akhirnya, bukan yang paling sering mengutip teori, tetapi yang hidupnya menjadi rujukan. Bukan yang paling keras menyuarakan nilai, tetapi yang diam-diam setia menjalaninya.
Dan semua itu bermula dari satu keputusan sederhana—yang kini terasa semakin langka:
memperbaiki diri bukan demi tepuk tangan, bukan demi citra, bukan demi diterima,
melainkan demi menjadi manusia yang lebih utuh, meski tak pernah viral.(may)

